|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Maha Vihara dan Pusdiklat Bumi Suci Maitreya (PBSM) Jalan Bukit Barisan III (Riau Ujung) Pekanbaru menghadirkan berbagai kegiatan untuk memeriahkan Festival Pertengahan Musim Gugur yang dikenal sebagai Festival Kue Bulan atau Mid-Autumn Festival. Terdapat ribuan lampion hingga pasar malam.
Pengunjung dapat menikmati suasana malam sekaligus mengenal tradisi kue bulan yang merupakan festival penting masyarakat Tionghoa di seluruh penjuru dunia. Festival diperingati bulan 8 tanggal 15 Kalender Imlek bertepatan dengan tanggal 25 September 2026.
Ketua Panitia Mid-Autumn Festival Maha Vihara dan PBSM, Azwar Lie mengatakan, berbagai kegiatan dilaksanakan untuk memeriahkan Mid-Autumn Festival sekaligus merayakan ulang tahun ke-19 Maha Vihara dan PBSM. "Perayaan dilaksanakan mulai tanggal 25 hingga 27 September mendatang. Salah satu tujuannya untuk melestarikan dan mengenalkan budaya Tionghoa," katanya.
Untuk pasar malam, lanjutnya, terdapat sekitar 46 stan, mulai dari stan kuliner vegetarian, aksesoris, rumah sakit, permainan dan lainnya. Kemudian terdapat lomba masak makanan vegetarian, panggung kesenian, lucky draw serta photo booth lampion karakter.
"Tahun ini, Mid-Autumn Festival di Maha Vihara dan PBSM lebih meriah dan terbuka untuk umum. Diperkirakan terdapat ribuan pengunjung yang datang selama perayaan," jelasnya sambil mengatakan Pasar Malam dimulai pukul 16.00 hingga 21.00 WIB.
Selain itu, terpasang ribuan lampion di Maha Vihara dan PBSM Lampion dan lokasi Pasar malam. Lampion sebagai simbol harapan, keberuntungan dan masa depan yang cerah.
Sementara itu, Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Riau, Dr. Kurniadi, SE, MH, Bds mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada panitia yang telah melaksanakan kegiatan. "Semoga perayaan Mid-Autumn Festival berjalan sukses dan lancar," tegasnya.
Pada malam pertama perayaan Mid-Autumn Festival, Jumat (25/9/2026), tampak masyarakat sangat antusias menikmati menu-menu vegetarian atau menyaksikan indahnya lampion di malam hari. Masyarakat yang datang terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja hingga keluarga. Bahkan Banyak yang datang untuk berswafoto di bawah lampion.
Bentuk Rasa Syukur
Mid-Autumn Festival sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah dengan simbol kue bulan yang berbentuk bulat seperti bulan purnama. Kue bulan melambangkan keutuhan dan keharmonisan. Merupakan simbol kemakmuran dan panjang umur.
Mid-Autumn Festival mengajarkan pentingnya menjaga hubungan antar anggota keluarga. Menjadi momen untuk berkumpul bersama orang tua, saudara maupun kerabat.
Humas Maha Vihara dan PBSM, Romo Ket Tjing mengatakan, warga Tionghoa melaksanakan ritual atau doa kepada tuhan, terutama kepada dewi bulan sebagai bentuk rasa syukur.
"Seperti di vihara-vihara Majelis Pandita Buddha Maitreya melaksanakan kebaktian pada hari H Mid-Autumn Festival. Berdoa kepada tuhan, para Buddha, Bodhisattva agar dijauhkan dari segala bencana, sehingga hidup lebih baik, sejahtera dan bahagia," ungkapnya.
Sejarah Kue Bulan
Adapun sejarah Festival Kue Bulan telah berlangsung lebih dari 3.000 tahun. Bermula dari tradisi masyarakat Tiongkok kuno yang memberikan penghormatan kepada bulan saat musim panen tiba. Tradisi tersebut kemudian berkembang pada masa Dinasti Tang (618–907 M) dan semakin populer pada era Dinasti Song (960–1279 M), ketika perayaan bulan purnama mulai dilakukan secara besar-besaran oleh masyarakat.
Salah satu legenda yang paling terkenal berkaitan dengan Festival Kue Bulan adalah kisah Chang'e, dewi bulan dalam mitologi Tiongkok. Dikisahkan bahwa Chang'e meminum ramuan keabadian dan kemudian tinggal di bulan. Sejak saat itu, masyarakat memberikan penghormatan kepada bulan sebagai simbol cinta, pengorbanan, dan harapan.
Selain legenda Chang'e, terdapat pula cerita yang mengaitkan mooncake dengan perjuangan rakyat Tiongkok pada akhir Dinasti Yuan. Konon, pesan rahasia untuk melakukan pemberontakan disembunyikan di dalam mooncake dan dibagikan kepada masyarakat. Meski kisah ini lebih bersifat legenda daripada fakta sejarah yang dapat dipastikan, cerita tersebut semakin memperkaya nilai budaya Festival Kue Bulan.*