Sabtu | 18 Januari 2020
Resmi Dibuka, Bazar Imlek Dimeriahkan 40 Stand
Kemeriahan Tahun Baru Imlek 2571/2020 M dimulai dengan pembukaan Bazar Imlek di.


Kamis | 16 Januari 2020
Berbagai Acara Meriahkan Tahun Baru Imlek
Tahun Baru Imlek 2571/2020 M di Pekanbaru bakal lebih meriah. Berbagai event.


Minggu | 12 Januari 2020
Ibu-ibu PSMTI Riau Arisan Perdana di Gedung Serbaguna Perwanti
Ibu-ibu yang tergabung dalam Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI).

Rubrik : dunia
Iran Gertak AS dengan Ancaman Perang
Editor : wisly | Penulis: republika
Kamis , 02 Januari 2020
Bendera Iran

TEHERAN - Komandan Garda Revolusi Iran Brigadir Jenderal Hossein Salami mengkritik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menuding negaranya mendalangi aksi demonstrasi serta kerusuhan di Irak. Dia mengisyaratkan Iran siap membuka konfrontasi militer dengan Washington.

"Kami tidak memimpin negara ini menuju perang, tapi kami tidak takut perang apapun dan kami memberi tahu Amerika untuk berbicara dengan benar dengan bangsa Iran. Kami memiliki kekuatan untuk menghancurkan mereka beberapa kali dan tidak khawatir," ujar Salami pada Kamis (2/1).

Situasi di Irak terutama Baghdad memang masih bergolak. Hal itu terjadi setelah massa pendemo melempari Kedutaan Besar AS dengan batu dan membakar pos keamanannya.

Aksi penyerangan terhadap gedung kedutaan itu terjadi setelah pasukan AS melancarkan operasi udara dan membidik paramiliter Syiah Irak, Kataib Hizbullah. Ia merupakan bagian dari Popular Mobilization Forces (PMF) yang didukung Iran.

Trump memang menuding Iran sebagai dalang di balik aksi penyerangan terhadap Kedutaan Besar AS di Baghdad. Dia bahkan sempat mengancam akan melakukan aksi balasan. Namun belakangan Trump membantah bahwa dia menghendaki perang dengan Teheran.

"Apakah saya mau (berperang)? Tidak, saya ingin damai. Saya suka kedamaian. Iran juga seharusnya menginginkan kedamaian lebih dari siapapun," kata Trump.

Aksi demonstrasi di Irak pecah pada 1 Oktober lalu. Masyarakat turun ke jalan untuk memprotes permasalahan yang mereka hadapi seperti meningkatnya pengangguran, akses terhadap layanan dasar, termasuk air dan listrik yang terbatas, serta masifnya praktik korupsi di tubuh pemerintahan.

Demonstrasi telah menyebabkan Perdana Menteri Irak Adel Abdul-Mahdi mengundurkan diri dari jabatannya. Parlemen Irak telah menyetujui pengunduran dirinya pada Desember lalu. Lebih dari 400 orang telah dilaporkan tewas selama unjuk rasa berlangsung sejak Oktober lalu.*




Berita Lainnya