Minggu | 15 September 2019
Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya Kumpulkan 103 Kantong Darah
Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya Jalan Bukit Barisan III, Pekanbaru.


Sabtu | 14 September 2019
5000 Lampion Hiasi Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya
Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya Jalan Bukit Barisan III, Pekanbaru,.


Jumat | 13 September 2019
Dihadiri Wagubri, Festival Kue Bulan di Pekanbaru Dipadati Warga
Meski diselimuti kabut asap, perayaan Festival Lampion Zhong Qiu di Jalan.

Rubrik : huawen
PSMTI Pekanbaru Gelar Perayaan Budaya Duan Wu Jie
Editor : wisly | Penulis: rls
Senin , 10 Juni 2019
foto bersama

PEKANBARU - Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Pekanbaru menggelar acara perayaan budaya Duan Wu Jie dengan makan kue cang bersama dan lomba menegakkan telur ayam pada Jumat (7/6) siang. Acara bertempat di sekretariat PSMTI Riau yang berada di kawasan jalan Setia Budi ujung.

Duan Wu Jie atau Dumplings Festival, atau disebut juga Dragon Boat Festival jatuh setiap bulan ke-5 hari ke-5 berdasarkan lunar calender (Imlek), merupakan salah satu perayaan penting dalam budaya Tionghoa.

Perayaan tersebut berasal dari kisah seorang pejabat patriotik sekaligus seorang penyair yang bernama Qi Yuan (sekitar 340 – 278 SM), yang menenggeramkan dirinya ke Sungai Milou, karena kesedihannya yang mendalam atas hancurnya negeri Chu dan wafatnya kaisar yang meminpin negeri tersebut.

“Kisah Qi Yuan menjadi teladan bagi kita untuk mencintai negeri kita Indonsia,” ujar Lie Guan Hai, Wakil Ketua PSMTI Riau yang membidangi seni budaya didampingi oleh tokoh masyarakat Tionghoa Riau Hartono Sudi, Stephen Sanjaya dan Ket Tjing di depan komunitas Tionghoa yang hadir.

Lomba Menegakkan Telur Ayam
Ada pemandangan yang unik usai acara menyantap kue cang (bakcang) dalam beberapa varian isi dan rasa, yaitu lomba menegakkan telur ayam mentah. Puluhan peserta lomba yang didominasi generasi muda Tionghoa berusaha menegakkan telur-telur ayam di atas lantai keramik polos yang terpasang di depan sekretariat PSMTI Riau tersebut.

Ada peserta lomba yang dapat menegakkan telur ayam sebanyak 3 buah dalam waktu lima menit, namum ada juga yang belum berhasil.

“Acara lomba itu kita gelar sebagai salah satu cara untuk melestarikan budaya Tionghoa,” ujar sekjen PSMTI Riau, Toni usai menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba.*

 




Berita Lainnya