|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

DUMAI - Kabut tipis masih menggantung di kawasan industri Kota Dumai ketika matahari perlahan muncul dari ufuk timur. Di antara tangki penyimpanan, jaringan pipa, dan cerobong kilang yang selama puluhan tahun menjadi simbol industri energi, panel-panel surya menangkap cahaya pagi. Pemandangan itu menyimpan cerita tentang perubahan. Di kota yang tumbuh bersama industri minyak, matahari kini mendapat tempat dalam upaya membangun masa depan energi yang lebih bersih.
Dumai memiliki hubungan panjang dengan energi. Letaknya yang strategis di pesisir timur Sumatera, menghadap Selat Malaka, menjadikannya simpul penting perdagangan dan distribusi. Kehadiran kilang minyak, industri pengolahan kelapa sawit, serta aktivitas pelabuhan turut membentuk denyut ekonomi kota ini.
Namun, di tengah tuntutan global untuk menekan emisi karbon, industri menghadapi tantangan baru. Pertumbuhan ekonomi tidak lagi cukup ditopang oleh kapasitas produksi dan nilai investasi. Efisiensi energi, pengurangan emisi, dan tanggung jawab terhadap lingkungan menjadi bagian penting dari keberlanjutan usaha.
Di tengah perubahan itulah, Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai mengambil langkah konkret melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas total 3,77 megawatt peak (MWp).
Bukan sekadar memasang panel surya, langkah ini menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan energi terbarukan ke dalam sistem kelistrikan, mengurangi penggunaan bahan bakar untuk pembangkitan listrik, dan memperkuat perjalanan dekarbonisasi di lingkungan kilang.
Matahari di Tengah Industri Energi
Di lingkungan Kilang Pertamina Dumai, pemanfaatan energi matahari diwujudkan melalui tiga instalasi PLTS yang tersebar di beberapa lokasi. Masing-masing memiliki kapasitas 2 MWp di Jalan Raya Bukit Datuk, 1 MWp di Kompleks Fire Camp, dan 0,77 MWp di kawasan Rumah Dinas Perusahaan Bukit Datuk.
Ketiganya memiliki kapasitas terpasang total 3,77 MWp. Berdasarkan data perusahaan, produksi listrik efektif rata-rata mencapai sekitar 500 kilowatt per hari, dengan daya puncak hingga 3,4 MWp. Listrik yang dihasilkan diintegrasikan ke dalam sistem kelistrikan setempat untuk mendukung kebutuhan fasilitas perusahaan.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Tengku Muhammad Rum, menjelaskan bahwa keandalan pasokan listrik merupakan unsur penting dalam menjaga keberlangsungan operasional kilang.
Sistem kelistrikan menopang berbagai fasilitas, mulai dari unit proses produksi hingga sistem kendali dan keselamatan. Karena itu, pemanfaatan energi terbarukan tidak boleh mengabaikan kebutuhan utama industry, operasi yang aman, andal, dan berkesinambungan.
“Pemanfaatan PLTS menjadi bagian dari langkah strategis perusahaan dalam memperkuat sistem kelistrikan untuk terus menjaga keandalan operasi. Inisiatif ini sekaligus mendorong pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan, sejalan dengan komitmen Pertamina dalam upaya dekarbonisasi di seluruh lini bisnis,” ujar Muhammad Rum, Jumat (9/10/2026).
Listrik dari PLTS tersebut berkontribusi memenuhi sekitar 1,6 persen kebutuhan listrik berdasarkan beban dasar yang dilaporkan perusahaan. Angka ini memang belum menjadi porsi dominan dalam sistem kelistrikan, tetapi menunjukkan bahwa energi surya dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari kebutuhan energi di kawasan industri.
Pembangunan PLTS juga berkaitan dengan Program Substitusi Listrik Rumah Dinas Perusahaan Bukit Datuk ke jaringan PLN yang mulai dijalankan sejak 2019. Melalui integrasi sistem kelistrikan tersebut, beban listrik yang sebelumnya dipasok oleh pembangkit internal berbasis Steam Turbine Generator dapat dikurangi.
Dengan demikian, manfaat PLTS tidak hanya terletak pada listrik yang dihasilkan. Pemanfaatannya juga mendukung efisiensi energi melalui pengurangan beban pembangkitan internal dan konsumsi bahan bakar yang diperlukan untuk memproduksi listrik.
Berdasarkan data perusahaan, implementasi PLTS Kilang Dumai berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon hingga 18.319,99 ton CO₂ ekuivalen per tahun. Angka tersebut memperlihatkan potensi manfaat lingkungan dari pemanfaatan energi surya sekaligus menjadi indikator penting dalam upaya dekarbonisasi perusahaan.
Inovasi yang Mendapat Pengakuan
Upaya tersebut memperoleh pengakuan melalui ajang Apresiasi Energi Baru dan Terbarukan (AEBT) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di JIEXPO Convention Centre, Jakarta, Kamis (3/9/2026). Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai meraih Juara I kategori On-Grid Self Consumption melalui karya berjudul “Transformasi Kawasan Hunian Rendah Karbon melalui Implementasi PLTS 3,77 MWp sebagai Akselerator Dekarbonisasi dan Transisi Energi Berkelanjutan di PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai”.
Karya tersebut disusun oleh tim Fungsi Engineering & Development yang terdiri dari Ervandy Haryoprawironoto, Saeful Sampe, dan Nobal Ardhinata.
Penghargaan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan energi surya di Kilang Dumai tidak hanya dipandang sebagai pemasangan teknologi baru, tetapi juga sebagai inovasi yang menghubungkan efisiensi operasional dengan pengurangan emisi.
Melalui skema on-grid self consumption, listrik yang dihasilkan PLTS dimanfaatkan untuk kebutuhan internal perusahaan. Pendekatan ini memungkinkan energi matahari menjadi bagian dari sistem energi yang telah ada, tanpa mengesampingkan kebutuhan menjaga keandalan operasi.
General Manager PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Iwan Kurniawan, mengapresiasi kontribusi para pekerja dalam menghadirkan inovasi tersebut.
Menurutnya, pencapaian itu mencerminkan tumbuhnya budaya inovasi dan kolaborasi di lingkungan perusahaan. Pengembangan PLTS juga didukung sinergi antarentitas Pertamina, termasuk PT Pertamina New & Renewable Energy, untuk menghadirkan solusi energi bersih yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan lingkungan.
Penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa transisi energi tidak harus menunggu perubahan besar terjadi sekaligus. Langkah yang terukur, didukung kolaborasi dan evaluasi manfaat, dapat menjadi bagian penting dari perjalanan menuju operasi rendah karbon.
Menjaga Kilang, Menjaga Masa Depan
Dumai tidak sedang meninggalkan identitasnya sebagai kota industri. Kilang, pelabuhan, dan berbagai kegiatan pengolahan tetap menjadi bagian penting dari perekonomian daerah. Yang sedang dibangun adalah cara baru untuk mempertahankan pertumbuhan tersebut dengan penggunaan energi yang lebih efisien dan tanggung jawab lingkungan yang lebih besar.
Pemanfaatan PLTS 3,77 MWp di Kilang Pertamina Dumai memperlihatkan salah satu jalan yang dapat ditempuh: memanfaatkan potensi energi matahari, mengintegrasikannya ke dalam sistem kelistrikan, serta mengukur kontribusinya terhadap efisiensi dan pengurangan emisi.
Tentu, perjalanan menuju industri rendah karbon masih membutuhkan langkah lanjutan. Pengembangan energi terbarukan, penguatan keandalan sistem, peningkatan kompetensi pekerja, dan pengawasan lingkungan harus berjalan beriringan agar manfaat transformasi dapat terus diperluas.
Namun, perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang langsung mendominasi. Terkadang, ia tumbuh dari langkah yang terukur di tengah sistem besar yang telah lama berjalan.
Di antara cerobong dan tangki kilang Dumai, panel-panel surya kini menjadi penanda bahwa industri energi pun dapat membuka ruang bagi sumber energi yang lebih bersih. Cahaya matahari yang dahulu sekadar menyinari kawasan industri, kini ikut berperan dalam menggerakkan perubahan.
Dari Dumai, pesan itu menjadi semakin jelas: menjaga ketahanan energi dan merawat bumi bukanlah dua tujuan yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama, ketika inovasi, efisiensi, dan keberlanjutan menjadi bagian dari cara industri memandang masa depan.
Pemerintah Menyiapkan Jalan
Transformasi menuju industri rendah karbon tidak mungkin berjalan sendiri. Upaya perusahaan memanfaatkan energi terbarukan membutuhkan dukungan kebijakan yang memberi arah sekaligus kepastian. Di Dumai, pemerintah daerah mulai menyiapkan fondasi agar perubahan tersebut tidak berhenti sebagai inisiatif masing-masing industri, melainkan menjadi bagian dari arah pembangunan kota.
Sebagai kota yang perekonomiannya masih didominasi sektor industri pengolahan, Dumai menyadari bahwa keberlanjutan pertumbuhan ekonomi akan sangat ditentukan oleh kemampuan industrinya beradaptasi dengan tuntutan global. Karena itu, pembangunan tidak lagi hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga diarahkan agar lebih efisien dalam penggunaan energi, lebih ramah terhadap lingkungan, dan mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Dumai, Budhi Hasnul, mengatakan transformasi ekonomi menuju industri yang lebih berkelanjutan telah menjadi bagian dari arah pembangunan daerah. Melalui dokumen perencanaan seperti RPJMD dan RKPD, pemerintah berupaya menyelaraskan pengembangan kawasan industri dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia serta kebutuhan dunia usaha.
"Transisi ekonomi harus diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, sehingga masyarakat lokal dapat mengambil peluang dari pertumbuhan industri yang berkembang di Kota Dumai," ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah juga berupaya menciptakan iklim investasi yang sejalan dengan transformasi tersebut. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Dumai, Dona Fitri Illahi, menyebut kemudahan perizinan, kepastian layanan, dan penguatan kawasan industri terus dilakukan untuk menarik investasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mendukung pengembangan industri yang lebih berdaya saing.
Bagi pemerintah, investasi bukan lagi sekadar soal besarnya modal yang masuk, tetapi juga tentang kualitas investasi yang mampu menghadirkan inovasi, efisiensi energi, dan teknologi yang lebih ramah lingkungan.
Komitmen itu diperkuat melalui berbagai kebijakan pengelolaan lingkungan. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Dumai, Yuda Pratama Putra, menegaskan bahwa pertumbuhan industri harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan melalui pengendalian pencemaran, pengawasan terhadap aktivitas industri, pengelolaan limbah, serta pengurangan emisi.
"Dumai memiliki potensi industri yang besar. Namun, pertumbuhan tersebut harus dibarengi dengan upaya menjaga daya dukung lingkungan. Kolaborasi pemerintah, perusahaan, dan masyarakat menjadi kunci agar pembangunan ekonomi tetap berjalan dengan prinsip berkelanjutan," katanya.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa Dumai tidak sedang memilih antara industri atau lingkungan. Kota ini sedang berupaya mempertemukan keduanya, membangun masa depan di mana pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan dengan energi yang lebih bersih dan lingkungan yang tetap terjaga. Itulah fondasi yang tengah disiapkan untuk mewujudkan Dumai sebagai kota industri hijau. (*)