|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

SIAK — Langit senja di Siak, Rabu (4/6/2025), perlahan berubah temaram. Namun semangat ribuan warga justru memuncak. Mereka memadati Lapangan Siak Bermadah, tak sekadar menunggu acara seremonial, melainkan menyambut babak baru kepemimpinan dengan lantunan doa: Gebyar Sholawat.
Suasana religius berpadu dengan suka cita. Para santri, ibu-ibu Muslimat, tokoh agama, dan warga dari berbagai penjuru kabupaten berkumpul. Di antara mereka, tampak para pelajar dan anak-anak kecil duduk bersila, mengangkat tangan, mengamini doa-doa yang mengalun dalam suara sholawat yang menggema dari panggung utama.
Tak biasa, acara pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Siak kali ini ditutup dengan nuansa spiritual yang mendalam. Setelah melalui proses politik yang panjang dan penuh dinamika, masyarakat Siak memilih cara yang damai untuk menyambut pemimpinnya: dengan dzikir dan puji-pujian kepada Nabi.
Bupati Siak terpilih, Dr. Afni, tampil sederhana namun berwibawa. Dalam sambutannya, ia tak hanya menyampaikan terima kasih, tapi juga mengajak masyarakat memulai lembaran baru.
“Hari ini bukan hanya tentang pelantikan. Ini adalah awal dari perjalanan bersama. Mari kita perkuat ukhuwah, dan bersama-sama membangun Siak hingga ke pelosok desa,” ucapnya, disambut gemuruh takbir dan tepuk tangan jamaah.
Lebih dari sekadar simbol kepemimpinan, pelantikan Afni menandai sejarah baru bagi Kabupaten Siak. Ia adalah perempuan pertama yang menduduki kursi Bupati di daerah ini, dan bersama Syamsurizal—wakilnya yang juga berlatar belakang pesantren—mengusung semangat kepemimpinan yang inklusif dan berakar pada nilai-nilai keislaman.
“Kami berdua santri. Dan ini menjadi bukti bahwa siapa pun, dari latar apa pun, bisa memimpin jika niatnya untuk mengabdi,” kata Afni, dengan nada haru.
Ia berjanji akan menjalin sinergi dengan pesantren-pesantren dan komunitas religius di seluruh Siak. Tidak sekadar datang sebagai pejabat, tapi sebagai sahabat dan pelayan masyarakat.
Wakil Bupati Syamsurizal menambahkan, Gebyar Sholawat adalah bentuk ikhtiar batin atas tanggung jawab besar yang kini mereka emban.
“Kami memulai kepemimpinan ini dengan doa. Karena kami yakin, kekuatan sejati bukan hanya dari suara terbanyak, tapi dari restu rakyat dan ridha Tuhan,” tuturnya.
Lantunan sholawat terus menggema sepanjang malam. Lampu-lampu panggung bersinar lembut, menambah khidmat suasana. Wajah-wajah jamaah tampak tenang, sebagian larut dalam dzikir, sebagian lainnya tak kuasa menahan haru.
Menjelang akhir acara, doa bersama dipanjatkan untuk keselamatan bangsa, kemajuan Siak, dan kepemimpinan yang amanah.
Di bawah langit malam Siak yang tenang, harapan-harapan baru bertunas. Dalam iringan sholawat, masyarakat menitipkan masa depan daerah mereka kepada pemimpin yang mereka pilih, bukan hanya karena janji politik, tetapi karena rasa percaya dan cinta.*