Sep 2026
07

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Tokoh-tokoh Dunia Bahas Dampak Teknologi AI
nasional | Sabtu, 5 September 2026 | 21:26:11 WIB
Editor : wislysusanto | Penulis : rls

BALI - Kecerdasan buatan (AI) berkembang begitu cepat. Namun, di tengah euforia teknologi tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah AI akan membuat kehidupan manusia lebih baik, atau justru membuat manusia kehilangan sesuatu yang paling mendasar dari dirinya?

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu fokus World Encounter Summit 2026 yang mempertemukan pemimpin pemerintah, pemuda, akademisi, tokoh agama, perusahaan teknologi, hingga masyarakat sipil dari berbagai negara di Bali.
Rangkaian forum dimulai melalui Bali Harmony Dialogue, Kamis (3/9/2026), di United In Diversity (UID) Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.

Forum tersebut kemudian dilanjutkan dengan XI International Scholas Chairs Congress 2026 pada 4-6 September 2026.
Para peserta dari lima benua membahas dampak AI terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai pendidikan, dunia kerja, kesehatan mental generasi muda, demokrasi, hingga hubungan sosial.
Yang menjadi perhatian adalah kesenjangan dalam perkembangan AI.

Baca :

Tidak semua negara memiliki akses yang sama terhadap data, daya komputasi, infrastruktur digital, talenta, maupun kemampuan mengatur teknologi tersebut.

Karena itu, pemerataan manfaat AI dinilai bukan semata persoalan teknologi, melainkan juga menyangkut keadilan sosial, ekonomi, moral, dan lingkungan.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI Luhut B. Pandjaitan mengatakan Indonesia harus membangun kapasitas sendiri agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi.

"Salah satunya melalui pengembangan AI yang ditopang energi bersih serta pendidikan STEM," tandas Luhut.

Sementara Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan tingginya penggunaan AI oleh generasi muda Indonesia harus diikuti penguatan riset, talenta, infrastruktur, dan kebijakan.

"Penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional," ujar Meutya.

Ia menilai Indonesia memiliki peluang menjadi pencipta teknologi, bukan sekadar pasar bagi produk AI dari negara lain.
Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes, Maria Paz Jurado, mengingatkan bahwa pertanyaan terbesar di era AI bukan hanya tentang apa yang mampu dilakukan mesin.

Menurutnya, dunia juga harus menentukan manusia seperti apa yang ingin dibangun bersama teknologi tersebut.*

Terbaru
nasional
Status Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga Level III
Minggu, 6 September 2026 | 21:12:01 WIB
potensa
Sepenuh Hati Memahami, Telkomsel Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2026
Minggu, 6 September 2026 | 15:46:36 WIB
potensa
BNI Wilayah 02 Lebih Dekat Dengan Nasabah di Hari Pelangan Nasional
Minggu, 6 September 2026 | 15:33:57 WIB
huawen
Munas PSMTI Sepakat Ubah Nama , Wilianto Tanta Kembali Terpilih
Minggu, 6 September 2026 | 13:51:27 WIB
pekanbaru
Konsep Sederhana, RRI Pekanbaru Fokus Kebersamaan di HUT ke-81
Minggu, 6 September 2026 | 11:54:55 WIB
华 闻
Meriahkan HUT RI, PSMTI Riau Gelar Donor...
Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:47:03 WIB
Artikel Popular
1
2
politik
Projo Riau Bagikan 7.000 Masker di Jalan Sudirman...
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 00:27:11 WIB
Yopi Arianto: Nasdem Riau Dukung Pembangunan Tol...
Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:33:44 WIB
hukum
Nasional
Status Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga Level...
Minggu, 6 September 2026 | 21:12:01 WIB
Tokoh-tokoh Dunia Bahas Dampak Teknologi...
Sabtu, 5 September 2026 | 21:26:11 WIB