Okt 2026
02

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Pemujaan Kepada Dewa Cap Sa Thai Po di Pedekik Bengkalis
huawen | Jumat, 2 Oktober 2026 | 14:59:57 WIB
Editor : wislysusanto | Penulis : *
Dewa Cap Sa Thai Po

Penulis:
Sonika 李田桑, Tokoh Buddha asal Pedekik Bengkalis

Perayaan ulang tahun Dewa Cap Sa Thai Po merupakan salah satu tradisi tahunan masyarakat Tionghoa di Desa Pedekik, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau. Ibadah dan perayaan ini berpusat di Tridharma Hock Poh Kiong  (Tempat IbadahTri Dharma/Kelenteng Hock Poh Kiong) yang terletak di wilayah Desa Pedekik.

Secara harfiah, nama "Cap Sa Thai Po"(十三太保 - Shísān tàibǎo) dalam tradisi kepercayaan Tionghoa merujuk pada 13 Pangeran Muda/Dewa Pelindung yang merupakan manifestasi atau anak angkat dari Guang Ze Zun Wang (dikenal meluas dengan nama Kong Tik Cun Ong).

Baca :

Oleh sebab itu, perayaan hari besar keagamaan di kelenteng ini seringkali disatukan atau disebut sebagai HUT Dewa Kong Tik Cun Ong - Cap Sa Thai Po.

1. Asal-Usul Istilah Cap Sa Thai Po
Cap Sa Thai Po adalah Tiga Belas Pelindung, secara umum, merujuk pada para pahlawan bela diri yang sangat terampil melindungi tuan mereka. Kaisar Taizu dari Dinasti Tang Akhir, Li Keyong, mengadopsi tiga belas putra, yang dikenal sebagai Tiga Belas Pelindung. Di antara mereka, pelindung ketiga belas, Li Cunxiao, adalah yang paling terampil dalam bela diri. Li Cunxiao pemberani dan tak terkalahkan, sering memimpin kavaleri sebagai garda depan.

Ia mengenakan baju besi berat, membawa busur dan anak panah, dan menggunakan tombak panjang. Orang-orang mengatakan bahwa tidak ada yang bisa melampaui Xiang Yu dalam sastra, dan tidak ada yang bisa melampaui Li Cunxiao dalam bela diri; ribuan orang akan gemetar ketakutan di hadapannya. Yang paling aneh, ia membawa dua kuda di medan perang karena ia akan berganti kuda jika kuda pertamanya sedikit lelah.

Tidak ada jenderal Li Keyong yang dapat menandingi kehebatan bela dirinya, yang membangkitkan kecemburuan anggota Tiga Belas Pelindung lainnya. Mereka menabur perselisihan, menyebabkan Li Cunxiao mengkhianati Li Keyong.

Li Cunxiao hanyalah seorang prajurit biasa, sementara Li Keyong adalah seorang ahli strategi yang licik dan berpengalaman. Li Keyong dengan mudah memperdayainya, dan meskipun Li Cunxiao memiliki keterampilan bela diri yang unggul, ia bukanlah tandingan Li Keyong.

Setelah ditangkap dan dibawa kembali ke Taiyuan, Li Keyong memerintahkan agar tubuhnya dicabik-cabik oleh lima kuda. Li Keyong sangat sedih dan patah hati; jenderal kesayangannya telah mengkhianatinya dan kini dibunuh secara brutal.

Setiap kali Li Keyong berbicara tentang Li Cunxiao, air mata mengalir di wajahnya. Dalam sejarah kebudayaan dan mitologi Tionghoa, Cap Sa Thai Po berarti 13 Wali Agung atau 13 Pangeran. Berdasarkan catatan sejarah di Tiongkok:

a. Tradisi ini berakar dari penghormatan terhadap bǎo'ān guǎngzé zūnwáng sān tàibǎo (Dewa Mulia yang Memberi Berkah melimpah), dewa pelindung yang sangat dihormati oleh masyarakat beretnis Hokkien.

b. Cap Sa Thai Po dipercaya sebagai 13 putra atau jenderal spiritual yang membantu Kong Tik Cun Ong dalam menjaga kedamaian, menyembuhkan penyakit, dan mengusir roh jahat.

c. Nama Cap Sa Thai Po juga populer di dunia pengobatan herbal Tionghoa sebagai nama resep ramuan legendaris untuk kesehatan ibu hamil/pascamelahirkan (Ramuan Cap Sa Thai Po), karena sejarah dewa-dewa tersebut yang kerap dikaitkan dengan berkat perlindungan keluarga dan kesehatan.

2. Keberadaan Tradisi di Desa Pedekik, Bengkalis
a. Pusat Kegiatan: Sejarah pemujaan Dewa Cap Sa Thai Po di Pedekik melekat erat dengan pendirian Tridharma Hock Poh Kiong. Tempat ibadah ini menjadi wadah kebudayaan, termasuk sebagai markas bagi Kelompok Seni dan Budaya Hock Poh Kiong

b. HUT Perayaan: Hari ulang tahun (Se Jit) Dewa Cap Sa Thai Po di Pedekik dirayakan dua kali setahun berdasarkan kalender lunar (Imlek), salah satunya jatuh sekitar bulan Maret/April 2 gwe 22 (seperti pada 8–9 April) dan perayaan lainnya pada bulan Oktober (seperti 1–2 Oktober). 8 gwe 22.

3. Rangkaian Ritual Tradisional
Sejarah perayaan Dewa Cap Sa Thai Po di Bengkalis mempertahankan ritual asli yang dibawa oleh leluhur Tionghoa perantauan, di antaranya:

a. Malam Hiburan & Sembahyang Bersama: Pengurus kelenteng mengundang masyarakat luas dan mengadakan panggung hiburan rakyat.
b. Aksi Tatung (Lo tang): Pada hari puncak, diadakan ritual khusus di mana para perantara dewa (Tatung/Tangki) menunjukkan kekebalan tubuh atau melakukan pawai keliling untuk membersihkan wilayah dari energi negatif dan memberikan berkat keselamatan kepada warga.
c. Simbol Toleransi: Pemerintahan Bengkalis, menunjukkan bahwa sejarah perayaan dewa ini telah bertransformasi menjadi simbol kerukunan harmonis umat beragama dan kekayaan budaya lokal di Pulau Bengkalis.

4. Pengalaman Intuisi Sonika,S.E., S.Ag., M.Pd.,李田桑
Sebagai Anak Kelahiran Pedekik Bengkalis, seorang tokoh masyarakat Buddha Riau, juga penulis, dan Dosen pada beberapa Perguruan Tinggi di Pekanbaru, mempunyai pengalaman unik ketika masih kecil, sering berkebaktian (puja bakti) sembahyang kepada Pada Buddha/ Bodhisatva dan Dewa/Dewi di Kelenteng Cap Sa Thai Po, Pedekik, yang diajarkan oleh keteladanan Ayahanda dulunya sudah di berada di Pedekik, menjadi pemujaan masyarakat Tionghoa Tridharma saat itu.

Sonika juga rajin melaksanakan sembahyang setiap sore harinya karena kebetulan letaknya tidak jauh di belakang rumah. Apa yang dilakukan Sonika ketika itu, bermohon mendapatkan petunjuk Jalan benar kepada Dewa/i tersebut. Semua berlangsung dengan cepat, sudah berlalu lebih puluhan tahun dalam perjalanan memuja kepada Dewa di Pedekik, kemudian Kelenteng berpindah ke Jalan Tengah Pedekik/Kelapapati, mudahan ini menjadi tempat memabngun keimanan umat Buddha Tridharma umumnya di Pedekik.

Masa kecil Sonika tidak pernah melewatkan Hari Ulang Tahun Dewa Capsa Thaipo, bahkan mengikutinya puja bakti sembahyang dari malam sampai pagi di kelenteng tersebut, sangat senang bahagia bisa mengikuti langkah pengorbanan orang suci.

Pengakuan Sonika tiap ada waktu misalnya hari minggu, tetap berkarya membersihkan kelenteng Cap Sa Thaipo, sambil menancapkan hio/dupa, juga belajar menenangkan hati sendirian, pengalaman inilah membuatnya terus terjun di bidang keagamaan dan sosial, berkat lindungan dan petunjuk para Buddha, Bodhisatva dan Dewa dalam kepercayaannya.

Selamat Hari Ulang Tahun Dewa Suci “Cap Sa Thai Po”, Semoga semua berbahagia merayakannya. (Direlease kembali dari berbagai media)*

 

Terbaru
huawen
Pemujaan Kepada Dewa Cap Sa Thai Po di Pedekik Bengkalis
Jumat, 2 Oktober 2026 | 14:59:57 WIB
otomotif
QJMotor Resmi Masuk Riau, Buka Dealer 3S di Jalan SM Amin Pekanbaru
Jumat, 2 Oktober 2026 | 13:34:14 WIB
potensa
Manjakan Nasabah, Danamon Hadirkan Hadiah Beruntun Spesial
Jumat, 2 Oktober 2026 | 10:26:10 WIB
politik
Bistamam Maju Calon Ketua Golkar Rohil
Kamis, 1 Oktober 2026 | 18:30:33 WIB
potensa
Asian Agri Dukung Ekonomi Masyarakat Menuju Pertumbuhan Inklusif
Kamis, 1 Oktober 2026 | 11:54:27 WIB
potensa
Polsek Minas Gandeng PT RAL dan Petani Rantau Bertuah
Kamis, 1 Oktober 2026 | 11:28:17 WIB
inhu
Ini Tanggapan dan Langkah Pemkab Inhu Setelah APBD-P Ditolak
Kamis, 1 Oktober 2026 | 10:49:48 WIB
Artikel Popular
3
politik
Bistamam Maju Calon Ketua Golkar...
Kamis, 1 Oktober 2026 | 18:30:33 WIB
Helena Ditunjuk Jadi Ketua Badan Rescue NasDem...
Rabu, 30 September 2026 | 20:16:04 WIB
hukum
Brigjen Simson Zet Ringu Resmi Jabat Wakapolda Riau...
Sabtu, 26 September 2026 | 13:36:30 WIB
Nasional