|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau bergerak cepat menyelamatkan kawasan hutan konservasi Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang rusak parah akibat perambahan dan penguasaan ilegal. Melalui rapat koordinasi Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), dibentuk Satuan Tugas Tim Percepatan, Pemulihan, Pasca Penguasaan (TP4).
Gubernur Riau, Abdul Wahid, menyebut pembentukan TP4 sebagai langkah awal untuk mengembalikan fungsi ekologis TNTN. Tim gabungan akan mengusung tiga agenda utama, yakni penertiban, relokasi, dan reforestasi.
"Kami sepakat membentuk tim daerah gabungan bersama Kapolda, Kejati Riau, Kepala BIN, dan Bupati Pelalawan untuk penataan kawasan TNTN,” ujar Wahid usai rapat di Kantor Kejati Riau, Selasa (17/6/2025).
Langkah-langkah teknis TP4 akan segera dirumuskan dan dilaporkan ke Pemerintah Pusat. Wahid menegaskan bahwa Pemprov Riau siap menyinergikan upaya ini dengan Satgas nasional.
"Kami akan susun plan A, B, dan C, lalu laporkan ke Satgas Pusat. Ini bagian dari koordinasi dan komitmen terhadap kebijakan lingkungan nasional," tegasnya.
Meski fokus pada pemulihan ekosistem, TP4 juga akan memperhatikan nasib masyarakat yang terlanjur bermukim di dalam kawasan hutan. Pemerintah berkomitmen mengedepankan pendekatan dialog dan pemberdayaan, sembari tetap menegakkan hukum terhadap pelanggaran.
"Kami akan ajak warga berdialog dan carikan lokasi usaha yang legal. Tapi pelanggaran tetap ditindak tegas. Mereka rakyat kita, tapi hutan juga harus kita jaga," ujarnya.
Pembentukan TP4 juga merupakan implementasi dari Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penertiban Kawasan Hutan (PKH). Gubernur Wahid menegaskan bahwa pihaknya siap mengamankan kebijakan Presiden dalam penegakan hukum, relokasi, dan pemulihan kawasan hutan negara.
"Sebagai perwakilan Pemerintah Pusat di daerah, saya siap mengawal seluruh instruksi yang diberikan Presiden," ucapnya.
Wahid juga menyoroti pentingnya menjaga ekosistem gambut di Riau yang menjadi penyerap karbon alami. Jika rusak atau terbakar, gambut justru berubah menjadi sumber emisi karbon yang memperparah krisis iklim.
"Kalau gambut dibiarkan rusak, karbonnya lepas ke udara. Ini yang kita cegah. Strategi pemulihannya sudah kami siapkan," katanya.
Dengan dibentuknya TP4, Gubri berharap kawasan Tesso Nilo bisa kembali menjadi habitat satwa liar, penyangga kehidupan, dan warisan alam untuk generasi mendatang. Kunci keberhasilannya, menurut Wahid, adalah sinergi lintas sektor dan dukungan masyarakat.
"Kami ingin TNTN pulih dan berfungsi kembali sebagai hutan konservasi yang berdaya guna dan berkelanjutan," tutupnya.*