19 Zulqaidah 1441 H / Jumat, 10 Juli 2020
Festival Duan Wu Jie, Warga Tionghoa di Pekanbaru Belajar Memasak Kue Cang Halal
huawen | Minggu, 21 Juni 2020
Editor : wisly | Penulis :
PSMTI Pekanbaru bersama Perwanti Riau, PITI Riau, Koko Cici Riau dan Marga Lie Pekanbaru memberikan edukasi cara memasak kue cang yang halal.

PEKANBARU - Sekitar 50 warga Tionghoa di Pekanbaru belajar memasak kue cang halal di Sekretariat Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Riau Jalan Setiabudhi, Pekanbaru, Minggu (21/6/2020). Kegiatan untuk memeriahkan perayaan budaya Duan Wu Jie yang jatuh pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek.

Ketua PSMTI Pekanbaru, Kamin mengatakan, kegiatan memasak kue cang halal dilaksanakan PSMTI Pekanbaru bersama PSMTI Riau, Perwanti Riau, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Riau, Koko Cici Riau dan Marga Lie Pekanbaru. "Tahun ini, perayaan Duan Wu Jie dengan cara mengajak warga Tionghoa untuk memasak kue cang yang halal. Tetap dengan protokol kesehatan penanganan Covid-19," tambanya.

Kamin berharap kegiatan dapat melestarikan sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda tentang salah satu budayaTionghoa. Kemudian mengerti cara membuat kue cang. "Duan Wu Jie merupakan salah satu perayaan penting dalam budaya Tionghoa. Mempunyai makna cinta kebangsaan," tambahnya sambil mengatakan kue cang sudah mempunyai banyak variasi rasa.

Salah satu peserta memasak kue cang halal dari PITI Riau, Mimi Meliana mengaku senang dapat mengetahui cara membuat kue cang yang halal. "Biasanya hanya membeli ke pasar setiap perayaan Duan Wu Jie," terangnya.

Untuk perayaan Duan Wu Jie selanjutnya, Mimi ingin membuat sendiri. "Meskipun  membuatnya tidak semudah cara memakannya, tapi saya akan coba buat sendiri. Lebih penting lagi ada makna yang terkandung dalam budaya Duan Wu Jie ini," ungkapnya.

Sementara itu, Instruktur memasak kue cang, Atin menjelaskan, peserta memasak lebih di fokuskan untuk teknis membungkus kue cang dengan menggunakan daun bambu. Sedangkan rasanya di serahkan kepada peserta memasak.

Perayaan Duan Wu Jie berasal dari kisah seorang pejabat patriotik sekaligus seorang penyair yang bernama Qi Yuan (sekitar 340 – 278 SM), yang menenggeramkan dirinya ke Sungai Milou, karena kesedihannya yang mendalam atas hancurnya negeri Chu dan wafatnya kaisar yang memimpin negeri tersebut.

Rakyat merasa sedih, kemudian mencari-cari jenazah sang menteri di sungai tersebut. Mereka lalu melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan maksud agar ikan dan udang dalam sungai tersebut tidak mengganggu jenazah sang menteri.
Selain itu, untuk menghindari makanan dari naga dalam sungai tersebut maka mereka membungkusnya dengan daun-daunan yang kita kenal sebagai bakcang sekarang.

Kebiasaan mempersembahkan beras di dalam tempurung bambu diganti dengan kue dari beras ketan yang dibungkus daun bambu, yang disini kita kenal dengan nama Kue Cang. Dilaksanakannya perlombaan-perlombaan perahu yang dihiasi gambar-gambar naga, semuanya mengingatkan usaha mencari jenazah Qu Yuan, seorang pecinta tanah air dan rakyatnya.*




Artikel Terbaru
dunia, Jumat, 10 Juli 2020
Warga Israel geram dengan sikap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin.

pekanbaru, Jumat, 10 Juli 2020
Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Riau, umumkan Riau.

pelalawan, Jumat, 10 Juli 2020
Pandemi Covid-19 tak menghalangi warga Desa Pangkalan Terap,.

otomotif, Kamis, 9 Juli 2020
Penjualan kendaraan di Indonesia menurun drastis selama pandemi virus.

etalase, Kamis, 9 Juli 2020
SKK Migas Perwakilan Sumbagut bersama KKKS wilayah Riau, Kamis.

pekanbaru, Kamis, 9 Juli 2020
Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Riau kembali umumkan.

kampar, Kamis, 9 Juli 2020
Bupati Kampar, H Catur Sugeng Susanto menyerahkan 3 unit ambulan.

inhu, Kamis, 9 Juli 2020
Program Kampung Tangguh Nusantara diharapkan bisa mengatasi masalah.

bengkalis, Kamis, 9 Juli 2020
BENGKALIS – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bengkalis.

etalase, Kamis, 9 Juli 2020
Sejak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh.

Otomotif