5 Safar 1442 H / Rabu, 23 September 2020
Sidang Suap Proyek Jalan Duri-Sei Pakning
Adik Amril Mukminin Sebut Uang Rp805 Juta untuk Anak Yatim dan Fakir Miskin
hukum | Kamis, 3 September 2020
Editor : wisly | Penulis : Linda

PEKANBARU - Riki Rihardi, adik Bupati Bengkalis non aktif, Amril Mukminin, hadir sebagai saksi kasus dugaan suap proyek Jalan Duri-Sei Pakning, Kamis (3/9). Camat Mandau itu menjelaskan uang Rp805 juta yang disita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari rumah dinas Bupati Bengkalis.

Uang itu diduga sebagai suap dari proyek Jalan Duri-Sei Pakning yang dikerjakan oleh PT Citra Gading Asritama (CGA) dan gratifikasi dari 2 orang pengusaha sawit, terdakwa merupakan Amril Mukminin.

Namun, Riki menyatakan uang itu adalah milik pribadi Amril.

Sebagai adik Amril, selama menjabat sebagai Kabag Umum Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Bengkalis, Riki memang diberi fasilitas satu kamar di rumab dinas bupati.

Di kamar itulah, KPK menemukan uang Rp805 juta di dalam koper pakaian yang disimpan di belakang lemari.

"Pada waktu penggeledahan, ada ditemukan uang sebanyak Rp805 juta di kamar yang saudara tempati di Rumah Dinas Bupati Bengkalis. Dengan rincian uang Rp100 ribu 5000 lembar, Rp50 ribu 6100 lembar ditemukan dibelakang lemari di kamar saudara. Itu uang apa," tanya JPU, Feby Dwi Andospendy dan rekannya.

Riki mengatakan uang itu merupakan uang pribadi Amril yang dititipkan kepada dirinya. Atas perintah itu, Riki menyimpan uang tersebut.  "Untuk apa uang itu," tanya JPU.

Riki mengatakan, uang itu akan dibagikan untuk anak yatim, fakir miskin dan penyapu jalan. "Untuk diserahkan kepada anak yatim, fakir miskin dan tukang sapu jalan," kata Riki.

Riki menyebutkan, Amril memang merupakan sosok yang suka berbagi. Sebelum menjabat sebagai anggota DPRD maupun Bupati Bengkalis, dirinya kerap membantu anak yatim, dan fakir miskin di kampung halamannya.

"Sebelum jadi bupati, dia sudah sering bagi-bagikan uang ke anak yatim dan duafa di kampung kami," ucap Riki.

Dijelaskan Riki, uang Rp805 juga diterimanya secara bertahap dari Amril. Ada sekitar lima atau tujuh kali Amril memberikan uang dalam jumlah bervariasi dari akhir tahun 2017 hingga 2018. "Ada Rp100 juta, Rp150 juta, Rp180 juta dan Rp200 juta," kata Riki.

Uang itu sengaja disimpan Riki di kamarnya karena merupakan milik Amril dan akan diambil lagi untuk dibagikan. Karena itu, ia tidak berpikir untuk menyimpan uang itu di bank.

"Tidak ada perintah Pak Amril," ucap dia.

Riki juga ditanyai terkait keterangannya yang berbeda di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan di persidangan.  Di BAP, Riki menyebutkan uang tersebut adalah milik pribadi dirinya yang diterima dari kontraktor bernama Adrizal untuk ucapan terima kasih pengerjaan paket proyek.

"Saat saya di BAP saya teringat abang saya (Amril Mukminin), yang sudah menjaga saya dari kecil. Sudah seperti ayah. Saya bermaksud meringankan dan membantu abang saya. Makanya saya sampaikan saat di BAP itu uang saya," tutur Riki.

Mendengar hal itu, jaksa KPK langsung menanyakan mengenai BAP yang disusun penyidik KPK saat Riki diperiksa sebagai saksi. Terkait hal ini, Riki mencabut BAP-nya. "Jadi mana yang benar," tanya jaksa KPK. "Yang saya sampaikan hari ini," jawab Riki.

Tidak sampai di situ, Feby kemudian menanyakan mengenai Adrizal yang disebut sebagai kontraktor di Bengkalis. "Kenapa kambing hitamkan Adrizal," tanya Feby. "Itu yang terpikir," jawab Riki.

Jaksa KPK kemudian menanyakan uang yang disimpannya di belakang lemari.

"Kenapa disimpan dibelakang lemari," tanya Feby. "Itu yang paling aman menurut saya," jawab Riki.

Saat Pemasehat hukum Amril, Asep Ruhiat menanyakan apakah uang untuk anak yatim dan fakir miskin tersebut termasuk uang yang disita pada penggeledahan KPK sebesar Rp 1,9 miliar, Riki membenarkan bahwa itu termasuk pada penggeledahan

Di persidangan, JPU juga menghadirikan Syahrun yang merupakan ajuran Amril. KPK menyita dua tas uang berisi Rp257 juta.

Uang itu ditegaskan Syahrun merupakan milik pribadi Amril. "Uang itu untuk anak yatim, fakir miskin, tukang becak, tukang parkir dan keperluan operasional," kata Syahrun.

Dalam dakwaan JPU, Amril disebutkan menerima suap sebesar Rp5,2 miliar dari PT CGA.

Amril juga menerima gratifikasi dari dua pengusaha perkebunan sawit sebesar Rp23,6 miliar.

Uang Rp23,6 miliar itu diberikan oleh Jhony Tjoa selaku Direktur Utama dan pemilik perusahaan sawit PT Mustika Agung Sawit Sejahtera, serta Adyanto selaku Direktur dan pemilik PT Sawit Anugrah Sejahtera.*




Artikel Terbaru
etalase, Rabu, 23 September 2020
Situasi pandemi seperti saat ini merupakan pengalaman pertama yang.

dunia, Rabu, 23 September 2020
Arab Saudi telah mengumumkan pelayanan umroh akan dibuka kembali.

pekanbaru, Rabu, 23 September 2020
Ketua KPU Provinsi Riau, Ilham Muhammad Yasir yang kini tengah.

politik, Selasa, 22 September 2020
Mengingat Pilkada Riau 2020 berlangsung di tengah pandemi Covid-19,.

sportainment, Selasa, 22 September 2020
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Pekanbaru terus.

dunia, Selasa, 22 September 2020
Dengan 75.083 kasus baru Covid-19 yang dilaporkan dalam 24 jam.

dumai, Selasa, 22 September 2020
Walikota Dumai Drs. H. Zulkifli As, M.Si meminta kepada seluruh.

hukum, Selasa, 22 September 2020
M Alhadar, pengusaha rental mobil yang hilang sejak satu pekan lalu.

pekanbaru, Selasa, 22 September 2020
Jumlah kasus Covid-19 di Riau kembali bertambah, kali ini terdapat.

otomotif, Selasa, 22 September 2020
Asosiasi Industri Sepeda Motor (AISI) memperkirakan, total penjualan.

Otomotif