Kamis | 27 Juni 2019
Masyarakat Tionghoa Panipahan Galang Dana Bantu Korban Kebakaran
Masyarakat Tionghoa Panipahan melakukan penggalangan dana korban kebakaran,.


Rabu | 26 Juni 2019
Bupati Rohil Apresiasi Peran Tokoh Tionghoa
Bupati Rokan Hilir (Rohil), H Suyatno AMp, mengapresiasi peran tokoh.


Minggu | 23 Juni 2019
Melihat Indahnya Toleransi Antarumat Beragama di Kelenteng Ancol
BANYAK tempat di Jakarta yang sangat unik dan melambangkan indahnya toleransi.

Rubrik : politik | Rabu , 15 Mei 2019
Data BPN: Prabowo Menang 54,24 Persen
Editor : wisly | Penulis: vivanews
ilustrasi

JAKARTA – Pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno bersama dengan badan pemenangan mereka, menolak hasil perhitungan suara pemilu presiden yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Ketua BPN Prabowo-Sandiaga, Djoko Santoso, meminta perhitungan dihentikan. BPN katanya, telah mengirim surat kepada KPU untuk meminta dan mendesak agar menghentikan sistem perhitungan suara di KPU. Sebab pemilu telah berjalan curang.

Sementara Sandiaga Uno, menyinggung persoalan politik uang hingga pejabat yang diduga terlibat memenangkan calon tertentu. Dia juga curiga ada dugaan pelibatan pejabat tinggi BUMN memenangkan paslon tertentu.

"Penjuru tanah air, masyarakat disuguhi cerita tsunami amplop politik uang yang dikawal aparat keamanan. Rakyat sebagai pemilih kedaulatan dipaksa atau setengah dipaksa memilih yang memberikan iming-iming uang," kata Sandi.

Sandi menyebut ada juga kepala desa dan aparat yang digerakkan pasangan calon tertentu dengan ancaman. Kemudian  Daftar Pemilih Tetap yang bermasalah dan tak ada solusi. Kotak suara mudah dijebol, dibakar, hingga terkena banjir. Sandi mengkritisi kesalahan dalam situng KPU. Ada puluhan ribu kekeliruan, tapi tetap dipergunakan dengan alasan situng bukan untuk tentukan hasil akhir.


Hal yang sama juga disampaikan Prabowo Subianto. Dia akan terus memperjuangkan keadilan demi rakyat Indonesia. Disinggung juga soal banyaknya kecurangan yang terjadi dalam pemilu 2019. Prabowo akan mengumpulkan tim ahli dan tim hukum, dan rencananya dia akan menulis surat wasiat apabila terjadi kemungkinan terburuk.

Menurut Prabowo, Pemerintah tidak perlu menakut-nakuti rakyat dengan tuduhan makar. Sebab diantara rakyat yang memperjuangkan keadilan, terdapat Jenderal yang dahulu membela NKRI sehingga tidak mungkin dituduh makar.

"Enggak usah nakut-nakuti kita dengan makar-makar. Orang-orang ini bukan makar, jenderal-jenderal ini sudah mempertaruhkan nyawanya sejak lama, mereka tidak makar. kita membela bangsa dan negara republik indonesia. Jangan takut-takuti kita dengan senjata yang diberikan oleh rakyat," ujarnya

Prabowo masih menunggu itikad baik dari pemerintah dan penyelenggara pemilu untuk menyadari kesalahannya. Menurut Prabowo, saat ini kedaulatan ada di tangan rakyat.

Sementara itu, berdasarkan hasil pengumpulan data form C1 oleh tim IT BPN Prabowo Sandi, dipastikan kalau pasangan kubu 02 menang dengan raihan suara 54,42 persen.

Menurut anggota tim IT BPN Prabowo-Sandi, Laode Kamaludin, berdasarkan data tanpa kecurangan mereka miliki, pada jam 12.00 WIB, Selasa 14 Mei 2019, pasangan Prabowo-Sandi telah mengumpulkan 48 juta suara. Sementera Jokowi memperolah 44,24 persen atau sekitar 39 juta suara.  

Angka itu berasal dari data total TPS 51 persen lebih. Ia mengklaim bagi ahli statistik angka ini sudah valid. Ia menambahkan data C1 yang dihitungnya sudah diverifikasi dan divalidasi. Meski masih berjalan, tapi bisa dipertanggungjawabkan.

Jubir BPN Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan kalau ada yang menuding ini hoax, maka ia menantang adu data.

"Jadi kalau ada yang bilang hoaks, ini waktunya kita berdebat, adu data jangan sampai ini semua ditangkap karena dianggap menebar hoaks," kata Dahnil.*




Berita Lainnya