Minggu | 08 Desember 2019
Masjid Cheng Ho Rohil akan Datangkan 5.000 Pengunjung Setiap Bulan
Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) meyakini objek wisata religi masjid.


Minggu | 08 Desember 2019
PSMTI Dapat Membantu Pembangunan dan Mensejahterakan Masyarakat Riau
Warga Tionghoa sangat berperan dalam perkembangan ekonomi di Provinsi Riau..


Kamis | 05 Desember 2019
PSMTI Riau Audiensi Dengan Wagubri
Menjelang pengukuhan dewan dan pelantikan pengurus Paguyuban Sosial Marga.

Rubrik : meranti
DBD Meningkat Drastis di Meranti, KLB Belum Bisa Ditetapkan
Editor : wisly | Penulis: Ali
Senin , 02 Desember 2019
ilustrasi

SELATPANJANG - Jumlah pasien penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kepulauan Meranti meningkat drastis. Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat, hingga 1 Desember 2019, kasus DBD telah mencapai 105 orang. 

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit Dinkes Kepulauan Meranti, Muhammad Fahri,  mengatakan, lokasi yang paling terdampak di Kepulauan Meranti berada di Selatpanjang dan Alah Air.

"Itu adalah daerah endemis, dengan kata lain paling terdampak terhadap DBD," ujar Fahri, di kantornya, Senin (2/12).

Secara umum, terang Fahri, terjadi peningkatan signifikan terhadap jumlah DBD tahun ini dari tahun kemarin. "Pada tahun lalu itu 50 sekian kasus, dan saat ini memang terlihat itu meningkat drastis," katanya.

Meski demikian, kata Fahri, kendati jumlahnya meningkat drastis namun belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB). Hal ini dikarenakan peningkatan jumlah penderita DBD masih menyebar dan tidak meningkat secara signifikan di satu lokasi.

"Jumlah tersebut masih dibawah indeks rasio, kenapa tidak dijadikan KLB, karena tidak satu lokasi, jadi penyebarannya masih merata di Meranti," lanjut Fahri.

Untuk menentukan KLB sendiri bila terjadi peningkatan signifikan di satu lokasi. "Misalnya di satu dusun, ukurannya bila itu meningkat sekitar tiga sampai empat kali," sebut Fahri.

Fahri juga menjelaskan, terjadinya peningkatan kasus dari tahun sebelumnya karena pengaruh cuaca. "Kita saat ini masuk pada siklus tiga tahunan, di mana kemarau panjang terjadi dari April sampai September," papar Fahri.

Dia mengatakan, saat tidak ada air, telur nyamuk bisa bertahan hingga 6 bulan, di mana mulai Oktober hingga seterusnya telur nyamuk itu mulai menetas karena mulai datang hujan. "Pada Oktober telur nyamuk  terkena air dan menetas," tutur Fahri.

Fahri mengatakan, sepanjang tahun ini proses penyebaran bubuk abate dan fooging kerap dilakukan. Walaupun hal tersebut tidak bisa menjamin bahwa penyebaran nyamuk penyebar DBD bisa dituntaskan. "Foging itu untuk membunuh nyamuk dewasa, itu juga tidak bisa kita pastikan apakah langsung mati," sebut Fahri.

Untuk pembagian bubuk abate pada tahun ini, pihaknya sudah membagikan sebanyak 2 ton sepanjang tahun 2019. "Pembagiannya sudah 2 ton sejak Januari, jika dihitung kebutuhan seluruh Kepulauan Meranti itu ada 42 ton, makanya kita cuma memetakan daerah mana yang endemis," ucapnya. 

Melalui hal ini, Fahri mengimbau, masyarakat untuk membiasakan hidup bersih melalui pribadi dan lingkungannya. "Pastikan bahwa tempat kita bersih, lingkungan kita terbebas dari sampah dan selokan-selokan juga. Sekaligus upaya kita lakukan saya yakin ini bisa memutuskan rantai penyebaran nyamuk," pungkasnya.

Sementara itu, RSUD Kepulauan Meranti sudah menampung ratusan pasien DBD. Dari tanggal 27-30 November saja sudah ada 31 pasien yang dirujuk ke sana. *




Berita Lainnya