Kamis | 07 Februari 2019
Butuh Kegigihan, Pengorbanan dan Kerja Keras
Wanita Tionghoa asal Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau, Dr Santy A Md AK SH.


Minggu | 03 Februari 2019
178 Siswa SPN Polda Riau Kunjungi Vihara Kwan Tee Kong Bio
Sekitar 178 siswa SPN Polda Riau berkunjung ke Ling Thian Miao (Vihara Satya.

Rubrik : Otonomi | Minggu, 24 Februari 2019
BRG: Kebakaran Lahan di Riau Jauh Dari Pemukiman Masyarakat
Editor : linda | Penulis:
Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, Kepala BRG, Nazir Foead, dan Gubernur Riau, H Syamsuar, di lokasi sekat kanal di Sabak Auh, Kabupaten Siak.


PEKANBARU -  Badan Restorasi Gambut (BRG) menyatakan  kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) yang melanda Provinsi Riau sepanjang awal 2019, jauh dari pemukiman masyarakat. Areal itu adalah lahan gambut yang belum dibasahi.

Kepala BRG, Nazir Foead, mengatakan, program pemulihan gambut  yang dilakukan BRG sejak 2016 lalu di Provinsi Riau selalu melibatkan pemerintah setempat dan masyarakat.  Dalam program restorasi tersebut, masyarakat kerap memilih lokasi pembasahan 
gambut dekat dengan pemukiman dan perkebunan. 
     
"Contohnya dari hamparan areal gambut rusak di sebuah desa dengan  luas mencapai 10.000 hektare, BRG dan mitra dengan keterbatasan hanya mampu membasahi gambut seluas 2.500 hektare. Umumnya masyarakat memilih areal gambut dengan pemukiman dan kebun 
mereka sehingga kalau ada api, pemukiman, sekolah dan kebun  mereka aman," jelas Nazir, Jumat (22/2) lalu.

Menurut Nazir, untuk areal gambut yang belum masuk dalam  intervensi BRG,  masih menjadi pekerjaan rumah karena masih terbakar pada awal 2019.  Berdasarkan data yang dikeluarkan 
Universitas Riau tercatat luas lahan gambut Riau mencapai 4,8 juta  hektare, atau 51,06 persen dari total luas Riau. 
     
Sementara itu, dari total luas lahan gambut di Provinsi Riau  tersebut, Nazir mengatakan sebagian di antaranya mengalami kerusakan, mulai tingkat sedang hingga parah. "Kita tahu setengah lebih dari Riau itu berupa gambut. Kerusakan mulai terjadi puluhan  tahun lalu hingga butuh waktu lama untuk memulihkannya," tutur Nazir.

Untuk memulihkannya, salah satu langkah dilakukan BRG adalah  membangun 1.126 sekat kanal selama tahun 2017-2018. Mayoritas sekat kanal yang dibangun tersebut berada di sekitar areal pemukiman masyarakat. 

"Mayoritas sekat kanal yang dibangun tersebut berada di sekitar areal  pemukiman masyarakat. Langkah untuk menjadikan sekat kanal sebagai lokasi agrowisata dan tempat budidaya ikan merupakan langkah baik sebagai bagian penyelamatan gambut.," tutur Nazir. 

Sepanjang 2019 ini, lebih dari 850 hektare lahan terbakar di Provinsi  Riau. Kebakaran terluas terjadi di Kabupaten Bengkalis. Bahkan, hingga hari ini upaya penanggulangan masih terus dilakukan, tepatnya di Pulau Rupat, Bengkalis.

Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn)  Moeldoko, mengapresiasi penanganan Karhutla dan langkah yang telah dilakukan BRG. Ia mengatakan, Riau jadi salah satu provinsi di Indonesia yang jadi atensi bencana Karhutla, salain Kalimantan Barat 
dan Kalimantan Selatan.

Untuk melihat kondisi Karhutla di Riau, Moeldoko mengunjungi  Kota Dumai, Kabupaten Siak dan Bengkalis yang merupakan daerah sering terjadi Karhutla. Ia meminta agar upaya penanggulangan terus digesa. "Terus lakukan pencegahan agar Karhutla tidak terjadi lagi," 
tegas dia, didampingi Gubernur Riau, H Syamsuar.

Moeldoko juga melihat sekat kanal yang diinisiasi oleh BRG di  Kampung Bandar Sungai, Kecamatan Sabak Auh, Kabupaten Siak. Ke depan, ia menyarankan agar daerah ini menjadi lokasi wisata berbasis pertanian serta dimaksimalkan sebagai lokasi budidaya ikan 
sungai. 

Gubernur Riau, Syamsuar, yang mendampingi Moeldoko  mengatakan saat ini pemerintah pusat telah membantu dua unit helikopter guna menanggulangi Karhutla yang terjadi di Riau. Kedua helikopter tersebut berasal dari Badan Nasional Penanggulangan  Bencana (BNPB) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (lda)



Berita Lainnya