Mei 2026
21

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Saat Filsuf dan Ulama Sepakat Jaga Alam Itu Ibadah
kampar | Kamis, 19 Juni 2025 | 14:05:20 WIB
Editor : Novia | Penulis : Linda

KAMPAR — Desa Tanjung Belit, Kecamatan Kampar Hilir Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, jadi saksi  pertemuan Rocky Gerung dan Ustadz Abdul Somad (UAS). Meski beda ilmu, keduanya tetap satu hati soal menjaga alam.

Kedua tokoh itu duduk di satu forum, tapi bukan untuk debat panas. Mereka hadir dalam Dialog Lingkungan Hidup yang digelar Polda Riau di tepian Sungai Subayang, Desa Tanjung Belit, Kamis (18/6/2025).

Acara ini turut dihadiri Wakapolda Riau Brigjen Pol Adeianto Jossy Kusumo, Gubernur Riau Abdul Wahid, jajaran Forkopimda Riau dan Kampar, serta masyarakat setempat yang memadati lokasi.

Baca :

Meski dari dunia yang berbeda, dua tokoh ini saling melengkapi. Rocky bicara dari sisi logika, UAS bicara dari sisi iman. Tapi ujungnya sama, kita harus jaga bumi bersama.

Rocky Gerung yang ikenal sebagai seorang filsuf, akademisi, dan intelektual publik dan ulama besar UAS membawa gagasan-gagasan segar demi satu misi, yakni menyelamatkan alam yang makin terdesak.

Rocky Gerung, datang dengan logika tajam. Menurutnya, bukan cuma manusia yang punya hak hidup. "Cacing, burung, rumput, semua makhluk juga punya hak untuk tetap ada," ujarnya. 

Bagi Rocky Gerung, alam adalah teks yang harus dibaca ulang. Menurutnya, kerusakan ekologis, menurutnya, justru menjadi isyarat adanya pesan ilahi yang terabaikan. 

Ia menyitir Surat Ar-Rum sebagai refleksi teologis bahwa rusaknya bumi adalah akibat perbuatan tangan manusia.

Sementara UAS membawakan sisi yang lebih lembut dan menyentuh. "Kalau kita yakin pohon itu bertasbih, kita pasti mikir dua kali sebelum menebang sembarangan," katanya. 

Bagi UAS menjaga alam bukan cuma soal etika. Namun ia menegaskan, Melindungi alam juga ibadah. 

Acara ini tidak hanya wacana kosong. Polda Riau menunjukkan aksi nyata dari reboisasi hutan, pemulihan kawasan Tesso Nilo, sampai edukasi polisi agar lebih peduli lingkungan. 

Istilah kerennya yang digaungkan hari itu: “hijrah ekologis” berubah dari penegak hukum jadi penjaga semesta.

Di tengah suasana yang hening dan teduh, satu pesan jadi simpul dari semuanya. Menjaga bumi bukan pilihan, tapi kewajiban.

Jika filsuf bisa bilang burung punya hak hidup, sementara ulama bilang pohon itu makhluk yang berzikir, maka mungkin memang sudah saatnya kita lebih rendah hati sebagai manusia.*

 

 

 

 

 

Terbaru
Artikel Popular
politik
DKPP Terima 765 Aduan Pelanggaran Etik...
Selasa, 21 April 2026 | 20:10:00 WIB
KPK Beri Usulan untuk Revisi UU Parpol hingga...
Minggu, 19 April 2026 | 11:40:14 WIB
hukum
Nasional