Minggu | 15 September 2019
Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya Kumpulkan 103 Kantong Darah
Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya Jalan Bukit Barisan III, Pekanbaru.


Sabtu | 14 September 2019
5000 Lampion Hiasi Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya
Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya Jalan Bukit Barisan III, Pekanbaru,.


Jumat | 13 September 2019
Dihadiri Wagubri, Festival Kue Bulan di Pekanbaru Dipadati Warga
Meski diselimuti kabut asap, perayaan Festival Lampion Zhong Qiu di Jalan.

Rubrik : dunia
Kuburan Massal Ditemukan, 227 Korban Persembahan
Editor : wisly | Penulis: vivanews
Sabtu , 31 Agustus 2019
Diyakini korban persembahan

PERU - Para arkeolog di Peru telah menggali apa yang diyakini sebagai pengorbanan anak massal terbesar dalam sejarah. Jasad dari 227 korban yang berusia antara 5 hingga 14 tahun ditemukan di dekat pantai Huanchaco, di utara ibu kota Peru, Lima.

Anak-anak itu diyakini telah dikorbankan lebih dari 500 tahun lalu. Tempat pengorbanan massal anak-anak ini terjadi hampir setahun setelah 200 anak korban pengorbanan manusia ditemukan di dua lokasi lain di negara itu.

Para arkeolog mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa beberapa mayat yang ditemukan baru-baru ini masih memiliki rambut dan kulit yang menempel di tubuhnya.

Jasad anak-anak ini menunjukkan tanda bahwa mereka dibunuh pada saat musim hujan, dan dimakamkan menghadap laut, yang berarti mungkin mereka dikorbankan untuk menenangkan para dewa orang-orang Chimu. Belum jelas kapan peristiwa pengorbanan anak ini terjadi.

Orang-orang Chimu tinggal di sepanjang pantai utara Peru dan merupakan salah satu peradaban paling kuat di kawasan itu. Peradaban mereka mencapai puncaknya antara tahun 1200 dan 1400, sebelum akhirnya ditaklukkan oleh suku Inca, yang pada gilirannya kemudian ditaklukkan oleh Spanyol.
        
Mereka menyembah dewa bulan yang disebut Shi. Berbeda dengan suku Inca yang memercayai dewa matahari. Penyembah secara teratur menggunakan pengorbanan dan persembahan lainnya selama ritual spiritual.

Temuan ini muncul setelah lebih dari 200 anak yang menjadi korban persembahan ditemukan tahun lalu.

Penggalian terus dilakukan di situs pemakaman massal dan para arkeolog mengatakan masih banyak mayat yang ditemukan.

"Ini tidak terkendali, apa yang terjadi dengan anak-anak," ujar kepala arkeolog Feren Castillo kepada AFP.*




Berita Lainnya