|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

KAMPAR – Seekor Beruang Madu jantan (Helarctos malayanus) berhasil dievakuasi dan dilepasliarkan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.
Satwa dilindungi tersebut sempat memasuki kawasan permukiman warga di Desa Makmur Sejahtera, Kecamatan Gunung Sahilan, Kabupaten Kampar.
Evakuasi dilakukan secara cepat dan terkoordinasi bersama Pemerintah Desa Makmur Sejahtera, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta didukung mitra konservasi seperti Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN) dan Yayasan Arsari.
Kepala BBKSDA Riau, Supartono, menyampaikan bahwa laporan awal diterima pada Minggu malam (18/5/2025), mengenai kemunculan Beruang Madu di sekitar permukiman warga.
Tim segera turun ke lapangan pada Senin (19/5/2025), untuk melakukan koordinasi dengan aparat desa dan keamanan setempat.
“Berdasarkan hasil koordinasi, kami memasang kandang jebak di lokasi terakhir kemunculan satwa, dengan melibatkan warga sekitar sebagai bagian dari upaya pengamanan,” ujar Supartono, Senin (26/5/2025).
Pada Selasa (20/5/2025), tim mendapati umpan di kandang jebak telah habis, diduga dimakan oleh beruang, namun pintu jebakan tidak tertutup. Tim kemudian melakukan perbaikan mekanisme pemicu agar lebih sensitif dan tetap aman bagi satwa.
Upaya tersebut membuahkan hasil pada Rabu, (21/5/2025), ketika seekor Beruang Madu jantan berhasil tertangkap dalam kondisi sehat.
"Setelah observasi awal oleh tim medis, BBKSDA Riau memutuskan untuk melepasliarkan satwa tersebut ke kawasan hutan konservasi di Provinsi Riau," kata Supartono.
Selain proses evakuasi, BBKSDA Riau bersama mitra juga mengadakan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar mengenai cara menghindari konflik dengan satwa liar.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas sendirian di ladang, khususnya pada pagi dan malam hari. Kami juga mengingatkan untuk tidak melakukan tindakan anarkis terhadap satwa dilindungi dan pentingnya melapor ke BBKSDA jika terjadi konflik,” tutur Supartono.
Kolaborasi ini dinilai menjadi contoh baik penanganan konflik satwa liar yang cepat, tepat, dan manusiawi.
'Selain menjaga keselamatan masyarakat, langkah ini juga merupakan bentuk komitmen dalam pelestarian satwa liar serta menciptakan keseimbangan antara manusia dan alam," pungkas Supartono.