|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Anggota Komisi X DPR RI, Dr Hj Karmila Sari, SKom, MM, melakukan kunjungan kerja ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) Riau Science Techno Park, Sabtu (4/4/2026), guna meninjau langsung potensi pengembangan inovasi daerah berbasis riset dan teknologi.
Kunjungan tersebut disambut Kepala UPT Riau Science Techno Park, Dr Sopyan Hadi, MT. Dalam agenda itu, Karmila meninjau sejumlah fasilitas riset, termasuk pengembangan biodiesel B40 menuju B50 serta pemanfaatan bahan baku lokal yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi.
Dalam keterangannya, Karmila menekankan pentingnya penguatan riset terapan dan kolaborasi lintas sektor sebagai kunci memaksimalkan potensi inovasi di Riau, khususnya dalam pengembangan biosolvent.
"Science Techno Park ini bukan sekadar fasilitas, tetapi motor penggerak kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha. Hasil riset harus bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat," ujarnya.
Ia menilai, keberadaan Science Techno Park memiliki peran strategis dalam mendorong hilirisasi teknologi serta meningkatkan daya saing daerah. Namun, potensi besar Riau di sektor sumber daya alam dinilai belum sepenuhnya didukung oleh infrastruktur inovasi yang memadai.
Karmila juga mendorong agar Science Techno Park menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda, peneliti, dan pelaku UMKM dalam mengembangkan produk berbasis teknologi. Hal ini diharapkan mampu menggeser struktur ekonomi daerah dari sektor primer menuju ekonomi berbasis inovasi.
Selain itu, ia menegaskan pentingnya dukungan pemerintah pusat dan daerah melalui regulasi, pendanaan, serta sinergi lintas sektor agar pengembangan riset berjalan optimal dan berkelanjutan.
"Kalau ingin daerah maju, investasi di bidang riset dan teknologi adalah keharusan. Riau tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perkembangan teknologi nasional," tegasnya.
Sementara itu, Kepala UPT Riau Science Techno Park, Dr Sopyan Hadi, menyampaikan apresiasi atas perhatian Komisi X DPR RI terhadap penguatan ekosistem riset di daerah.
Ia mengakui, pengembangan teknologi masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan fasilitas laboratorium, kebutuhan peralatan, hingga minimnya dukungan pendanaan. Karena itu, ia berharap adanya dukungan lebih lanjut dari pemerintah pusat.
"Pengembangan riset membutuhkan dukungan serius, baik dari sisi infrastruktur maupun kebijakan, agar inovasi yang dihasilkan bisa berkembang dan dimanfaatkan lebih luas," ujarnya.
Sopyan mengungkapkan, UPT Riau Science Techno Park telah menghasilkan berbagai inovasi, di antaranya teknologi pengolahan air, registrasi sumur minyak, biodiesel, bioetanol, beton, hingga pengembangan baterai dan motor listrik.
Saat ini, pihaknya juga tengah menjalin sejumlah kolaborasi strategis, termasuk rencana pembentukan pusat kolaborasi riset bersama BRIN, implementasi inovasi mix biosolvent di sektor energi dan industri, serta optimalisasi teknologi untuk sumur minyak.
Bahkan, inovasi mix biosolvent yang dikembangkan berhasil meraih penghargaan sebagai inovasi provinsi terinovatif tingkat nasional.
Dengan dukungan berkelanjutan, UPT Riau Science Techno Park optimistis Riau dapat berkembang menjadi salah satu pusat pengembangan teknologi berbasis potensi lokal, khususnya di sektor energi dan migas.*