Selasa | 15 Oktober 2019
PUB Bodhisattva Mahasthamaprapta Pekanbaru Kunjungi Panti Asuhan Rumah Bahagia
Menyambut Hari Besar Bodhisattva Mahasthamaprapta (Se Thian Putco ), Persamuan.


Minggu | 29 September 2019
Pengurus IKTS Periode 2019-2022 Resmi Dilantik
Pengurus Ikatan Keluarga Tionghua Selatpanjang & Sekitarnya (IKTS) periode.


Senin | 23 September 2019
Umat Buddha Pekanbaru Doa Bersama Minta Hujan di Vihara Surya Dharma
Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Kota.

Rubrik : dunia
AS Masukkan Perusahaan Teknologi China ke Daftar Hitam
Editor : wisly | Penulis: republika
Selasa , 08 Oktober 2019
ilustrasi

WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) memasukkan sekelompok perusahaan China yang mengembangkan teknologi pengenal wajah dan kecerdasan artifisial lainnya. Alasan AS karena perusahaan-perusahaan itu mengembangkan teknologi yang digunakan untuk menekan kelompok minoritas di China.

Langkah Departemen Perdagangan AS tersebut dilakukan pada Selasa (8/10). Mereka memasukkan perusahan-perusahaan ke dalam apa yang dinamakan Daftar Entitas.

"Pemerintah AS dan Departemen Perdagangan tidak dapat dan tidak akan menoleransi penindasan brutal etnis minoritas di China," kata Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross.

Perusahaan-perusahaan teknologi China itu dianggap telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kepentingan kebijakan luar negeri AS. Hal itu membuat perusahaan-perusahaan AS dilarang menjual teknologi ke perusahaan China yang dimasukkan ke dalam daftar hitum tanpa persetujuan pemerintah.

Perusahaan China yang dimasukkan ke daftar hitam itu, salah satunya Hikvision, perusahaan penyedia teknologi video pengawasan. Perusahaan kecerdasan artifisial China lainnya seperti Sense Time, Megvii, dan iFlyfek juga masuk dalam daftar hitam.

Sebelumnya, Departemen Perdagangan Cina memasukkan Huawei dan 100 afiliasinya ke dalam Daftar Entitas. Masuknya Huawei ke daftar itu merugikan banyak pedagang AS yang bergantung dengan pendapatan dari penjualan produk perusahaan telekomunikasi raksasa itu.  

Washington dan kelompok-kelompok hak asasi manusia mengecam China. Hal itu karena membangun fasilitas yang para pakar PBB gambarkan sebagai pusat penahanan massal lebih dari 1 juta etnik Uighur dan masyarakat minoritas muslim lainnya.

Pada April, sekelompok anggota parlemen AS mendesak langkah untuk menekan perusahaan China. Sebab telah 'terlibat dalam pelanggaran hak asasi'. Mereka menyinggung Hikvision.*




Berita Lainnya