Kamis | 07 Februari 2019
Butuh Kegigihan, Pengorbanan dan Kerja Keras
Wanita Tionghoa asal Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau, Dr Santy A Md AK SH.


Minggu | 03 Februari 2019
178 Siswa SPN Polda Riau Kunjungi Vihara Kwan Tee Kong Bio
Sekitar 178 siswa SPN Polda Riau berkunjung ke Ling Thian Miao (Vihara Satya.

Rubrik : hukum | Senin, 11 Februari 2019
Didesak 1.000 Advokat, Polda Segera Gelar Perkara Penganiayaan Keluarga Maryatun
Editor : linda | Penulis:
Maryatun didampingi puluhan advokat menandatangai surat kuasa


PEKANBARU - Sebanyak 80 advokat yang tergabung dalam "Gerakan 1.000 Advokat Bicara Untuk Kemanusiaan" mendesak Kepolisian Daerah (Polda) Riau menuntaskan perkara penganiayaan keluarga Maryatun di Kabupaten Rokan Hilir.  Sudah enam tahun,  penanganan perkara penganiayaan sadis itu terjadi tapi sampai saat ini tak kunjung ada kejelasan.

Puluhan advokad itu mendatangi Polda Riau, Senin (11/2). Mereka menggelar pertemuan dengan  Wakil Kapolda Riau,  Brigjen Pol Wahyu Widada, di ruang ruang gelar perkara Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau.

Keluarga Maryatun merupakan korban penganiayaan di Panipahan, Rohil pada 2013 lalu. Saat itu, suami Maryatun menderita 25 tusukan di bagian depan dan belakang tubuhnya. Selain itu, kepalanya dibacok, dan tulang leher dibor pakai pisau.

Para advokat, awalnya diterima Kasubdit III Unit Jatanras Ditreskrimum Polda Riau, AKBP Mohammad Kholid yang baru dua bulan bertugas di Polda Riau. Mereka lalu diterima Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau, Kombes Pol Hadi Poerwanto.

Usai pertemuan, Suroto, salah seorang advokad, menyampaikan bahwa Wakapolda Riau menyambut baik kedatangan mereka. Kepada perwira tinggi Polri dengan bintang satu di pundaknya itu, disampaikan kronologis kejadian perkara tersebut.

"Beliau (Wakapolda,red) miris melihat perkara ini, melihat satu keluarga dianiaya seperti ini. Bahkan sampai terharu juga, gak kuat ngomong juga. Sudah tiga Kapolda (Riau) berganti tapi kasus stagnan, tidak ada perkembangan," kata Suroto.

Kasus penganiayaan yang dialami pasangan suami isteri Rajiman (55) dan Maryatun (45). Penganiayaan itu terjadi 2013 silam di Dusun Sera, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Rokan Hilir, Riau. Tak hanya Rajiman dan istrinya, Arazaqul (11), anaknya juga mendapat perlakuan serupa. 

Hingga kini, Arazaqul hingga kini harus menggunakan alat khusus yang terpasang pada bagian perut karena mengalami penyumbatan pencernaan. Alat itu masih terpasang hingga kini. Sementara Rajiman mengalami luka tusuk senjata tajam yang kata Suroto sedikitnya 25 tusukan di sekujur tubuhnya. Beruntung Rajiman masih bisa diselamatkan meski sekarang tak lagi normal. 

Kepada Wakapolda, para advokat meminta agar dalam waktu dekat dilakukan gelar perkara terbuka dengan melibatkan pihak-pihak terkait. Seperti Direktur dan Wadir Reskrimum, Kabag Wasidik Polda Riau, Kapolres Rohil, Kasat Reskrim Polres Rohil, penyidik dan Kapolsek Panipahan.

Atas permintaan itu, Wakapolda katanya, langsung menanggapi, dengan memerintahkan langsung Direktur Reskrimum Polda Riau, Kombes Pol Hadi Poerwanto, untuk segera melakukan gelar perkara. "Langsung beliau perintahkan Dir. 'Pak Dir, ini jangan lama-lama. Penuhi permintaan kuasa korban'," imbuh Suroto menirukan perkataan Wakapolda Riau.

Suroto mengatakan bahwa aksi keji itu dilakukan sejumlah pria berbadan kekar dan diduga suruhan seorang pria berinisial AB, yang tak lain merupakan anggota DPRD aktif di salah satu daerah di Sumatera Utara dan menjadi Ketua DPC salah satu partai.  Sebelum penganiayaan dilakukan, terduga pelaku sering mengintimidasi korban/

Dari informasi yang diperoleh Suroto, di tahun 2011 sudah dua kali dilakukan pemanggilan terhadap AB. Lalu, di tahun 2018 yang bersangkutan juga sudah dua kali dipanggil. AB juga telah beberapa kali dilakukan upaya jemput paksa. Namun polisi tak berhasil membawanya, dengan alasan AB tidak diketahui keberadaanya. (lda)



Berita Lainnya