Jan 2026
20

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Lewat Pantun, Kapolda Riau Ajak Generasi Muda Jaga Alam dan Lingkungan
pekanbaru | Minggu, 20 April 2025 | 15:29:15 WIB
Editor : Novia | Penulis : Linda

PEKANBARU - Sabtu malam, suasana di Rumah Singgah Tuan Kadi tak seperti biasanya. Aroma semilir Sungai Siak, denting musik orkestra Melayu, dan gelak tawa penonton berpadu dalam hangatnya Festival Kreatif Budaya Melayu. 

Di jantung kawasan bersejarah Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Pekanbaru, tradisi lama kembali hidup, bukan sekadar sebagai seremoni, tapi sebagai pesan kuat untuk masa depan bumi dan budaya.

Bukan sembarang acara, festival kali ini menghadirkan lomba berbalas pantun dengan tema yang menyentuh: Kelestarian Alam dan Karhutla. 

Baca :

Dalam bait demi bait, para peserta menyampaikan pesan cinta terhadap hutan, ajakan menjaga lingkungan, dan sindiran halus kepada para pembakar lahan.

 Ini bukan hanya tentang seni bertutur, tetapi juga bentuk edukasi yang menyenangkan cara khas Melayu untuk menyampaikan yang serius tanpa menggurui.

Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan duduk di barisan depan malam itu. Ia tak sekadar hadir, tetapi menjadi bagian dari atmosfer budaya yang hidup.

 Didampingi Walikota Pekanbaru Agung Nugroho dan jajaran pejabat lainnya, ia menunjukkan komitmen Polri yang tak hanya menjaga keamanan, tapi juga menjaga warisan budaya dan kelestarian alam.

“Budaya Melayu adalah identitas Provinsi Riau yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar Irjen Herry dengan penuh keyakinan.

 Ia tak hanya berbicara, tapi juga bertindak. Bersama Pemerintah Kota Pekanbaru, ia menggagas upaya menghidupkan kembali Rumah Singgah Tuan Kadi yang dulu tempat singgah Sultan Siak menjadi pusat edukasi lingkungan dan ruang dialog masyarakat.

Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Jeki Rahmat Mustika juga angkat bicara, menekankan bahwa ajang seperti ini adalah momentum untuk menyampaikan pesan besar dengan cara yang mengakar pada kearifan lokal. Ia menyoroti pentingnya tidak membakar sampah, mengingat betapa besar dampaknya bagi lingkungan dan citra bangsa.

Malam itu, tak hanya pantun yang mengalun. Ada orkestra musik Melayu bersama Hafis, tarian kreasi “Marhum Pekan” yang menggambarkan semangat rakyat masa lampau, hingga senyum para pemenang lomba pantun yang menerima hadiah dengan bangga.

Walikota Agung Nugroho dalam sambutannya melaporkan kabar baik: terbentuknya zona hijau bebas sampah di Jalan Sudirman. Sebuah capaian yang menurutnya tak akan terjadi tanpa kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah, masyarakat, dan tentu saja pihak kepolisian.

Festival ini mungkin hanya satu malam, tapi dampaknya terasa jauh lebih lama. Ini bukan hanya tentang panggung dan tepuk tangan. Ini tentang bagaimana budaya bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan pesan lingkungan, dan bagaimana institusi seperti Polri bisa hadir sebagai bagian dari upaya pelestarian identitas lokal.

Di Rumah Singgah Tuan Kadi, sejarah, budaya, dan alam bertemu dalam harmoni. Dan malam itu, Pekanbaru bukan hanya menjadi kota yang berbudaya—tapi juga kota yang peduli, bersinergi, dan membanggakan di mata dunia.*

 

 

 

Terbaru
华 闻
Lindawati Terpilih Jadi Ketua PSMTI...
Sabtu, 17 Januari 2026 | 22:43:12 WIB
PSMTI Riau Akan Gelar Musprov V, Ini...
Rabu, 14 Januari 2026 | 18:26:49 WIB
Artikel Popular
1
4
politik
Komisi IV DPRD Riau Akan Panggil PUPR Bahas SILPA...
Selasa, 13 Januari 2026 | 14:08:52 WIB
Pilkada Tak Langsung Jadi Ancaman Demokrasi...
Kamis, 8 Januari 2026 | 20:27:09 WIB
hukum