|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Siang ini, Jumat (20/2/2026), suasana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pekanbaru terasa berbeda. Langkah-langkah kaki yang biasanya terdengar tegas di lorong-lorong blok hunian, kini berjalan lebih pelan, lebih tertib.
Jumat pertama di bulan suci Ramadan menjadi momen yang dinanti, bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi ruang perenungan bagi ratusan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Menjelang waktu Dzuhur, Masjid At-Taubah di dalam Lapas mulai dipenuhi jamaah. Wajah-wajah yang menyimpan beragam kisah kehidupan itu tampak khusyuk mempersiapkan diri.
Sebagian merapikan peci, sebagian lagi menundukkan kepala dalam diam. Di bulan yang diyakini penuh ampunan ini, setiap doa terasa lebih dekat, setiap harapan seakan menemukan jalannya.
Petugas Lapas turut hadir dan berbaur di saf-saf sholat. Tidak ada sekat selain barisan lurus yang menyatukan semua dalam satu tujuan: bersujud dan memohon ampunan.
Kebersamaan itu menghadirkan suasana yang hangat, sebuah gambaran pembinaan yang tak hanya menegakkan aturan, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan.
Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Yuniarto, menyebut Jumat pertama Ramadan sebagai momentum yang sarat makna. Menurutnya, pembinaan tidak hanya berbicara tentang kepatuhan terhadap tata tertib, tetapi juga tentang proses memperbaiki diri dari dalam.
“Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan. Kami berharap kegiatan ini memberi ketenangan batin dan menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik,” ujarnya usai salat.
Khutbah yang disampaikan Ustadz Wage Bajang Muhammad mengalir tenang namun menggetarkan. Ia mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai titik balik bulan untuk introspeksi, memperbanyak ibadah, serta menanam kebaikan yang kelak tumbuh menjadi perubahan nyata.
Di balik tembok tinggi dan pintu-pintu besi, gema doa siang itu terasa begitu dalam. Tidak ada yang tahu pasti seperti apa masa depan masing-masing warga binaan.
Namun di saf-saf yang rapat dan doa-doa yang lirih, terselip keyakinan bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Kegiatan keagamaan ini menjadi bagian dari komitmen Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam membentuk warga binaan yang tidak hanya taat hukum, tetapi juga memiliki bekal moral dan spiritual yang kuat.
Di Jumat pertama Ramadan itu, dari Masjid At-Taubah, harapan tidak sekadar diucapkan, ia menggema, menguat, dan perlahan menumbuhkan cahaya baru di hati mereka yang tengah menjalani proses pembinaan.*