|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Festival Duan Wu Ji yang identik dengan makan bak cang dirayakan masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di Pekanbaru Festival Duan Wu Ji dipusatkan di Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Riau Jalan Setiabudhi, Pekanbaru, Kamis (29/5/2025).
Hadir Ketua PSMTI Riau, Stephen Sanjaya, Ketua PSMTI Pekanbaru, Happy Subagio dan pengurus lainnya serta generasi muda Tionghoa.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, Festival Duan Wu Ji di Pekanbaru lebih meriah. Masyarakat langsung belajar cara membungkus dan memasak bak cang. Kemudian makan bak cang bersama.
Perayaan Duan Wu Jie memang identik dengan makan kue cang yang terdiri dari bacang dan kicang. Makanan terbuat dari beras ketan serta dibungkus dengan daun bambu.
Makanan berbahan dasar beras ketan yang dibuat dengan isi dan tanpa isian. Kicang merupakan kue ketan yang tanpa isi didalamnya dan dimakan dengan selai atau gula merah. Sedangkan bacang berisi daging dan vegetarian.
Wakil Ketua PSMTI Riau bidang Seni dan Budaya, Leo Hady Hastomo menyampaikan tentang filosofi Duan Wu Jie atau yang dikenal sebagai Dragon Boat Festival. Merupakan salah satu perayaan penting dalam budaya Tionghoa. Perayaan jatuh pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek.
Ketua PSMTI Pekanbaru, Happy Subagio mengatakan, perayaan Duan Wu Ji turut mengundang generasi muda Tionghoa dan masyarakat umum, sehingga perayaan dapat terus dilestarikan serta dikenal luas. "Kami menyediakan 200 bak cang untuk dinikmati bersama dalam kegiatan ini. Bahkan masyarakat yang hadir bisa langsung demo cara membuat dan memasak bak cang," ujarnya.

Selain itu, festival memiliki nilai ekonomi, karena isi kue cang bisa dikreasikan atau disesuaikan dengan selera masyarakat.
Sementara itu, Ketua PSMTI Riau, Stephen Sanjaya berharap genarasi muda dapat mengambil pelajaran dari Festival Duan Wu Ji, yaitu rasa cinta tanah air. Ini sesuai dengan visi misi PSMTI, ikut serta membangun Indonesia.
Asal Usul
Perayaan Duan Wu Jie berasal dari kisah seorang pejabat patriotik sekaligus seorang penyair yang bernama Qi Yuan (sekitar 340 – 278 SM), yang menenggeramkan dirinya ke Sungai Milou, karena kesedihannya yang mendalam atas hancurnya negeri Chu dan wafatnya kaisar yang memimpin negeri tersebut.
Rakyat merasa sedih, kemudian mencari-cari jenazah sang menteri di sungai tersebut. Mereka lalu melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan maksud agar ikan dan udang dalam sungai tersebut tidak mengganggu jenazah sang menteri.
Selain itu, untuk menghindari makanan dari naga dalam sungai tersebut maka mereka membungkusnya dengan daun-daunan yang kita kenal sebagai bakcang sekarang.
Kebiasaan mempersembahkan beras di dalam tempurung bambu diganti dengan kue dari beras ketan yang dibungkus daun bambu, yang disini kita kenal dengan nama Kue Cang. Dilaksanakannya perlombaan-perlombaan perahu yang dihiasi gambar-gambar naga, semuanya mengingatkan usaha mencari jenazah Qu Yuan, seorang pecinta tanah air dan rakyatnya.*