|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU — Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Kepolisian Daerah (Polda) Riau dibantu Bea Cukai mengungkap peredaran sabu asal Malaysia seberat 34,9 kilogram. Lima orang tersangka ditangkap.
Barang bukti tersebut ditaksir bernilai Rp62,9 miliar. Dengan gagalnya peredaran narkotika itu, berhasil menyelamatkan 175 ribu jiwa.
Kapolda Riau, Irjen Pol Arman Achdiat mengatakan barang haram itu masuk ke Indonesia melalui wilayah pesisir Provinsi Riau, tepatnya di Bengkalis.
"(Jaringan) ini berbeda dengan sebelumnya 47 kilogram sabu," ujar Irjen Arman, didampingi Kabid Kabid Humas Kombes Akmadi dan Direktur Resnarkoba, Kombes Putu Yudha Prawira, saat ekspos di Ruang Tribrata, Markas Polda Riau, Selasa (27/10/2026).
Arman mengatakan, pengungkapan tersebut merupakan bagian dari program quick wins yang diperintahkan Kapolri, khususnya melalui Operasi Sarang Narkoba. Riau menjadi salah satu pintu masuk narkoba yang jadi prioritas.
“Riau ini merupakan pintu masuk untuk narkoba, terutama dari Malaysia, dengan menggunakan beberapa pelabuhan, terutama di seputaran Dumai, Rupat, Bengkalis, dan pesisir pantai yang ada di wilayah timur Provinsi Riau,” kata Arman.
Ia menegaskan, kepolisian telah memetakan pola pergerakan jaringan internasional tersebut. Sejumlah nama juga telah dikantongi untuk didalami guna mengungkap jaringan yang memasok narkotika dari Malaysia.
Arman menyebut, pengungkapan ini menjadi alasan bagi kepolisian untuk memperkuat penindakan dan menutup jalur masuk narkoba dari wilayah timur Riau.
Ia juga berharap ada upaya bersama untuk menghentikan jalur keluar narkotika dari wilayah Malaysia, khususnya di bagian barat Selat Malaka.
“Saya nyatakan perang, khusus narkoba tidak ada ampun buat Riau,” tegasnya.
Sasar Riau, Sumut dan Sumsel
Arman menyebut, sabu seberat 34,9 kilogram tersebut rencananya diedarkan ke wilayah Riau, Medan, Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Selatan (Sumsel). Polisi masih mengembangkan kasus untuk menelusuri jaringan yang terlibat.
Arman menegaskan, penyidik masih mendalami perkara tersebut untuk mengungkap pihak lain yang diduga terlibat, termasuk jaringan di Malaysia.
Selain penindakan, Polda Riau menyiapkan langkah pencegahan dengan membentuk satuan tugas yang akan ditempatkan di sejumlah sekolah.
Program ini akan dilaksanakan melalui kerja sama dengan BNN dan BNN Provinsi Riau, terutama untuk mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.
Arman juga menekankan pentingnya sinergi kepolisian, Bea Cukai, BNN, pemerintah provinsi, Forkopimda, dan masyarakat dalam memberantas peredaran narkotika.
Sementara, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Riau, Dwijo Muryono, menyatakan pihaknya siap memperkuat sinergi dengan kepolisian, BNN, dan seluruh unsur masyarakat untuk mencegah masuknya narkotika melalui pintu masuk dan keluar negara.
“Terima kasih, Pak Kapolda. Yang menjadi konsen kita semuanya untuk saling membantu, bersinergi menjaga bangsa kita dari semua hal-hal yang buruk, apalagi kita sama-sama tahu betapa bahayanya narkoba, sehingga menjadi konsen kita untuk saling membantu mensukseskan, menyelamatkan generasi muda kita dari keterpengaruhan narkotika,” kata Dwijo.
Ia menegaskan, Bea Cukai akan bekerja secara maksimal dan optimal dalam mengawasi pintu masuk serta pintu keluar negara, sekaligus berkolaborasi dengan kepolisian, BNN, dan seluruh unsur masyarakat untuk menanggulangi masuknya barang-barang terlarang.
“Kami insyaallah akan sangat support seperti yang disampaikan oleh Bapak Kapolda tadi, kita semuanya akan support untuk saling membantu, bersinergi untuk menjaga bangsa kita dari keterpengaruhan barang-barang yang sifatnya sangat buruk dan sangat merusak,” ujarnya.
Ia berharap Riau tidak lagi dijadikan pintu masuk peredaran narkoba dan generasi muda terlindungi dari bahaya penyalahgunaan narkotika.
“Kita sayangi masyarakat, kita sayangi generasi muda, karena kita juga akan melalui suatu proses bonus demografi. Jangan sampai pada saat mereka-mereka menjelang dewasa, mereka terjangkit hanya gara-gara masalah narkoba,” tutupnya.*