|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Komoditas lemak dan minyak hewan/nabati atau crude palm oil (CPO) beserta turunannya kembali menjadi motor utama ekspor Provinsi Riau pada awal 2026. Di tengah tekanan sektor migas, kinerja ekspor daerah ini tetap mencatatkan pertumbuhan positif.
Badan Pusat Statistik (BPS) Riau melaporkan, nilai ekspor Riau sepanjang Januari - Februari 2026 mencapai US$3,69 miliar atau tumbuh 10,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, mengatakan pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang meningkat signifikan.
"Ekspor nonmigas mencapai US$3,60 miliar atau naik 16,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025," ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Dari sisi komoditas, kelompok lemak dan minyak hewan/nabati menjadi kontributor terbesar sekaligus mencatatkan kenaikan tertinggi. Nilainya mencapai US$2,30 miliar atau sekitar 63,92 persen dari total ekspor nonmigas Riau.
"Komoditas ini juga mengalami peningkatan terbesar, yakni naik US$592,02 juta atau 34,63 persen," jelas Asep.
Selain CPO dan turunannya, sejumlah komoditas lain yang turut mengalami peningkatan antara lain bahan kimia organik, ampas dan sisa industri makanan, serta berbagai produk makanan olahan.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru mencatatkan penurunan. Penurunan terbesar terjadi pada bubur kayu (pulp) yang turun US$92,01 juta atau 27,57 persen. Selain itu, penurunan juga terjadi pada produk kimia tertentu, kertas dan karton, bahan nabati, buah-buahan, serta serat stapel buatan.
Secara bulanan, kinerja ekspor Februari 2026 tercatat sedikit melemah dibandingkan Februari 2025. Nilainya mencapai US$1,84 miliar atau turun tipis 0,15 persen. Penurunan ini terutama disebabkan anjloknya ekspor migas. Pada Februari 2026, ekspor migas hanya mencapai US$24,98 juta atau merosot hingga 80,01 persen.
Sebaliknya, ekspor nonmigas masih menunjukkan tren positif dengan nilai US$1,81 miliar atau tumbuh 5,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif, ekspor migas Januari–Februari 2026 tercatat sebesar US$87,29 juta atau turun 63,92 persen.
Penurunan ini dipicu merosotnya ekspor hasil pengolahan minyak sebesar 52,41 persen serta minyak mentah yang anjlok hingga 89,81 persen.
Dari sisi tujuan ekspor, pasar Asia masih menjadi andalan utama bagi Riau. Tiga negara tujuan terbesar adalah Tiongkok dengan nilai ekspor US$578,79 juta, disusul India US$466,24 juta, dan Malaysia US$270,55 juta.
"Kontribusi ketiganya mencapai 36,54 persen terhadap total ekspor nonmigas Riau," kata Asep.
Selain itu, ekspor ke kawasan ASEAN tercatat sebesar US$579,76 juta, sementara ke Uni Eropa mencapai US$353,94 juta.
Berdasarkan sektor, ekspor nonmigas dari industri pengolahan menunjukkan kinerja yang solid dengan pertumbuhan 16,73 persen pada Januari–Februari 2026. Sebaliknya, ekspor dari sektor pertanian justru mengalami kontraksi sebesar 15,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara keseluruhan, dominasi CPO dan produk turunannya menjadi penopang utama yang menjaga kinerja ekspor Riau tetap tumbuh pada awal 2026, meskipun sektor migas masih menghadapi tekanan cukup dalam.*