Minggu | 08 Desember 2019
Masjid Cheng Ho Rohil akan Datangkan 5.000 Pengunjung Setiap Bulan
Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) meyakini objek wisata religi masjid.


Minggu | 08 Desember 2019
PSMTI Dapat Membantu Pembangunan dan Mensejahterakan Masyarakat Riau
Warga Tionghoa sangat berperan dalam perkembangan ekonomi di Provinsi Riau..


Kamis | 05 Desember 2019
PSMTI Riau Audiensi Dengan Wagubri
Menjelang pengukuhan dewan dan pelantikan pengurus Paguyuban Sosial Marga.

Rubrik : huawen
Sosok Cheng Ho, Pelaut Muslim yang Jadi Simbol Diplomasi China Modern
Editor : wisly | Penulis: republika.co.id
Selasa , 26 November 2019
Upacara pembukaan Olimpiade Beijing 2008 memiliki segmen besar yang didedikasikan untuk pelayaran Cheng Ho.

JAKARTA - Cheng Ho, atau Zheng He dalam bahasa China, adalah seorang Muslim berperawakan tinggi yang pernah berlayar dari China hingga ke pantai Afrika.

Di saat dunia mengecam pemerintah China atas tindakan mereka terhadap umat Muslim di negaranya, Partai Komunis China justru mengobarkan kembali mitos Cheng Ho, seorang laksamana angkatan laut yang memimpin pelayaran di awal abad ke-15.

Tak heran jika Presiden China, Xi Jinping, terus menerus menyebut sosok Cheng Ho sebagai simbol persahabatan dengan dunia saat ia mempromosikan inisiatif One Belt, One Road dari Asia ke Eropa.

Cheng Ho telah digunakan oleh Presiden Jinping sebagai simbol persahabatan China dengan dunia, khususnya di Asia Tenggara dan kekuasaan China yang damai.

Sosok Cheng Ho diberi julukan sebagai Columbus dari China, namanya bahkan menginspirasi sebuah kedai kopi yang trendi di Melbourne, Australia.

Tapi apakah Cheng Ho telah dijadikan simbol agar kita percaya diplomasi China?

Memimpin pelayaran ke seluruh dunia satu abad sebelum Christopher Columbus mencapai Amerika, Cheng Ho digambarkan sebagai salah satu penjelajah terhebat sepanjang masa.

Ia terlahir dengan nama Ma He pada 1371 di provinsi Yunnan, China Selatan. Orang tuanya barasal dari etnis minoritas Hui, yang mayoritas Muslim.

Sosok keluarganya sedikit diketahui, tapi ayah dan kakek Cheng Ho pernah menunaikan ibadah haji ke Mekah, yang jaraknya lebih dari 5.000 kilometer dari China.

Nama Ma, turunan dari kata Muhammad dalam Bahasa China, diganti menjadi Cheng, nama yang dianugerahkan kepadanya oleh kaisar Ming saat ia naik ke pangkat tertinggi dalam hierarki keluarga kekaisaran.

Cheng Ho memimpin serangkaian pelayaran tak tertandingi antara tahun 1405 dan 1433, memimpin lebih dari 20.000 orang kru dengan armada laut paling maju di dunia saat itu, dengan lebih dari 100 kapal .

Di saat armadanya memamerkan kekuatan dan kehebatan angkatan laut China, sejarah China ortodoks menggambarkannya sebagai sosok yang tidak pernah terlibat dalam diplomasi perang, tapi lebih menjalin persahabatan dengan para pemimpin asing.

"Dia tidak pernah menjajah sepetak tanah pun, atau membangun benteng apa pun, atau merebut kekayaan apa pun dari negara lain," kata wakil menteri komunikasi China Xu Zu-yuan pada 2004.

"Dalam kegiatan komersial dan perdagangan, dia memberi lebih dari yang diterimanya, dan dengan demikian dia disambut dan dipuji oleh orang-orang dari berbagai negara di sepanjang rute perjalanannya."

Penggambaran ini jelas merupakan sosok yang hendak China kedepankan kepada dunia internasional sekarang ini. Bahkan Angkatan Laut China telah menamakan salah satu kapalnya, "Cheng Ho".

Tahun 2012, kapal tersebut melakukan "misi harmonis" ke negara-negara di kawasan Asia, seperti Indonesia, Vietnam, Malaysia, bahkan hingga ke India, Italia, dan Kanada dengan tujuan memperkuat hubungan dengan angkatan laut asing.

Cheng Ho adalah "orang kunci yang mewakili Jalur Sutra maritim", kata Dr. Sow Keat Tok dari Institut Asia di Universitas Melbourne.

Warisan penjelajah itu banyak bertebaran di Asia Tenggara, sebuah fakta yang China tekankan saat berurusan dengan kawasan tersebut.

"Jika Anda melihat bagaimana Cheng Ho dibicarakan dalam cerita rakyat umumnya positif," kata Dr Tok kepada ABC.

Di Indonesia dan Malaysia, Cheng Ho memegang status khusus atas peranannya dalam menyebarkan Islam. Ia dikenang lewat bangunan masjid, kuil, dan museum di sejumlah kepulauan.

Sejarawan dari Universitas Xiamen, Liao Dake telah menulis bahwa Cheng Ho telah "mendukung kemerdekaan kerajaan Melaka, memberikan kekuatan pendorong untuk penyebaran Islam".

Meski China menekankan sifat yang bisa dibilang damai dari penjelajahannya, beberapa pengamat di dunia Barat melihat hal yang lain.

Tahun lalu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat saat itu, James Mattis menyatakan China memiliki "rencana jangka panjang untuk menulis ulang tatanan global yang ada".

"Dinasti Ming sepertinya menjadi panutan mereka, meskipun dengan cara yang lebih keras, dan menuntut negara-negara lain menjadi negara yang harus mengikuti China, menganut One Belt, One Road."

Geoff Wade, seorang sejarawan Australia yang fokus pada keterlibatan China dengan Asia Tenggara, berpendapat bahwa pelayaran Cheng Ho merupakan bentuk "proto-kolonialisme maritim".

Dalam kasus Vietnam, misalnya, Dr Wade menulis "penjelajahan yang dilakukan Cheng Ho juga melibatkan invasi, pendudukan, pemberlakukan administrasi militer dan sipil, eksploitasi ekonomi, dan pengadilan di ibukota yang didominasi kekuasaan".

Dr Wade juga menulis pelayaran Cheng Ho "melibatkan penggunaan kekuatan militer besar untuk menyerang orang-orang yang secara etnis berbeda dari China, menduduki wilayah mereka, memecah wilayahnya menjadi unit-unit administrasi yang lebih kecil, kemudian menunjuk para penguasa dan penasihat yang bisa diatur, dan mengeksploitasi ekonomi daerah yang dikuasai".

Interpretasi yang sangat berbeda atas sejarah Cheng Ho ini mencerminkan perdebatan kontemporer di Asia, Afrika dan Pasifik.

Apakah kekuatan China mencari hubungan yang saling menguntungkan dengan negara-negara kecil, atau sebaliknya sebagi negara pengganggu yang mengeksploitasi mereka secara ekonomi?

Etnis Hui di China secara budaya lebih mirip dengan mayoritas etnis Han, karenanya sampai saat ini belum menjadi target pemerintah China, seperti yang dialami etnis Uyghur Turki.

Tapi organisasi dunia Human Rights Watch menggambarkan telah terjadi "peningkatan pengawasan" terhadap masyarakat Hui di provinsi asal mereka, Ningxia.

Pihak berwenang telah memerintahkan masjid-masjid yang dianggap terlalu bergaya Arab untuk diubah atau dihancurkan, sebagai bagian dari kebijakan yang lebih luas untuk "membuat Islam sesuai karakter China".*

Artikel ini telah disunting dari laporan aslinya dalam bahasa Inggris




Berita Lainnya