Jun 2026
27

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Banyak Pedagang Kue Putu Pakai Pipa PVC untuk Kukus, Ini Risikonya Menurut Pakar
etalase | Jumat, 26 Juni 2026 | 13:21:00 WIB
Editor : mg2 | Penulis : detik.com
Ilustrasi

Jakarta - Suara khas gerobak kue putu selalu berhasil membangkitkan selera sekaligus nostalgia. Namun, saat ini banyak ditemui pedagang kue putu yang menggunakan pipa polyvinyl chloride (PVC)/paralon dalam proses pembuatannya.


Menyoroti hal tersebut, pakar dari Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof Eko Hari Purnomo, menyampaikan bahwa pipa PVC sebaiknya tidak digunakan untuk mencetak dan mengukus kue putu.

Fenomena pedagang yang beralih dari batang bambu ke pipa paralon ini dinilai sangat berbahaya karena dapat memicu perpindahan komponen plastik beracun ke dalam makanan.

Baca :

"Pipa paralon pada dasarnya dikembangkan untuk mengalirkan bahan dalam kondisi dingin, terutama jenis unplasticized PVC yang hanya bisa digunakan pada suhu di bawah 50 derajat celcius, sehingga tidak didesain untuk digunakan pada suhu tinggi," ungkapnya, dikutip dari laman resmi IPB, Jumat (26/6/2026).

Prof Eko menjelaskan, proses pengukusan kue putu menggunakan uap air bersuhu 100 derajat celcius agar terjadi gelatinisasi pati beras (bahan utama) pada suhu sekitar 80 derajat celcius.

"Suhu ini dapat mengakibatkan migrasi/perpindahan komponen plastik dari pipa paralon ke dalam kue putu. Pipa paralon umumnya dibuat dari plastik PVC terutama jenis unplasticized PVC yang hanya bisa digunakan pada suhu di bawah 50 derajat celcius," ucapnya ketika diminta tanggapannya oleh tim IPB today.

Kondisi suhu tinggi tersebut memicu migrasi zat tambahan seperti stabiliser mengandung Pb (timbal) yang dapat menimbulkan gangguan pada ginjal. Selain itu, ada kemungkinan migrasi monomer pembentuk PVC yang bersifat karsinogenik atau memicu kanker.

Menurutnya, alat cetak dan kukus tradisional dari bambu merupakan alternatif yang aman dan lebih ramah lingkungan, dengan tetap memastikan proses pencucian dilakukan dengan baik. Hal tersebut sekaligus mempertahankan nilai kultural kuliner tradisional.

"Kalaupun menggunakan cetakan plastik, harus dipilih jenis yang aman untuk pangan pada suhu tinggi," tambahnya.*

Terbaru
sportainment
5 Tim Asia Sudah Angkat Koper Lebih Dulu dari Piala Dunia 2026
Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:58:50 WIB
huawen
HUT Dewa Kwan Te Kong di Kwan Te Karya Agung Meriah
Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:52:06 WIB
nasional
PT Inti Indosawit Subur Perkuat Program CSR di Riau
Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:07:59 WIB
otomotif
Buruan, Pameran Mobill Honda di Mal SKA Tinggal Dua Hari Lagi
Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:11:58 WIB
pekanbaru
Pemprov Riau Dorong Tara Kelola Pertambangan Berkelanjutan
Sabtu, 27 Juni 2026 | 11:32:01 WIB
potensa
The Palace Jeweler Kembali Gerai Baru Hadir di Mal SKA Pekanbaru
Jumat, 26 Juni 2026 | 13:02:48 WIB
sportainment
Grup F Piala Dunia: Belanda, Jepang dan Swedia Lolos 16 Besar
Jumat, 26 Juni 2026 | 09:56:12 WIB
Artikel Popular
4
politik
hukum
Nasional
PT Inti Indosawit Subur Perkuat Program CSR di...
Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:07:59 WIB