Minggu | 15 September 2019
Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya Kumpulkan 103 Kantong Darah
Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya Jalan Bukit Barisan III, Pekanbaru.


Sabtu | 14 September 2019
5000 Lampion Hiasi Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya
Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya Jalan Bukit Barisan III, Pekanbaru,.


Jumat | 13 September 2019
Dihadiri Wagubri, Festival Kue Bulan di Pekanbaru Dipadati Warga
Meski diselimuti kabut asap, perayaan Festival Lampion Zhong Qiu di Jalan.

Rubrik : huawen
Indahnya Kelenteng Sam Poo Kong di Semarang
Editor : wisly | Penulis: detik.com
Rabu , 10 Juli 2019
Kelenteng Sam Poo Kong

SEMARANG - Untuk pengalaman liburan yang luar biasa, coba berputar-putar di Semarang, Jawa Tengah. Kota ini begitu kaya dengan objek traveling.

Pertama, penasaran dengan patung Cheng Ho, mumpung di Semarang, bisa ketemu sama sang Laksamana Cheng Ho dan tidak harus jauh-jauh ke Tiongkok.

Patung yang berada di Kelenteng Sam Poo Kong ini, terletak di Jalan Simarongan Raya. Memang sih tempat ibadah, tapi dibuka untuk umum sebagai objek wisata. Kelenteng ini konon katanya sebagai tempat persinggahan seorang Laksamana Tiongkok bernama Zheng He atau lebih familiar di sebut Cheng Ho.

Lampion yang menggantung di dalam ruangan dan ecara keseluruhan, bangunan bernuansa merah khas Tiongkok ini dijadikan tempat suci bagi penganut agama Kong Hu Chu. Lengkap pula dengan sesembahan yang digunakan untuk beribadah.

Diperbolehkan juga para wisatawan untuk mengambil objek foto sebagai dokumentasi jalan-jalan. Bagi yang tidak beribadah, tolong hargai mereka dan jangan ganggu ketenangannya.

Menurut cerita, Laksamana Zheng He sedang berlayar melewati laut jawa, namun saat melintasi laut jawa, banyak awak kapalnya yang jatuh sakit, kemudian ia memerintahkan untuk membuang sauh. Kemudian merapat ke pantai utara semarang untuk berlindung di sebuah Goa dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai.

Bangunan itu sekarang telah berada di tengah kota Semarang di akibatkan pantai utara jawa selalu mengalami proses pendangkalan yang diakibatkan adanya proses sedimentasi, sehingga lambat-laun daratan akan semakin bertambah luas kearah utara.

Konon, setelah Zheng He meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang di tempat itu. Zheng He memberikan pelajaran bercocok-tanam serta menyebarkan ajaran-ajaran Islam.*




Berita Lainnya