|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

JAKARTA – Pergerakan rupiah pada pengujung April 2026 melanjutkan pelemahan hingga menembus level Rp 17.300-an per dolar AS. Diprediksi, pada awal Mei 2026, Mata Uang Garuda masih tertekan dan berpotensi menuju posisi Rp 17.500 per dolar AS.
“Untuk sepekan ke depan, rupiah (diprediksi) range-nya Rp 17.300—Rp 17.550 per dolar AS,” ungkap Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, dikutip Ahad (3/5/2026).
Rupiah diketahui pada perdagangan akhir pekan ini ditutup di level Rp 17.353 per dolar AS. Ibrahim memprediksi, awal pekan depan, Senin (4/5/2026) rupiah berpotensi melemah di rentang Rp 17.350—Rp 17.400 per dolar AS.
Rupiah terpantau mengalami koreksi yang cukup dalam dibandingkan posisinya pada awal tahun. Pada 2 Januari 2026, rupiah berada pada level Rp 16.680 per dolar AS, menurut catatan Bank Indonesia (BI).
Ibrahim menerangkan beberapa faktor yang memengaruhi tren pelemahan rupiah yang berlanjut pada sepekan ke depan, baik dari eksternal maupun internal. Utamanya adalah ihwal dampak dinamika perang di Timur Tengah.
Dari segi eksternal, kaitan dengan perang antara Iran vs AS-Israel, Presiden AS Donald Trump diketahui bersiap untuk memblokade angkatan laut yang berkepanjangan terhadap Iran. Kekhawatiran atas skenario tersebut diperparah oleh laporan bahwa beberapa eksekutif minyak AS terkemuka bertemu dengan Trump di Gedung Putih untuk membahas soal langkah pembatasan dampak konflik terhadap keluarga AS.
“Blokade angkatan laut yang berkepanjangan kemungkinan akan membuat Iran terus memblokir Selat Hormuz sebagai pembalasan. Blokade yang berkepanjangan di jalur pelayaran tersebut menunjukkan gangguan pasokan minyak global yang lebih besar,” ujarnya.
Ia menerangkan, lalu lintas kapal melalui Hormuz telah melambat sejak Iran memblokir jalur tersebut pada akhir Februari, mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Namun, sebuah laporan pada Rabu menunjukkan, Trump mencari bantuan dari negara lain untuk membentuk koalisi internasional baru sebagai upaya untuk membuka kembali jalur air tersebut.*