|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Suasana pasar murah di Kelurahan Delima, Selasa (2/9) pagi, terasa berbeda. Senyum dan sapaan hangat menyambut kedatangan Gubernur Riau (Gubri), Abdul Wahid, yang turun langsung memantau kegiatan tersebut.
Warga yang tengah berbelanja tampak antusias. Wahid menyempatkan diri berbincang ringan, menyapa ibu-ibu yang membawa tas belanja, hingga berfoto bersama. Suasana yang biasanya serius berubah hangat dan penuh canda.
Dalam kunjungan itu, Gubri meninjau langsung harga dan ketersediaan sejumlah kebutuhan pokok. Beras, minyak, telur, dan bawang terpantau stabil dan terjangkau. Namun, untuk komoditas cabai, stok terlihat menipis sehingga membutuhkan perhatian khusus.
"Saya dapat laporan, hari ini cabai agak mahal karena pasokannya terbatas. Banyak yang masuk dari Jambi dan Sumatera Utara, sementara dari Sumatera Barat terkendala transportasi. Maka dari itu saya juga akan cek langsung ke pasar induk Pekanbaru," ujar Wahid.
Wahid menegaskan, program pasar murah merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menekan inflasi daerah, yang sebagian besar dipengaruhi harga pangan. Dengan harga yang stabil, masyarakat diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pokok tanpa terbebani.
"Sejauh ini harga pangan masih stabil. Gerakan pangan murah ini penting karena pangan merupakan penyumbang inflasi tertinggi di Riau," jelasnya.
Tidak hanya di Pekanbaru, pasar murah juga akan digelar di berbagai kabupaten/kota di Riau. Fokusnya pada daerah yang selama ini berkontribusi besar terhadap inflasi.
"Rencananya tanggal 13 saya ke Kabupaten Rokan Hulu, tanggal 15 ke Indragiri Hilir, lalu ke Rokan Hilir. Daerah-daerah ini penyumbang inflasi, jadi harus kita jaga harga pangannya," ungkapnya.
Wahid menekankan bahwa tujuan utama pasar murah bukan sekadar menjaga angka inflasi, tetapi juga memastikan semua lapisan masyarakat memiliki akses pangan dengan harga terjangkau.
"Harapannya, harga bisa stabil dan terjangkau. Sebenarnya mahal dan murah itu relatif, tergantung pendapatan. Kalau pendapatan bagus, harga mahal tidak jadi masalah. Tapi kalau pendapatan rendah, tentu harga tinggi menjadi beban. Itu yang ingin kita antisipasi," tuturnya.*