Senin | 24 Februari 2020
Perayaan HUT Dewa Tua Pek Kong di Vihara Hock Tek Kiong
Vihara Hock Tek Kiong Jalan Lintas Pekanbaru - Duri km 73, Desa Berutu, Minggu.


Sabtu | 15 Februari 2020
PSMTI Riau Gelar Seminar Bisnis Untuk Bersaing di Era Digital
Sekitar 120 peserta mengikuti seminar dengan tema "Siapkah Bisnis Anda.


Minggu | 09 Februari 2020
IKTS Gelar Imlek Bersama
Ikatan Keluarga Tionghua Selatpanjang dan Sekitarnya (IKTS) menggelar Imlek.

Rubrik : dunia
AS Masukkan Perusahaan Teknologi China ke Daftar Hitam
Editor : wisly | Penulis: republika
Selasa , 08 Oktober 2019
ilustrasi

WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) memasukkan sekelompok perusahaan China yang mengembangkan teknologi pengenal wajah dan kecerdasan artifisial lainnya. Alasan AS karena perusahaan-perusahaan itu mengembangkan teknologi yang digunakan untuk menekan kelompok minoritas di China.

Langkah Departemen Perdagangan AS tersebut dilakukan pada Selasa (8/10). Mereka memasukkan perusahan-perusahaan ke dalam apa yang dinamakan Daftar Entitas.

"Pemerintah AS dan Departemen Perdagangan tidak dapat dan tidak akan menoleransi penindasan brutal etnis minoritas di China," kata Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross.

Perusahaan-perusahaan teknologi China itu dianggap telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kepentingan kebijakan luar negeri AS. Hal itu membuat perusahaan-perusahaan AS dilarang menjual teknologi ke perusahaan China yang dimasukkan ke dalam daftar hitum tanpa persetujuan pemerintah.

Perusahaan China yang dimasukkan ke daftar hitam itu, salah satunya Hikvision, perusahaan penyedia teknologi video pengawasan. Perusahaan kecerdasan artifisial China lainnya seperti Sense Time, Megvii, dan iFlyfek juga masuk dalam daftar hitam.

Sebelumnya, Departemen Perdagangan Cina memasukkan Huawei dan 100 afiliasinya ke dalam Daftar Entitas. Masuknya Huawei ke daftar itu merugikan banyak pedagang AS yang bergantung dengan pendapatan dari penjualan produk perusahaan telekomunikasi raksasa itu.  

Washington dan kelompok-kelompok hak asasi manusia mengecam China. Hal itu karena membangun fasilitas yang para pakar PBB gambarkan sebagai pusat penahanan massal lebih dari 1 juta etnik Uighur dan masyarakat minoritas muslim lainnya.

Pada April, sekelompok anggota parlemen AS mendesak langkah untuk menekan perusahaan China. Sebab telah 'terlibat dalam pelanggaran hak asasi'. Mereka menyinggung Hikvision.*




Berita Lainnya