|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Executive General Manager (EGM) PT Angkasa Pura II Pekanbaru, Radityo Ari Purwoko, memberikan tanggapan terkait insiden penerbangan Super Air Jet IU 914 rute Jakarta-Pekanbaru yang membuat penumpang terkurung di dalam kabin pesawat selama dua jam pada Kamis malam, (26/12/2024).
Radityo menilai alasan yang disampaikan oleh pihak maskapai mengenai tidak adanya perpanjangan operasional Bandara Sultan Syarif Kasim II (SSK II) tidak tepat. “Kacau itu pilotnya. Kami selalu memberikan izin perpanjangan operasional dan tidak pernah menolak pengajuan dari maskapai,” ujar Radityo, Jumat (27/12/2024).
Pria yang akrab disapa Oky menegaskan bahwa Bandara SSK II Pekanbaru, yang biasanya beroperasi hingga pukul 21.00 WIB, selalu siap memberikan izin perpanjangan operasional apabila diajukan oleh pihak maskapai. “Bahkan, pada musim Lebaran lalu, kami pernah memberikan perpanjangan operasional hingga pukul 02.30 dini hari,” tambahnya.
Pernyataan ini membantah klaim pihak Super Air Jet yang menyatakan bahwa bandara hanya beroperasi hingga pukul 21.00 WIB, sehingga mereka kesulitan dalam meminta izin operasional tambahan.
Radityo menegaskan bahwa masalah tersebut lebih berkaitan dengan pihak maskapai dan kru penerbangan, bukan dengan pengelola bandara. "Jadi, alasan bahwa Bandara SSK II hanya buka sampai pukul 21.00 WIB dan tidak ada perpanjangan operasional adalah alasan yang tidak tepat," tegasnya.
Pihak PT Angkasa Pura II pun memastikan akan terus memberikan pelayanan terbaik bagi maskapai dan penumpang agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Insiden ini bermula ketika penerbangan Super Air Jet IU 914 yang dijadwalkan lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 18.10 WIB, namun penumpang baru diperbolehkan masuk pesawat pada waktu tersebut. Setelah semua penumpang berada di dalam kabin, penerbangan tidak kunjung dilaksanakan, tanpa penjelasan yang memadai dari pihak maskapai.
Sekitar pukul 20.00 WIB, suasana di dalam pesawat semakin tidak kondusif. Penumpang dilarang keluar pesawat dan hanya bisa duduk dengan rasa resah. Beberapa penumpang mengeluh kelaparan, asam lambung yang kumat, dan ibu hamil kesulitan mengonsumsi obat. Anak-anak juga menangis. Ketegangan semakin meningkat, dan para penumpang mulai meminta penjelasan kepada pramugara.
Pilot kemudian mengumumkan melalui pengeras suara bahwa penerbangan tertunda karena jam operasional Bandara SSK II Pekanbaru hanya sampai pukul 21.00 WIB. “Kami sedang berusaha meminta perpanjangan jam operasional. Mohon bersabar,” ujar pilot.
Namun, penjelasan ini justru memicu kemarahan penumpang. Beberapa di antaranya merasa terkunci di dalam pesawat dan meragukan alasan tersebut. "Kami sudah dua jam terkurung di pesawat tanpa penjelasan yang jelas," ujar salah seorang penumpang, Budi.
Penumpang lain juga menduga pihak maskapai sengaja menahan mereka di dalam pesawat untuk menghindari pemberian kompensasi atas keterlambatan. “Jika delay, kami bisa menunggu di luar pesawat. Apa ini sengaja dilakukan supaya kami tidak mendapatkan kompensasi?” kata penumpang tersebut.
Amukan penumpang semakin meluas, dan beberapa dari mereka mengancam akan turun dari pesawat jika penerbangan tidak segera dilanjutkan. Akhirnya, sekitar pukul 20.15 WIB, penerbangan dilanjutkan, dan pesawat mendarat di Bandara SSK II Pekanbaru sekitar pukul 21.30 WIB.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Super Air Jet belum memberikan penjelasan resmi terkait alasan keterlambatan penerbangan dan penahanan penumpang di dalam pesawat selama dua jam tersebut.
*