|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Autobiografi Brigjen TNI (Purn) H. Saleh Djasit, SH berjudul "Jalan Hidup Anak Pujud" dinilai sebagai referensi penting untuk memahami kepemimpinan di Provinsi Riau, khususnya pada masa transisi reformasi.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau, Syahrial Abdi, saat mewakili Plt Gubernur Riau dalam peluncuran buku di Balai Rung Tenas Effendy, Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau, Rabu (15/4/2026).
Menurut Syahrial, buku tersebut tidak hanya merekam perjalanan hidup Saleh Djasit, tetapi juga menggambarkan dinamika kepemimpinan di Riau saat menghadapi perubahan besar di era reformasi.
"Kepemimpinan beliau menunjukkan bagaimana seorang pemimpin diuji, bukan hanya dalam kondisi mudah, tetapi juga dalam situasi sulit," ujarnya.
Ia menambahkan, gaya kepemimpinan Saleh Djasit menitikberatkan pada stabilitas daerah, konsolidasi kelembagaan, serta arah pembangunan yang jelas di tengah perubahan sistem pemerintahan.
Syahrial juga menyoroti peran penting Saleh Djasit dalam menghadapi era otonomi daerah, termasuk merespons tuntutan pembentukan kabupaten dan kota baru di Riau. Selain itu, gagasan Visi Riau 2020 yang menempatkan adat dan budaya Melayu sebagai pusat kebudayaan Asia Tenggara dinilai menjadi fondasi penting pembangunan daerah.
"Beliau lebih banyak mendengar daripada berbicara, dan lebih banyak bekerja daripada sekadar menyampaikan," kata Syahrial, mengenang sosok pemimpin yang pernah menjadi atasannya tersebut.
Ia menegaskan, memahami kepemimpinan masa lalu menjadi kunci agar kebijakan ke depan lebih relevan dan berkesinambungan. Kontribusi Saleh Djasit, lanjutnya, telah menjadi bagian penting dalam sejarah pembangunan Riau.
Sementara itu, Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR Provinsi Riau, Marjohan Yusuf, menilai buku Jalan Hidup Anak Pujud sebagai karya bernilai besar bagi daerah.
Menurutnya, buku tersebut bukan sekadar catatan perjalanan hidup, melainkan juga cerminan fondasi pembangunan Riau ke depan. Ia menekankan pentingnya penulisan yang jujur sebagai pembelajaran bagi generasi penerus agar nilai-nilai baik tetap terjaga.
Rangkaian peluncuran buku ditutup dengan sesi "Sambung Rasa" berupa diskusi yang menghadirkan sejumlah akademisi sebagai panelis. Diskusi tersebut mengupas berbagai perspektif isi buku, sebelum acara diakhiri dengan doa dan makan siang bersama yang diiringi musik Melayu.*