Minggu | 15 September 2019
Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya Kumpulkan 103 Kantong Darah
Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya Jalan Bukit Barisan III, Pekanbaru.


Sabtu | 14 September 2019
5000 Lampion Hiasi Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya
Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya Jalan Bukit Barisan III, Pekanbaru,.


Jumat | 13 September 2019
Dihadiri Wagubri, Festival Kue Bulan di Pekanbaru Dipadati Warga
Meski diselimuti kabut asap, perayaan Festival Lampion Zhong Qiu di Jalan.

Rubrik : nasional
Titik Panas Semakin Banyak, Hujan Diprediksi Akhir Oktober
Editor : wisly | Penulis: republika
Rabu , 11 September 2019
ilustrasi gunakan masker

JAKARTA - Banyaknya titik panas yang bahkan hingga terdeteksi di perbatasan Kalimantan Barat Indonesia dengan Serawak Malaysia, membuat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai hanya bisa dipadamkan secara tuntas dengan satu cara, yaitu air hujan. 

"Iya betul, hanya air hujan yang bisa memadamkan secara tuntas," kata Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo.

Dengan begitu, menurut Agus, ancaman karhutla agaknya belum akan berakhir pada bulan ini. Sebab, BMKG memprediksi musim hujan baru akan dimulai akhir Oktober atau awal November. Kendati demikian, Agus menegaskan, para pemangku kepentingan terkait akan terus berjibaku mengatasi karhutla.

Karhutla belum juga bisa teratasi meskipun berbagai upaya penanganan telah dilakukan kementerian dan lembaga terkait. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, masih terdapat 3.708 titik panas (hotspot) di berbagai wilayah Indonesia dalam 24 jam terakhir.

Kabut asap makin tebal di sejumlah daerah. Kabut asap itu juga sudah masuk kategori berbahaya bagi kesehatan masyarakat di sana.

Sementara, titik panas kategori tinggi ada sebanyak 1.475 titik. Kalimantan Tengah juga menjadi daerah dengan titik panas kategori tinggi terbanyak dengan jumlah 431 titik panas. Selanjutnya, disusul Kalimantan Barat (246 titik) dan Jambi (163 titik). Provinsi lainnya, seperti Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, dan Sulawesi Barat hanya terdapat puluhan titik panas.

Sambil menunggu musim hujan datang, Satgas Karhutla tetap melaksanakan pemadaman melalui jalur darat dan udara hingga menerapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC). Namun, kata Agus, water bombing dan pemadaman darat hanya untuk kebakaran yang masih kecil dan tidak luas.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) me nyatakan, penerapan modifikasi cuaca berupa hujan buatan terkendala minimnya bibit awan. Namun, berdasarkan laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bibit awan mulai terpantau muncul di sejumlah daerah.

Direktur Jenderal Pengen dalian Perubahan Iklim KLHK Ruandha Agung Sugadirman menyatakan, di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat sudah mulai terdapat pergerakan awan yang mencukupi menjadi bibit awan. Dengan demikian, pemerintah dapat segera melakukam modifikasi cuaca dengan hujan buatan.

"Kalau belum ada bibit awannya, memang kami belum bisa masif bikin hujan buatan. Tapi, di Kalimantan dari laporannya sudah ada (bibit awan)," kata dia kantor KLHK, Jakarta, Selasa (10/9).

Dia menjabarkan, saat ini hujan buatan yang telah dilakukan, antara lain, di kawasan Sumatra meliputi Riau dan Musi Banyuasin. Sementara di wilayah Sumatra Selatan, bibit awan masih minim sehingga belum mencukupi untuk dilakukan modifikasi cuaca.

Kepala BMKG Dwikorita Kar nawati menyatakan, hujan buatan hanya dimungkinkan terjadi apabila bibit awannya mencukupi. Saat ini, bibit awan baru terpantau terdapat di kawasan Kalimantan. Menurut Dwikorita, BMKG dan KLHK sejak beberapa bulan lalu telah melakukan persiapan modifikasi cuaca.

Namun sayangnya, bibit awan memang belum masif muncul di wilayahwilayah terdampak karhutla. "Kami siapkan (persiapan) sejak beberapa bulan lalu, tapi memang bibit awannya minim," ungkapnya.

Satgas Karhutla Riau melakukan pemadaman bara api kebakaran lahan gambut di Kabupaten Pelalawan, Riau.
BMKG memprediksi kemarau masih berlangsung di sejumlah daerah hingga akhir Oktober. Pada awal hingga pertengahan November, kata dia, kemungkinan adanya bibit awan dapat terjadi sehingga modifikasi cuaca dapat dilakukan secara masif. "Untuk bulan November dan selanjutnya, bahkan kami perkirakan hujan sudah masuk sehingga kita bisa terbantu untuk pemadaman," ujarnya menjelaskan.

KLHK mencatat luas karhutla pada periode Januari-Agus tus 2019 mencapai 328,724 hektare. Luasan karhutla didominasi oleh lahan mineral dibandingkan lahan gambut. Adapun luasan karhutla di lahan mineral dari Januari-Agustus 2019 seluas 239,161 hektare, sedangkan lahan gambutnya mencapai 89,563 hektare.

Mengacu pada statistik tersebut, wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi wilayah yang paling luas terjadi karhutla, yakni 108,368 hektare. "Itu (NTT) karena wilayahnya banyak ladang savananya, jadi mudah terbakar," kata Direktur Pengendalian Karhutla KLHK Raffles Panjaitan di KLHK.

KLHK terus melakukan pengendalian karhutla, seperti dengan pemadaman melalui udara dengan mekanisme water boombing. Hingga Jumat (6/9), sebanyak 66.349 water boombing telah dilakukan dengan volume air sebanyak 239,6 juta liter air.*




Berita Lainnya