|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Di tengah ancaman perubahan iklim global dan kerusakan lingkungan yang semakin nyata, hutan tetap menjadi garis pertahanan terakhir bumi. Hutan bukan sekadar hamparan pohon. Ia adalah rumah bagi keanekaragaman hayati, sumber air, penyangga kehidupan, dan penyerap karbon alami.
Sayangnya, praktik pembakaran lahan terus menghantui keberlangsungan ekosistem hutan, termasuk di Provinsi Riau, salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki luasan hutan sekitar 5,4 juta hektare.
Setiap tahun, masyarakat di Riau harus menghadapi kenyataan pahit. Langit kelabu oleh asap kebakaran hutan. Salah satu pemicu utamanya adalah pembukaan lahan dengan cara dibakar. Praktik ini bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga membahayakan kesehatan manusia dan mempercepat perubahan iklim.
Melihat berbagai tantangan lingkungan dan sosial yang melanda kawasan hutan Indonesia, khususnya di Riau, hadir secercah harapan. PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), unit operasional dari APRIL Group, menunjukkan langkah proaktif dengan komitmen jangka panjang yang layak diapresiasi.
RAPP tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga mengambil peran nyata dalam menjaga keseimbangan antara industri dan kelestarian hutan. Komitmen mereka mencakup tiga pilar utama, diantaranya Perlindungan Hutan. RAPP berupaya menjaga dan memulihkan kawasan hutan melalui berbagai program konservasi. Ini termasuk perlindungan terhadap hutan bernilai konservasi tinggi dan restorasi lahan gambut yang rusak.
Kemudian, Pemberdayaan Masyarakat.
Melalui program-program berbasis masyarakat, RAPP mendorong kemandirian ekonomi warga sekitar. Pelatihan keterampilan, dukungan usaha kecil, hingga akses pendidikan dan kesehatan menjadi bagian dari pendekatan holistik mereka.
Lalu, Pembangunan Berkelanjutan.
Visi RAPP sejalan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan. Dengan menerapkan teknologi ramah lingkungan dan praktik industri yang bertanggung jawab, mereka membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak harus merusak lingkungan.
Langkah ini menunjukkan bahwa dunia usaha bisa menjadi bagian dari solusi, bukan hanya penyumbang masalah. Jika konsistensi dan transparansi terus dijaga, inisiatif RAPP bisa menjadi model kolaboratif yang menginspirasi sektor industri lainnya di Indonesia.
Fire Free Village Program: Tumbuhkan Kesadaran, Hentikan Api
Sejak diluncurkan pada tahun 2014, Fire Free Village Program (FFVP) menjadi ujung tombak RAPP dalam menekan angka kebakaran hutan dan lahan. Program ini memiliki pendekatan bertahap. Pertama, Desa Peduli Api (FAC). Edukasi dasar kepada masyarakat tentang bahaya kebakaran dan cara membuka lahan tanpa api.
Dua, Desa Bebas Api (FFV). Pendampingan intensif, pelatihan, dan pemberian insentif untuk desa yang berhasil mencegah kebakaran. Tiga, Desa Tangguh Api (FRC). Penguatan kapasitas desa agar mandiri dalam pencegahan kebakaran dan peningkatan ekonomi lokal.

Sepanjang 2024, program ini menjangkau 42 desa di lima kabupaten dengan cakupan 902.872 hektare. Ihsan Kusnaidi (40), ranger dari Kelurahan Langgam, menjadi contoh nyata perubahan. Dulu keluarganya terdampak asap hingga sang anak terkena ISPA. Kini, Ihsan justru berdiri di garda depan menjaga wilayahnya dari api.
"Kalau dulu saya hanya bisa pasrah, sekarang saya bisa melindungi desa dan keluarga saya," ujar Ihsan.
Sebagai ranger, Ihsan rutin melakukan patroli, edukasi door to door, dan sosialisasi di sekolah-sekolah melalui program "FFVP Goes to School". Sudah lebih dari satu dekade ia mengabdi demi masa depan bebas asap bagi generasi berikutnya.
RAPP dan Pemkab Pelalawan Teken MoU Perkuat Program Pemberdayaan
Tepat pada 20 Juni 2024, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Kabupaten Pelalawan untuk memperluas dan memperkuat program pemberdayaan masyarakat di wilayah tersebut.
Penandatanganan ini menandai komitmen bersama dalam mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah daerah.
Acara penandatanganan berlangsung meriah dan turut dihadiri langsung oleh Bupati Pelalawan, H. Zukri, yang menyampaikan apresiasinya atas kontribusi RAPP dalam mendukung kemajuan daerah.
"Kami menyambut baik kerja sama ini. Sinergi seperti inilah yang dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar Bupati Zukri dalam sambutannya.
Melalui MoU ini, RAPP akan memperluas cakupan program-program sosial dan lingkungan yang selama ini telah berjalan, mencakup bidang pendidikan, pelatihan keterampilan, dan pengembangan usaha masyarakat.
Kerja sama ini diharapkan menjadi model kemitraan strategis antara pemerintah dan dunia usaha dalam membangun daerah secara inklusif dan berkelanjutan.
Program ini pun terus berkembang. Bahkan di tahun 2024, juga ada tiga desa yang baru bergabung, yakni Desa Air Hitam dan Lubuk Kembang Bungo di Kabupaten Pelalawan serta Desa Kuntu di Kabupaten Kampar.
RAPP percaya bahwa masa depan tanpa Karhutla hanya dapat tercapai melalui kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Melalui strategi keberlanjutan dan pemberdayaan seperti ini, hutan Riau sebagai warisan alam dapat terus lestari untuk generasi mendatang.
Dukungan Teknologi dan Kesiapan Personel
Dalam menyambut musim kemarau tahun 2025, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Melalui pendekatan yang terpadu memadukan teknologi mutakhir, kesiapsiagaan personel, dan kolaborasi masyarakat. RAPP mengambil langkah nyata dalam menjaga lingkungan Riau tetap hijau dan bebas asap.
Saat Apel Kesiapsiagaan Karhutla yang di gelar 29 April 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin, RAPP mengerahkan 1.375 personel terlatih, yang tergabung dalam tim-tim tanggap darurat, lengkap dengan perlengkapan canggih.
Total ada 482 unit pompa air (pompa utama, pompa jinjing, pompa apung). Kemudian 2 helikopter patroli, 2 airboat, dan 3 mobil operasional, termasuk 2 mobil patroli.

"Setiap tim terdiri dari 15 orang dan dilengkapi GPS. Kami siap untuk bergerak cepat, menjangkau bahkan wilayah terpencil," jelas Amron Budi Setiawan, dari divisi Fiber Fire and Aviation RAPP, Selasa (9/4/2025).
Tidak itu saja, RAPP juga menggunakan teknologi untuk mendeteksi dini hotspot, dengan memanfaatkan Drone pemantau udara, Aplikasi SiPongi milik KLHK, dan Data angin dan cuaca dari Windicom.
"Semua ini digabungkan untuk mendukung pemetaan risiko wilayah, diklasifikasikan dalam kategori tinggi, sedang, dan rendah, serta untuk mempercepat respons awal terhadap titik api," sebutnya.
RAPP juga memahami bahwa kunci pencegahan Karhutla terletak pada keterlibatan masyarakat. Melalui program Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Fire Free Village Program (FFVP), perusahaan menggandeng desa-desa sekitar untuk aktif berpartisipasi. Setiap desa membentuk tim dengan crew leader terlatih, dan desa bebas asap diberi insentif, termasuk bantuan alat buka lahan tanpa pembakaran.
"Ini bukan hanya program, tapi bagian dari tanggung jawab moral. Kami ingin memastikan bahwa masyarakat turut menjadi garda terdepan dalam menjaga lingkungan," ujar Direktur RAPP, Mulia Nauli.
Lebih dari sekadar kewajiban operasional, upaya RAPP mencerminkan visi jangka panjang dalam membangun praktik industri yang ramah lingkungan. Mulia menegaskan bahwa pencegahan Karhutla adalah bagian dari upaya perusahaan untuk melindungi ekosistem, menjaga kesehatan masyarakat, dan menjamin keberlangsungan usaha yang berkelanjutan.
Disamping itu, pelestarian hutan memegang peranan penting dalam upaya menekan emisi karbon global. Hutan berfungsi sebagai penyerap karbon alami, menyerap karbon dioksida (COâ‚‚) melalui proses fotosintesis, lalu menyimpannya dalam biomassa dan tanah. Ketika hutan dijaga dan direstorasi, kemampuannya menyerap COâ‚‚ meningkat, membantu menekan laju pemanasan global.
Menyadari pentingnya peran hutan dalam mitigasi perubahan iklim, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), juga meluncurkan serangkaian program yang sejalan dengan komitmen keberlanjutan jangka panjang APRIL2030. Inisiatif ini menargetkan nol emisi bersih dari penggunaan lahan dan pengurangan emisi karbon produk hingga 25 persen.
Komitmen APRIL2030 berdiri di atas empat pilar utama, yakni Iklim Positif.
Lanskap yang Berkembang. Kemajuan Inklusif. Dan pertumbuhan Berkelanjutan. Keempat pilar ini mencerminkan pendekatan holistik yang menggabungkan konservasi lingkungan, pemberdayaan sosial, dan pertumbuhan ekonomi.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan RAPP adalah penggunaan bus listrik MAB dalam operasional sehari-hari. Kendaraan ini mampu mengurangi emisi karbon monoksida (CO) hingga 25,1 metrik kilogram per unit, sekaligus menghilangkan limbah B3 seperti oli bekas yang dihasilkan kendaraan berbahan bakar fosil.
Inisiatif ini tidak hanya mengurangi jejak karbon perusahaan, tetapi juga memberi contoh nyata bagaimana teknologi hijau bisa diterapkan dalam skala industri.
Selain langkah internal, RAPP juga aktif dalam kerja sama lintas sektor. Perusahaan ini menjadi bagian dari Deklarasi GREEN for Riau, sebuah inisiatif kolaboratif antara pemerintah provinsi dan sektor swasta untuk menekan emisi gas rumah kaca di wilayah Riau.
"Kami percaya bahwa kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat adalah kunci dalam memperkuat aksi iklim dan menjaga keseimbangan lingkungan di Riau," tegas Mulia Nauli, Direktur RAPP.
Melalui inovasi dan kolaborasi, RAPP menunjukkan bahwa komitmen pada pelestarian hutan dan pengurangan emisi bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Langkah proaktif RAPP menjadi bukti bahwa sektor industri dapat menjadi bagian dari solusi lingkungan. Dengan edukasi, teknologi, dan kolaborasi, masa depan Riau yang bebas asap dan lestari bukan lagi mimpi.
Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Kini saatnya semua pihak, mulai dari pemerintah, swasta, dan masyarakat bersatu menjaga warisan alam ini untuk generasi mendatang.*
Penulis: Rivo