|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU – Provinsi Riau saat ini sedang berada dalam masa transisi atau peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru memprakirakan bahwa musim kering akan mulai menyelimuti sebagian besar wilayah Riau secara bertahap pada dasarian III atau akhir Mei 2026.
Meski sedang menuju musim kemarau, potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih sering terjadi di sejumlah wilayah. Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Bella Rizki Adelia, menjelaskan bahwa aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) menjadi faktor utama yang meningkatkan suplai uap air di atmosfer Riau.
"Saat ini faktor paling dominan dalam menambah uap air di Riau adalah aktifnya fenomena MJO yang berada pada fase 2 hingga 3. MJO dapat diibaratkan sebagai gelombang pembawa hujan di atmosfer tropis," ujar Bella, Selasa (12/5/2026).
Bella menambahkan, ketika fase aktif MJO melintas di Indonesia, peluang pembentukan awan meningkat drastis. Namun sebaliknya, jika fenomena ini tidak aktif, intensitas hujan di Riau akan berkurang secara signifikan.
Senada dengan Bella, Forecaster On Duty Gita Dewi Siregar mengungkapkan bahwa dalam sepekan terakhir, curah hujan di Riau sebenarnya cenderung menurun dan tidak merata. Namun, beberapa titik masih mengalami hujan lebat akibat adanya daerah belokan angin (shearline).
"Ditinjau dari arah angin, diperkirakan terdapat daerah belokan angin atau shearline di wilayah Riau yang mendukung pertumbuhan awan hujan secara sporadis," jelas Gita.*