|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU – Di balik jeruji besi, ratusan warga binaan Lapas Kelas IIA Pekanbaru menatap bulan suci Ramadhan dengan penuh khusyuk.
Suara takbir dan lantunan ayat suci mengisi Masjid At-Taubah, menghapus sejenak sunyi sel-sel tahanan, dan menghadirkan ketenangan hati yang langka.
Malam pertama Ramadan, salat Tarawih berjamaah bukan sekadar ritual, melainkan oase spiritual yang menyejukkan jiwa mereka.
Meski berjauhan dari keluarga, wajah-wajah warga binaan tampak tenang, rapi dengan peci dan baju koko yang dikenakan, seolah Ramadan memberi mereka ruang untuk bernapas, merenung, dan menemukan kedamaian.
Tarawih menjadi lebih dari sekadar kewajiban—ia menjadi momen introspeksi dan penguat iman di tengah keterbatasan.
Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Yuniarto, hadir bersama jajaran petugas, mengikuti langsung salat Tarawih berjamaah.
Kehadiran pimpinan dan petugas bukan hanya simbol pengawasan, tetapi juga bentuk dukungan nyata terhadap program pembinaan kepribadian dan kerohanian warga binaan.
“Tarawih di sini bukan sekadar kewajiban. Ini sarana introspeksi diri dan peningkatan keimanan. Kami berharap warga binaan memanfaatkan Ramadan untuk memperbaiki diri dan menyiapkan masa depan yang lebih baik,” ujar Yuniarto.
Selain salat berjamaah, Lapas Pekanbaru menyiapkan berbagai program rohani selama Ramadhan, termasuk tadarus Alquran, ceramah agama, dan pembinaan keagamaan rutin.
Suasana kebersamaan antara petugas dan warga binaan menumbuhkan nilai kekeluargaan, memberi rasa aman dan hangat di tengah rutinitas pembinaan yang disiplin.
Bagi warga binaan, malam pertama Tarawih menjadi penyejuk hati, momen refleksi, sekaligus titik awal perubahan.
Di balik tembok dan jeruji, spiritualitas tetap bisa tumbuh, meneguhkan harapan bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan memulai hidup yang lebih baik setelah masa pembinaan.*