Mei 2026
28

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Menyeduh Harapan, Aroma Liberika Pesisir Riau Menembus Negeri
etalase | Kamis, 28 Mei 2026 | 00:53:51 WIB
Editor : wislysusanto | Penulis : rivo

PEKANBARU - Malam itu, 20 Mei 2026, aroma kopi memenuhi ruangan lantai 2 di hotel The Zuri, Dumai, sebelum percakapan benar-benar dimulai. Mangkuk-mangkuk kecil tersusun rapi di atas meja cupping, sementara suara mesin penggiling kopi dan denting sendok berbaur pelan dengan obrolan hangat para peserta gathering.

Saya bersama rekan-rekan media mitra Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Riau duduk menyimak satu kisah yang datang jauh dari hamparan gambut Kepulauan Meranti.

Di hadapan kami berdiri Nyoto, petani kopi Liberika di Desa Kedabu Rapat, Kecamatan Rangsang Pesisir, Meranti, yang wajahnya menyimpan jejak panjang kehidupan pesisir. Tangannya mungkin telah ribuan kali menyentuh tanah gambut, memetik buah kopi, lalu menjemurnya di bawah matahari yang tak selalu ramah.

Baca :

Namun malam itu, ia tidak hanya membawa cerita tentang kopi. Ia membawa cerita tentang ketekunan, tentang keyakinan yang tumbuh perlahan seperti akar Liberika di tanah Meranti.

Dengan suara sedikit bergetar, Nyoto bercerita bagaimana kopi yang dulu dipandang sebelah mata kini mulai menemukan jalannya sendiri, dan melawan keraguan banyak orang. Dari kebun sederhana di Meranti, biji-biji Liberika itu menempuh perjalanan panjang hingga sampai ke tangan para penikmat kopi di kafe-kafe.

Bahkan mitranya, Abdurrahman Farhumi, Founder Erbercoffee sekaligus Umar Coffeeroastery dan Q-Arabica Grader serta Syahreiza Eria, Runner Up Indonesia Coffee Roasting Champion 2023 dan 2024, turut hadir.

Mereka mengambil kopi langsung dari kebunnya, terus mengolahnya, lalu menyajikannya kepada para pelanggan yang mencari rasa berbeda dari secangkir kopi.

"Dulu orang tidak terlalu melirik kopi ini. Bahkan banyak yang tidak percaya kalau Meranti punya kopi, karena biasanya kopi hidup di dataran tinggi, bukan di lahan gambut," ucap Nyoto lirih mengingat perjalanan masa lalunya yang panjang.

Setiap hari, di sela pepohonan dan lahan gambut yang lembab, pria paruh baya itu bersama para petani lain selalu menanam harapan lewat pohon-pohon liberika. Mereka menjaga tanaman itu seperti menjaga ingatan panjang tentang kampung halaman.

Ini bukan sekadar soal bisnis. Ada kebanggaan yang tumbuh diam-diam di balik setiap seduhan.

Sebab kopi Liberika Meranti pernah melangkah lebih jauh, menembus panggung Indonesia Coffee Competition (ICC) Brewers League 2025 Regional 3. Dari tanah gambut yang kerap dianggap rapuh, kopi itu hadir membawa identitas baru tentang Riau.

Liberika memang berbeda. Saat arabika manja terhadap suhu dan robusta membutuhkan kondisi tertentu, liberika justru menemukan rumahnya di tanah gambut pesisir.

Akar-akarnya mampu bertahan di tanah basah dengan karakter lingkungan yang tak mudah ditaklukkan tanaman lain.

Sehingga dari sana lahirlah rasa yang khas, aroma kuat, pahit, kadar asam tinggi, lembut di ujung lidah, beda dari yang lain. Walau begitu, perjalanan Liberika Meranti tidak semudah yang di bayangkan, melewati perjalanan panjang.

Kini, musim panen sulit ditebak akibat cuaca yang tak menentu. Petani jadi sering dihadapkan pada pilihan yang berat, memanen cepat demi menekan biaya tenaga kerja, atau menunggu buah matang merah sempurna demi kualitas terbaik.

"Kalau dipetik matang merah, kualitasnya jauh lebih bagus. Tapi sebagian petani masih memanen campur karena pertimbangan waktu dan biaya," ungkap Nyoto menjelaskan kondisi di lapangan.

Sebab itu, tak jarang selepas panen, para petani biasanya duduk bersama melakukan sortir ulang. Buah merah dipisahkan satu per satu. Di tangan mereka, kualitas dijaga dengan kesabaran yang nyaris tak pernah terlihat oleh para penikmat kopi di kota-kota besar.

Diketahui, total luas kebun kopi liberika di Kabupaten Kepulauan Meranti tercatat sekitar 1.246 hektar dengan sistem tumpang sari. Produksinya mencapai puluhan ton setiap tahun. Sementara untuk Green bean Liberika Meranti sendiri dijual seharga Rp90 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, dan untuk kopi bubuknya bisa mencapai harga Rp300 ribu per kilogram.

Harga tersebut menunjukkan bahwa kopi Liberika tidak lagi dipandang sebagai komoditas biasa. Produk turunannya kini memiliki nilai tambah yang mampu meningkatkan pendapatan petani dan pelaku usaha kopi lokal.

Sebetulnya, ini bukan semata-mata tentang harga kopi, melainkan ketekunan petani pesisir yang memetik buah satu demi satu di bawah matahari gambut. Harga dari perjuangan menjaga kualitas di tengah keterbatasan. Serta harga dari identitas yang perlahan diperjuangkan agar tidak hilang ditelan zaman.

Disisi lain, kopi Liberika Meranti milik Pak Nyoto tercatat mulai menjadi UMKM binaan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Riau sejak sekitar tahun 2023. Selama jadi binaan, BI terus melakukan pendampingan secara intensif dari hulu ke hilir untuk mendorong budidaya berkelanjutan di lahan gambut, hingga peningkatan mutu agar produk tersebut mampu bersaing dan menembus pasar global.

*Tantangan Kopi Liberika Meranti

Namun, di tengah maraknya tren kopi modern dan menjamurnya kedai kopi di berbagai kota, ada satu ironi yang masih dirasakan para petani kopi Liberika di Kepulauan Meranti, Riau. Di tanah kelahirannya, Liberika Meranti justru belum sepenuhnya menjadi tuan rumah. Karena masih banyak kafe dan kedai kopi menyajikan kopi dari luar daerah dibanding kopi lokal mereka sendiri. Justru Liberika Meranti lebih banyak berlayar ke luar negeri.

"Sekitar 70 hingga 80 persen produksi kami diekspor ke Malaysia dibanding dinikmati masyarakat sendiri," ujar Nyoto sambil berharap kopi Liberika nantinya bisa merajai.

Kondisi itu menghadirkan kenyataan yang terasa pahit sekaligus membanggakan. Pasalnya, seolah-olah, kopi ini harus pergi jauh terlebih dahulu supaya dihargai.
Padahal, pengakuan dunia terhadap Liberika Meranti sebenarnya sudah datang sejak lama.

**Perjalanan Panjang Menuju Pengakuan Dunia

Tahun 2013 menjadi salah satu titik penting bagi perjalanan kopi Liberika Meranti. Saat itu, Nyoto mendapat kesempatan mengikuti pameran kopi internasional melalui dukungan pemerintah daerah.

Namun perjalanan menuju ajang tersebut tidak mudah. Kabut asap yang menyelimuti Riau membuat penerbangan dari Pekanbaru terganggu. Mereka pun harus menempuh perjalanan darat menuju Padang sebelum akhirnya bisa terbang ke luar negeri.

Segala perjuangan itu akhirnya terbayar lunas. Awalnya, para pengunjung pameran hanya tertarik mencium aroma kopi yang berbeda dari biasanya. Tetapi setelah menyeruputnya, reaksi mereka berubah. Mereka mulai bertanya tentang asal kopi itu, membeli, bahkan membawanya pulang dengan harga tinggi.

Dari sanalah nama Liberika Meranti perlahan mulai dikenal dunia.
Kopi yang tumbuh di lahan gambut pesisir itu memiliki karakter unik yang sulit ditemukan pada jenis kopi lain. Aromanya kuat, cita rasanya khas, dan tumbuh di wilayah yang selama ini dianggap tidak ideal bagi tanaman kopi.

*Dari Tanah Gambut Menuju Identitas Daerah

Pengakuan demi pengakuan kemudian datang menghampiri. Pada 2016, Liberika Meranti resmi memperoleh sertifikat Indikasi Geografis (IG), sebuah pengakuan hukum yang melindungi keaslian dan karakter khas kopi tersebut. Varietas lokalnya, Liberoid Komposit Meranti, juga telah ditetapkan sebagai varietas nasional resmi.

Tidak berhenti di situ, pada Anugerah Pesona Indonesia 2021, Liberika Meranti dinobatkan sebagai Minuman Tradisional Terpopuler. Namun bagi Nyoto, kopi ini bukan sekadar soal penghargaan atau bisnis semata.

Lebih dari itu, Liberika Meranti menjadi simbol perjuangan masyarakat pesisir dalam menjaga martabat tanah gambut mereka.

Tanah yang selama ini sering dipandang negatif karena dianggap rapuh, mudah terbakar, dan sulit dimanfaatkan. Di tangan Nyoto dan para petani Meranti, gambut justru melahirkan sesuatu yang bernilai tinggi.

Liberika memang hanya menyumbang sekitar satu persen produksi kopi dunia. Ia tidak sepopuler arabika atau robusta yang mendominasi pasar global. Tetapi dari sudut kecil pesisir Riau, kopi ini membuktikan bahwa sesuatu yang dianggap mustahil ternyata bisa tumbuh lebih besar.

*Membawa Cerita Gambut ke Panggung Nasional

Semangat itulah yang terus dibawa oleh berbagai pegiat kopi di Riau.
Salah satunya yakni Abdurrahman Farhumi, Founder Erbercoffee sekaligus Umar Coffeeroastery dan Q-Arabica Grader bersama barista Imam Makarim dan tim mereka. Abdurrahman memilih kopi hasil petikan tangan Nyoto untuk dibawa ke panggung Indonesia Coffee Competition Brewers League 2025 Regional 3.

Di tengah gempuran kopi-kopi populer dari berbagai daerah, mereka justru memilih membawa kopi dari tanah gambut Meranti. Kopi yang lahir dari kampung kecil di pesisir yang selama ini jarang dilirik.

Bagi mereka, yang dibawa ke kompetisi bukan hanya sekadar biji kopi.
Yang mereka bawa adalah cerita tentang petani yang memetik buah kopi merah di tengah hamparan gambut.

Sekaligus tentang perjuangan menjaga kualitas di daerah pesisir, dan tentang keyakinan bahwa kopi lokal juga pantas berdiri sejajar di panggung nasional, bahkan dunia.

Liberika Meranti hari ini bukan lagi sekadar minuman. Ia telah menjadi simbol harapan, ketekunan, dan keberanian masyarakat pesisir Riau untuk membuktikan bahwa dari tanah gambut pun, lahir karya yang mampu mengharumkan nama Indonesia, khususnya Meranti, Riau.

*Dari Gambut yang Basah, Liberika Menumbuhkan Harapan

Semakin malam, aroma kopi tambah kuat tercium terbawa angin dalam ruangan itu. Membuat para peserta gathering makin tak sabar untuk mencicipi dan menyeruput kopi Liberika di atas meja. Di depan, telah berdiri Abdurrahman Farhumi, Founder Erbercoffee sekaligus Umar Coffeeroastery dan Q-Arabica Grader, yang malam itu memperkenalkan berbagai jenis kopi liberika kepada para peserta.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah kopi liberika milik Pak Nyoto dari Kepulauan Meranti, Riau.

"Fokus utama malam ini sebenarnya bukan hanya presentasi. Nanti kita akan sampai pada sesi mencicipi kopinya," ujarnya sambil tersenyum.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di balik secangkir kopi yang tersaji, tersimpan kisah panjang tentang tanah gambut, perjuangan petani, dan harapan baru yang tumbuh dari pesisir Riau.

Liberika bukanlah kopi biasa. Dibandingkan arabika maupun robusta, ukuran buah dan bijinya jauh lebih besar, bahkan bisa mencapai dua kali lipat. Jika dibiarkan tumbuh liar, pohonnya dapat menjulang hingga sekitar 17 meter, menyerupai pohon hutan kecil yang rimbun.

"Di beberapa kebun tua di Riau, pohon-pohon liberika memang pernah tumbuh tanpa banyak perawatan. Namun kopi milik Pak Nyoto ditata lebih serius," ungkap Abdurrahman.

Kebun kopi tersebut telah dirawat sejak 2013. Pohon-pohonnya dipangkas agar lebih mudah dipanen dan dirawat, sehingga produktivitasnya tetap terjaga. Liberika juga dikenal memiliki kulit buah yang tebal dengan kandungan air tinggi. Buahnya tampak gemuk dan padat, seolah menyimpan energi besar di dalamnya.

Menurut Abdurrahman, karakter itu membuat liberika membutuhkan nutrisi lebih banyak dibanding jenis kopi lain. Namun justru di situlah letak kekuatannya.

Di saat banyak tanaman kopi kesulitan hidup di tanah asam, liberika menemukan rumahnya sendiri di lahan gambut. Tanah yang selama bertahun-tahun lebih sering dipandang sebagai kawasan bermasalah ternyata mampu melahirkan kopi dengan karakter unik dan potensi ekonomi besar.

Di hamparan gambut pesisir Riau, liberika tumbuh tanpa banyak mengeluh. Akarnya mampu menyesuaikan diri dengan tingkat keasaman tanah yang tinggi, sesuatu yang sulit dilakukan sebagian besar varietas kopi lain.

Karena itu, kebun-kebun liberika kini mulai berkembang di wilayah yang sebelumnya dianggap tidak cocok untuk budidaya kopi. Bagi masyarakat pesisir, liberika perlahan menjadi lebih dari sekadar tanaman.

Ia menjadi cara baru menjaga lahan gambut tetap produktif sekaligus membantu mengurangi degradasi lingkungan.

Meski demikian, perjalanan liberika tidak selalu mudah. Dalam dunia kopi dikenal istilah rendemen, yakni perbandingan hasil akhir green bean setelah buah kopi diolah. Pada liberika, rendemennya tergolong rendah, hanya sekitar 10 hingga 12 persen.

"Artinya, dari 10 kilogram buah kopi, hasil akhirnya hanya sekitar 1 kilogram green bean," bebernya menjelaskan.

Angka tersebut memang terlihat kurang menguntungkan jika dibandingkan dengan jenis kopi lain yang membutuhkan buah lebih sedikit untuk menghasilkan jumlah green bean yang sama. Namun liberika memiliki kelebihan yang sulit disaingi, yakni kemampuan berbuah hampir sepanjang tahun.

Di tengah perubahan iklim dan semakin sulitnya mempertahankan produktivitas perkebunan, kemampuan berbuah berkelanjutan menjadi nilai penting bagi petani.

Mereka tidak hanya bergantung pada satu musim panen besar, tetapi dapat menikmati hasil secara lebih stabil sepanjang tahun.

Dari situlah optimisme mulai tumbuh. Liberika yang dulu dipandang sebelah mata kini perlahan diproyeksikan sebagai kopi masa depan Indonesia, terutama untuk wilayah gambut dan dataran rendah.

"Bukan hanya karena cita rasanya yang khas, tetapi juga karena kemampuannya bertahan di tengah kondisi lahan yang sulit," ucapnya.

Malam itu, para peserta gathering tidak hanya menikmati secangkir kopi. Mereka sedang mencicipi cerita tentang tanah gambut, tentang ketahanan, dan tentang harapan yang tumbuh perlahan dari pesisir Riau.

*Menjaga Mutu, Mengenalkan Liberika ke Pasar Lebih Luas

Dalam kesempatan yang sama, Syahreiza Eria turut menjelaskan bagaimana kualitas kopi liberika dinilai melalui sistem cupping modern.

Menurut Syahreza, standar penilaian mutu kopi kini menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing kopi lokal, termasuk liberika asal Riau. Saat ini, satu formulir penilaian atau cupping form dapat digunakan untuk berbagai spesies kopi, mulai dari arabika, robusta, hingga liberika.

"Satu cupping form ini sekarang bisa dipakai untuk beberapa spesies kopi, arabika, robusta, dan liberika," jelasnya.

Melalui sistem tersebut, kualitas kopi dinilai berdasarkan skala tertentu. Nilai 6 masuk kategori good atau baik, nilai 7 tergolong very good, nilai 8 berada pada kategori excellent, sementara nilai 9 hingga 10 digolongkan outstanding atau luar biasa.

Syahreza juga menunjukkan kartu penilaian kualitas kopi kepada peserta gathering. Menurutnya, skala kualitas itu akan memengaruhi seluruh atribut dalam formulir penilaian, mulai dari aroma, rasa, aftertaste, acidity, body, hingga keseimbangan rasa kopi.

"Penilaian kualitas menjadi sangat penting dalam industri kopi modern karena berkaitan langsung dengan standar mutu, harga jual, hingga posisi kopi di pasar nasional dan internasional," bebernya dengan semangat menjelaskan.

Bagi kopi liberika asal Riau, sistem penilaian tersebut membuka peluang lebih besar untuk memperkenalkan karakter rasa khasnya kepada pasar yang lebih luas.

Dari tanah gambut yang basah, liberika kini tidak lagi hanya dipandang sebagai kopi alternatif. Ia mulai menjelma menjadi simbol ketahanan, inovasi, dan harapan baru bagi masyarakat pesisir Riau.*

 

Terbaru
Artikel Popular
4
politik
DKPP Terima 765 Aduan Pelanggaran Etik...
Selasa, 21 April 2026 | 20:10:00 WIB
KPK Beri Usulan untuk Revisi UU Parpol hingga...
Minggu, 19 April 2026 | 11:40:14 WIB
hukum
Nasional