|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

Pada 2500 tahun lalu, Buddha Gautama mencapai Penerangan Sempurna dan Keterbebasan (enlightenment and freedom), setelah mengadakan pertapaan yang keras atau bersamadhi di bawah pohon Bodhi. Beliau menemukan kedamaian yang luar biasa, yang tiada duanya. Beliau pun berkata bahwa Kebenaran Sejati Dharma sangat dalam, tinggi, dan luas untuk di lihat atau dipahami, dan ini sulit untuk didalami dipahami manusia biasa, pencapaian kedamaian(santa), hanya bisa diselami oleh orang bijaksana, namun apa yang disampaikan Beliau dalam Kebenaran Dharma adalah yang telah dipahami, dipraktikkan, dan mencapai hasilnya. Kemudian dengan cinta kasih dan kasih sayangnya pada dunia mengajarkan kepada umat manusia yang punya sebab-jodoh dengannya.
Melihat fenomena global dunia saat ini yang ditandai perpecahan yang semakin meluas, eskalasi konflik antar manusia yang signifikan, bahkan terjadi peperangan di berbagai wilayah dunia yang masih berlangsung. Tak dipungkiri dengan kemajuan teknologi, informasi, komunikasi dan peradaban manusia ternyata tidak dapat menghindari terulangnya sejarah buruk masa lalu umat manusia seperti konflik, pertikaian, dan peperangan, ini berdampak destruktif dari perang global dan keprihatinan bersama.
Ini menjadi alasan utama disabdakan Buddha pada lebih 2500 tahun lalu meninggalkan segala kemewahan duniawi untuk mencari dan menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit batin(kilesa) dan penderitaan(dukkha) umat manusia, maka Beliau mengorbankan segalanya dengan menempuh jalan bertapa akhirnya mencapai Kesempurnaan Tertinggi Buddha, Beliau dengan kasih sayangnya pada semua makhluk dan dunia berpesan kepada siswanya, “para bhikkhu, pergilah mengembara demi kebaikan orang banyak, membawa kebahagiaan bagi orang banyak, atas dasar kasih sayang terhadap dunia, untuk kesejahteraan, keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan manusia, nyatakanlah kehidupan suci, yang sempurna dan murni. Ajarkanlah Dharma Agung, laksanakanlah demi kebaikan pihak lain.Terbukalah pintu kehidupan abadi bagi mereka yang mau mendengar dan mempunyai keyakinan” . (Mahavagga, Vinaya pitaka I)
Dunia ini tidak kekurangan orang beragama, kepercayaan dan orang pandai, hanya dunia kekurangan manusia yang mulia, bermoral kebaikan. Bila orang-orang, pemimpin dunia memiliki kepribadian yang bermoral kebaikan, tidak egois, beradab, cinta kasih, dan kasih sayang seketika dunia akan menjadi damai sentosa; dunia yang penuh kebahagiaan, menjadi satu keluarga. Menjadi seorang bermoral kebaikan secara internal harus kembali ke hati nurani. Seorang pemimpin dunia harus mendengar dan menjunjung hati nuraninya, hanya dengan mengikuti panggilan nurani, seseorang dapat menjadi sadar dan mulia. Berbagai perbedaan agama, budaya, peradaban, dan kebangsaan apapun tidak menjadi masalah, yang penting menjadi panutan agama, kebangsaan, peradaban, dan budaya seseorang yang berhati nurani dan bermoral kebaikan.
Perwujudan perilaku cinta kasih, hati nurani, dan bijaksana dapat melihat kesamaan dalam perbedaan, mengajarkan kita menghormati lebih 8(delapan) miliar umat manusia dunia sebagai saudara, pada hakikatnya setiap manusia sama mulia dan terhormat; semua manusia dari sumber yang sama, sama dikasihi dan diberkatiNya, tak ada yang lebih tinggi dan tak ada yang lebih rendah. Dunia boleh memiliki sejuta perbedaan namun secara nuraniah kita memiliki satu kesamaan yaitu semua makhluk dan dunia membutuhkan kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Kondisi hidup di bumi ini bisa berbeda sesuai karmanya, ada kaya-miskin, hina-mulia, untung-rugi, cantik-jelek, pandai-bodoh, namun secara kodrati hidup seseorang adalah sama. Hati nurani mengajarkan kita mengasihi orang lain, mengasihi bumi raya sebagai rumah bersama. Alam bumi raya ini sebenarnya adalah taman sukacita, tempat yang damai dan bahagia. Sebagaimana dikatakan seorang pecinta alam “loving nature” Bumi adalah ‘Ibu’ yang patut dicintai, dihormati, dan dijaga agar hidup kita terpelihara dengan baik. Bumi bukanlah ‘gadis’ yang menarik untuk digoda dan dikuasai.
Sesuai tema Waisak 2569 BE/2025 “Tingkatkan Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan, Wujudkan Perdamaian Dunia”. Merupakan ajakan pesan moral umat Buddha Indonesia untuk dunia, agar cepat terwujudnya perdamaian dunia, karena sangat disayangkan selama satu abad terakhir, sejumlah besar pikiran, energi, dan sumber daya manusia dunia telah dicurahkan untuk mempersiapkan dan melancarkan peperangan, termasuk mempersiapkan senjata dahsyat bom nuklir. Semua upaya dan dedikasi untuk merawat dan menciptakan perdamaian dunia semakin minim. Kondisi ini tidak hanya akan gagal dalam menyelesaikan berbagai konflik antar manusia, melainkan berbalik menjadi bumerang, di mana negara-negara bersaing untuk meningkatkan kekuatan militernya, bahkan dunia dari beberapa negara mengarah pada ancaman serius perang nuklir terhadap kelangsungan hidup umat manusia dunia.
Inti dari Kebenaran kepercayaan apapun termasuk ajaran Buddha (Buddha Dharma) dengan tujuan akhir untuk mencapai kedamaian(peace) jiwa seseorang. Buddha mengajarkan hukum kesunyataan, antara lain tiga corak kehidupan bahwa semua fenomena adalan tanpa aku yang kekal (non-substantial), tentang ketidakkekalan dunia (sabbe sankhara anicca), penuh penderitaan (sabbe sankhara dukkha) dan tanpa aku yang kekal (sabbe dhamma anatta). Fenomena ketidakkekalan dunia ini bukanlah sesuatu yang dicari manusia, namun manusia makin terikat padanya, hanya dengan kesadaran penuh keyakinan (sradha), kebijaksanaan (prajna), kedisiplinan (sila), dan caga(membagi amal) seseorang akan memahaminya dalam mencapai kebebasan dari penderitaan demi kebahagiaan dan kedamaian abadi.
Secara konsep dasarnya manusia yang terbangun oleh unsur lima kelompok kehidupan (pancakhandha) terdiri dari aspek rupakhanda atau jasmani(rupakhanda), perasaan (vedana khanda), persepsi (sanna khanda), Pikiran(sankhara khanda), dan kesadaran (vinnana khanda), sedangkan unsur ragawi terbangun dari unsur tanah (pathavi),air (apo), api (tejo), dan udara (vayu) yang selalu mengikuti arus (bhava) yang membentuk berbagai kondisi dan disposisi manusia itu sendiri. Kelima unsur ini telah membentuk kelahiran samsara yang terus menerus (punarbhava), dalam arus penderitaan(dukkha) tersebut, sehingga sulit ditemukan kembali kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan.
Manusia tanpa kesadaran setiap saat hanya memenuhi ruang hati pikiran dengan ketamakan(lobha), kebencian(dosa), kebodohan(moha), nafsu rendah (tanha), dan kegelapan batin(avijja), lalu mengejar berbagai bentuk keinginan duniawi semata yang terikat seperti nafsu seksual, narkoba, kenamaan, kedudukan, kekayaan materi menjadi budak, dan temperaman buruk. Ini semua menjadi hasrat fisiologis dasar manusia, apabila manusia tanpa kebijaksanaan(prajna) dan cinta kasih(maitri) menggunakan semua fasilitas fisik, ini akan berubah menjadi "binatang buas berpakaian manusia." Bahkan manusia mengklaim lebih berkuasa dari hewan dengan nafsunya. Maka dalam sejarah umat manusia terus terjadi saling berperang, bersaing, dan menyakiti satu sama lain demi semua keinginannya tercapai, nafsunya terpuaskan. Mana ada kehidupan yang sejahtera, damai, dan bahagia dibangun atas keinginan nafsu tersebut, pada akhirnya pasti akan gagal.
Kesejahteraan, kebahagiaan, dan indahnya hidup merupakan kunci utama dalam masyarakat yang bermoral tinggi, hidup yang harmonis serasi, selaras dan seimbang dalam kedamaian, dengan harapan negara dan bangsa kita dapat menghormati dan menghargai hak-hak orang lain, maka bangsa dan negara akan menjadi damai harmonis dengan sendirinya.
Marilah dengan segenap jiwa raga dengan keindahan mata, telinga, hidung, mulut, badan, dan pikiran, dengan ketulusan hati tidak merugikan orang lain. Membawa kedamaian dan kebahagiaan dengan peduli bersama, kemanapun pergi dan dimanapun berada. Selamat Merayakan Hari Tri Suci Waisak 2569 BE/2025. Semoga kita semua dan sekalian makhluk berbahagia.*
Penulis: Sonika, S.E., S.Ag., M.Pd, Dosen STAB Maitreyawira dan Unri Pekanbaru