Sabtu | 23 Mei 2020
Marga Zhang Riau Salurkan Sembako Lewat Koramil dan Polsek Senapelan
Membantu warga terdampak Covid-19 atau virus corona dilingkungan sekitar,.


Kamis | 21 Mei 2020
Tionghoa Peduli dan Pimpinan DPRD Pekanbaru Salurkan Sembako
Tionghoa Peduli Penanggulangan Covid-19 Riau menyalurkan 200 paket sembako.


Rabu | 20 Mei 2020
Gerakan 1000 Kantong Darah Ramadhan Raih Rekor MURI
Gerakan 1000 Kantong Darah Ramadhan tercatat di Museum Rekor-Dunia Indonesia.

Rubrik : pekanbaru
Anak Pengungsi Asing Bisa Masuk SD Negeri di Pekanbaru
Editor : wisly | Penulis: Delvi Adri
Kamis , 27 Juni 2019
ilustrasi

PEKANBARU - Tahun ini ratusan anak pengungsi di penampungan di bawah pengawasan Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru bisa  memperoleh akses pendidikan. Mereka diberi kesempatan untuk bisa belajar di beberapa SD negeri.

Data dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru, saat ini tercatat 1028 imigran di Kota Pekanbaru. 286 di antara imigran masih usia sekolah. 110 di antaranya berusia 7 tahun hingga 12 tahun. Artinya mereka sudah bisa masuk SD.

Sekolah untuk tempat mereka belajar akan disesuaikan lokasi penampungan. "Jadi mereka yang sudah bisa untuk belajar di SD, bisa ikut belajar tahun ini," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Abdul Jamal, Rabu (26/6).

Mereka nantinya ditempatkan di sekolah yang masih punya daya tampung. Jumlah yang belajar di SDN menyesuaikan kondisi masing-masing sekolah yang dekat penampungan imigran. "Jadi ditempatkan di SD yang masih kekurangan murid. Intinya menyesuaikan kondisi sekolah," jelasnya.

Disdik juga berkordinasi dengan Kesbangpol Pekanbaru dan Imigrasi terkait rencana ini. Mereka juga kordinasi dengan International Organization Migration (IOM) yang merupakan lembaga khusus imigran di bawah UNHCR. "Program ini diterapkan setelah ada izin serta rekomendasi dari Kemendikbud dan Kemenkumham RI," kata dia.

Meski memiliki kesempatan, mereka harus memenuhi sejumlah kriteria. Satu di antaranya memahami Bahasa Indonesia. "Mereka nantinya bakal belajar seperti kurikulum di Indonesia," jelasnya.

Jamal mengaku prihatin dengan kondisi anak imigran yang terpaksa meninggalkan negaranya. Mereka juga sudah bertahun-tahun di Pekanbaru.

Program ini dijalankan sebagai program kemanusiaan bagi imigran. "Nantinya diharapkan anak-anak imigran bisa menghabiskan waktu dengan hal positif," pungkas dia.*

 




Berita Lainnya