|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan mendorong personel Polantas tidak hanya bertugas mengatur lalu lintas, tetapi juga ikut mengedukasi masyarakat tentang kepedulian terhadap lingkungan.
Herry mengatakan langkah itu dapat dilakukan melalui kedekatan Polantas dengan masyarakat, termasuk lewat program Polantas Go to School.
Dorongan tersebut disampaikan Herry dalam doa bersama dan syukuran HUT ke-71 Lalu Lintas Bhayangkara di Ruang Tribrata Markas Polda Riau, Selasa (22/9/2026).
Dalam kegiatan yang mengusung tema “Polantas Presisi, Mengabdi untuk Negeri” itu, Herry menilai polisi tidak cukup hanya hadir untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Polisi juga harus mampu menjadi problem solver terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Yang utama adalah di Riau ini ada masalah lingkungan yang terus terdegradasi karena kita tidak bersama-sama untuk menjaga alam. Degradasi lingkungan ada dua: deforestasi dan karhutla yang terus-menerus,” ujarnya.
Herry menyoroti persoalan karhutla yang terus berulang setiap tahun di Riau. Ia mempertanyakan sampai kapan masyarakat harus menghadapi persoalan asap dan pengerahan personel untuk menangani kebakaran.
“Apakah kita tidak bosan? Tiap saat, tiap tahun kita mengirim udara yang tidak sehat. Apakah kita tidak bosan tiap tahun kita apel deploy pasukan?” katanya.
Menurut Herry, kondisi tersebut juga turut membentuk stigma negatif terhadap Riau sebagai daerah penghasil asap.
“Apakah kita tidak bosan stigma negatif terbangun untuk Provinsi Riau, bahwa Riau adalah pengekspor atau penghasil asap?” sambungnya.
Karena itu, Herry mendorong penanganan lingkungan dilakukan secara berkelanjutan, salah satunya melalui gerakan menanam pohon.
Menurutnya, penanaman pohon bukan langkah yang dapat langsung menyelesaikan karhutla dalam waktu dekat. Namun, manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang.
“Menanam pohon bukan untuk memadamkan api di 2027, menanam pohon di 2026 bukan memadamkan api di 2028 bahkan 2030, tetapi insyaallah kita akan merasakan di 20 tahun atau 15 tahun setelah kita menanam pohon secara serentak,” jelasnya.
Herry juga mendorong adanya regulasi dari pemerintah daerah terkait kewajiban menjaga lingkungan, termasuk pemberian sanksi bagi pihak yang melanggar.
Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan perlu ditanamkan sejak usia sekolah. Polantas yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dinilai memiliki ruang untuk menyampaikan pesan tersebut.
“Polisi lalu lintas harus bisa juga memberikan pencerahan di lingkungan sepanjang jalan,” ujarnya.
Herry menilai program Polantas Go to School dapat menjadi sarana menyampaikan pesan keselamatan lalu lintas sekaligus kepedulian terhadap lingkungan kepada generasi muda.
“Dulu atur lalu lintas, sekarang atur lalu lintas anak-anak kita, anak-anak TK, SD terutama,” tegasnya.
Polantas Harus Jadi Mitra Masyarakat
Dalam kegiatan yang sama, amanat Kakorlantas Polri yang dibacakan Dirlantas Polda Riau Kombes Pol Jeki Rahmat Mustika menekankan agar Polantas hadir sebagai mitra masyarakat.
Jeki menyebut perjalanan 71 tahun Korps Lalu Lintas merupakan proses panjang yang membuat institusi tersebut terus tumbuh, beradaptasi dan bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.
“Polantas Karib harus menjadi paradigma operasional sekaligus bentuk pelayanan. Polantas harus hadir sebagai mitra masyarakat, mendengar, memahami, dan memberikan solusi,” ucapnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Polantas diminta merangkul berbagai komunitas pengguna jalan, mulai dari pengemudi ojek daring, angkutan umum, angkutan barang dan logistik, komunitas otomotif, dunia pendidikan hingga masyarakat luas.
“Mereka bukan sekadar objek pengaturan, tetapi mitra dan bagian dari solusi keselamatan berlalu lintas,” tutur Jeki.
HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-71 menjadi momentum untuk memperkuat kemitraan, meningkatkan kualitas pelayanan, menjaga integritas, memperluas mitra serta membangun budaya keselamatan.
“Karena pada akhirnya, seluruh kebajikan, kebijakan, pelayanan, inovasi, teknologi, penegakan hukum, dan pengabdian kita harus bermuara pada satu tujuan tertinggi: melindungi keselamatan manusia,” tuturnya.*