|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

BENGKALIS - Kantong semar merupakan tumbuhan karnivora yaitu tumbuhan pemakan serangga dan hewan-hewan kecil. Kantong Semar merupakan tanaman yang dikategorikan paling langka, salah satu spesies yang membutuhkan prioritas tinggi untuk segera dikonservasi.
Atas dasar itu, PT. Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU Sungai Pakning gandeng Koperasi Tunas Makmur untuk melakukan konservasi Kantong Semar.
Kantong Semar tumbuh didalam Kawasan wisata Arboretum Gambut yang merupakan salah satu bagian program CSR Pertamuna RU II Sei Pakning.
Selain menjadi tempat Konservasi Kantong Semar, daerah tersebut menjadi destinasi wisata, tidak hanya bagi masyarakat Bengkalis, masyarakat dari luar daerah juga banyak yang datang untuk melihat tumbuhan langka, Kantong Semar. Tidak jarang tempat ini juga menjadi pusat study bagi pelajar dan mahasiswa di Indonesia, Riau khususnya.
Samsul Ketua Kelompok Koperasi Tunas Makmur mengungkapkan, Kantong Semar tumbuh subur di Arboretum Gambut Desa Kampung Jawa dengan luas area Konservasi sekitar 1,1 hektar.
"Ada sekitar 7 spesies Nephentes. Dua diantaranya berstatus dilindungi yakni Nephentes Sumatrana, Nephentes Spectabilis," kata Samsul, Senin (7/11/2022).
Samsul mengapresiasi atas kepedulian Pertamina Sei Pakning terhadap masyarakat melalui bantuan dan pendampingan kepada Kelompok Koperasi Tunas Makmur.
"Terima kasih kepada Pertamina atas bantuan yang diberikan. Semoga Pertamina terus memberikan pembinaan kepada kami sehingga bisa mengembangkan apa yang sudah diberikan ini," ungkap Samsul.
Dijelaskan Samsul, sebelum ada pendampingan dari Pertamina, daerah ini dikenal sebagai kampung neraka, pasalnya sejak 2012 hingga 2015 menjadi pusat kebakaran hutan dan lahan terluas di Sei Pakning.
Melalui program kemitraan Pertamina, gelar Kampung Neraka sudah tidak ada lagi, daerah ini kini menjadi kawasan eduwisata terpadu yang dikelola Koperasi Tunas Makmur, diharapkan mampu memberikan multiplyer effect.
"Sejak menjadi kawasan eduwisata banyak wisatawan yang datang. Saat musim libur, pengunjung bisa mencapai 1000 orang dengan pendapatan sebanyak Rp.10.000.000 per bulan," ungkap Samsul.
Dikatakan Samsul, Pertamina Sei Pakning mendukung penuh keberadaan Arboretum Gambut Marsawa sebagai pusat eduwisata berbasis lingkungan yang terbesar di Provinsi Riau, melalui program kemitraannya.
“Arboretum Gambut Marsawa lambat laun menjadi Laboratorium bagi siswa-siswi Sekolah Dasar untuk mempelajari lebih lanjut karakteristik lahan gambut, penanaman pohon, dan cara mencegah terjadi kebakaran di lahan gambut. Selain itu, lokasi ini juga menjadi objek penelitian skripsi, tesis, serta disertasi bagi mahasiswa," pungkasnya.
Hingga lahirlah Arboretum Gambut Marsawa, yang kini telah menjadi lokasi konservasi tanaman khas gambut serta pembibitan Kantong Semar. Bagi siswa-siswa Sekolah Dasar di Kecamatan Bukit Batu, lokasi ini menjadi tujuan outbound Sekolah Dasar dengan materi Pendidikan Cinta Lingkungan Dini dan Pengenalan Ekosistem Gambut.
Pengembangan program di Arboretum Gambut sebagai sarana eduwisata, mendapat dukungan dari Pertamina, melalui program tanggung jawab sosialnya. Hal itu diungkapkan oleh Area Manager Communication, Relations, & CSR KPI RU II, Nurhidayanto.
Arboretum Gambut Marsawa lambat laun menjadi Laboratorium bagi siswa-siswi Sekolah Dasar untuk mempelajari lebih lanjut karakteristik lahan gambut, penanaman pohon, dan cara mencegah terjadi kebakaran di lahan gambut. Selain itu, lokasi ini juga menjadi objek penelitian skripsi, tesis, serta disertasi bagi mahasiswa yang memiliki topik penelitian terkait biodiversitas di lahan gambut,” kata Nurhidayanto.
Lanjutnya, program yang dilaksanakan Pertamina Kilang Unit Produksi Sei Pakning bersama masyarakat mewujudkan Arboretum Gambut sebagai implementasi dari salah satu Sustainable Development Goals (SDGs) ke-15 yakni menjaga ekosistem darat dan SDGs ke-8 pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Praktek ini juga sejalan dengan upaya perusahaan dalam melindungi keanekaragaman hayati, dan sejalan dengan praktek ESG (Environment, Social and Governance) yang menjadi komitmen perusahaan.
Di masa pandemi, Arboretum Gambut sebagai sarana pendidikan dan penelitian keragaman hayati, terus beradaptasi agar keberadaan Arboretum Gambut Marsawa bisa dimanfaatkan untuk kepentingan edukasi dan penelitian.
“Awal pandemi tahun 2020, Arboretum Gambut sempat ditutup. Kemudian setelah berdiskusi bersama masyarakat dibuka kembali, dengan membatasi kunjungan dan menerapkan protokol Covid-19. Kami juga menambahkan fasilitas Marsawa Cafe. Area terbuka sebagai tempat berdiskusi yang dilengkapi dengan kantin dan sarana promosi produk masyarakat.
"Belum lama ini, Arboretum Gambut Marsawa juga menjadi pusat kegiatan Research Grant yang diikuti oleh mahasiswa/i dari kampus-kampus di provinsi Riau. Selain menjadi lokasi penelitian, Arboretum Gambut juga menjadi sentra pembuatan pupuk kompos yang digunakan oleh para petani Nanas lahan gambut," tutup Nurhidayanto.*