Selasa | 15 Oktober 2019
PUB Bodhisattva Mahasthamaprapta Pekanbaru Kunjungi Panti Asuhan Rumah Bahagia
Menyambut Hari Besar Bodhisattva Mahasthamaprapta (Se Thian Putco ), Persamuan.


Minggu | 29 September 2019
Pengurus IKTS Periode 2019-2022 Resmi Dilantik
Pengurus Ikatan Keluarga Tionghua Selatpanjang & Sekitarnya (IKTS) periode.


Senin | 23 September 2019
Umat Buddha Pekanbaru Doa Bersama Minta Hujan di Vihara Surya Dharma
Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Kota.

Rubrik : pekanbaru
Libatkan 50 Dokter RS Swasta dan Pemerintah
KNCV dan Diskes Pekanbaru Gelar Workshop Jejaring Layanan TBC
Editor : putrajaya | Penulis: Ap
Selasa , 08 Oktober 2019
Para peserta sesi I Workshop Penguatan Jejaring Layanan TBC, Selasa (08/2019) di Hotel Pangeran, Pekanbaru. [Ist]

Pekanbaru - TBC atau tuberculosis adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang dan merusak jaringan tubuh manusia. Bakteri tersebut dapat ditularkan melalui saluran udara. TBC biasanya menyerang paru-paru, namun bisa juga menyebar ke tulang, kelenjar getah bening, sistem saraf pusat, jantung, dan organ lainnya.

Indonesia, pengendalian masalah (TBC) sudah dimulai dimulai sejak tahun 1985. Dengan menggunakan strategi DOTS yang direkomendasikan WHO, penanganannya melibatkan mitra-mitra pemerintah, dalam hal ini Dinas Kesehatan, yang konsen terhadap pencegahan penyakit TBC, salah satu  Yayasan KNCV Indonesia (YKI),  sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang kesehatan, khususnya Tuberkulosis (TB).

Salah satu kegiatan yang dilaksanakan yayasan ini di Pekanbaru yakni menggelar Workshop Penguatan Jejaring Layanan TBC di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut. Pelatihan ini melibatkan puluhan dokter dan tenaga medis dari 30 rumah sakit yang terdiri 4 rumah sakit pemerintah, dan sisanya rumah sakit swasta.


Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Muhammad Amin mengatakan, sebagai negara dengan jumlah penderita TBC tertinggi ke 3 di dunia, pemerintah akan melakukan berbagai upaya untuk menekan jumlah penderita penyakit paru-paru tersebut.

“TBC itu masih seperti gunung es. Atasnya terlihat kecil,  namun dibawah besar. Terlihat sedikit, tapi sebenarnya banyak yang tercatat,” kata Muhammad Amin, Selasa (08/2019) di Hotel Pangeran, Pekanbaru.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru,  Maisel Fidayesi, S.Farm. Apt, MM mengungkapkan, Dinkes Kota Pekanbaru,  terus menggencarkan gerakan temukan tuberkoulosis obati sampai sembuh. Selain itu, pihaknya juga mengupayakan penemuan pasien secara masif, sekaligus mendorong pasien TBC untuk memeriksakan diri dan melakukan pengobatan hingga tuntas.

"Setiap orang perlu memeriksakan diri secara dini mungkin bila menunjukkan gejala penyakit TB agar dapat segera diobati sampai sembuh dengan demikian kelak tidak ada lagi sumber penularan penyakit tuberkulosis pada masyarakat," katanya.

Ia menambahkan, permasalahan program TB Paru di Pekanbaru, adalah belum ada regulasi daerah mengenai program TB paru tersebut, serta kesadaran masyarakat mengenai penyakit TB Paru belum optimal sehingga penemuan kasus TB paru secara aktif perlu lebih ditingkatkan.

Untuk diketahui, Workshop Jejaring Layanan TB ini digelar selama tiga hari, yakni Selasa (08/2019), Rabu (09/2019) dan Kamis (10/2019)  dengan narasumber yang merupakan fasilitator Kopi TB Provinsi Riau, Kopi TB Pekanbaru, IO PPM KNCV dan Dinas Kota Pekanbaru. "Ada 4 Batch, dan hari ini, Selasa merupakan Batch 1 ,"  (ap)




Berita Lainnya