|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU — Anak gajah Sumatera bernama Khalista Lestari atau yang akrab disapa Tari mati akibat terinfeksi virus mematikan Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHv). Hasil pemeriksaan laboratorium di Bogor memastikan organ hati Tari diserang virus tersebut.
Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Heru Sutmantoro, menjelaskan, virus EEHv sangat berbahaya khususnya bagi gajah yang masih berusia anak dan remaja. Virus ini berkembang dengan sangat cepat dan bisa menyebabkan kematian dalam hitungan jam.
“Berdasarkan pengalaman kami di Aceh, dari awal muncul gejala sampai gajah meninggal hanya membutuhkan waktu empat jam. Meski kami sudah memberikan infus dan nutrisi secara maksimal, gajah tetap tidak bisa bertahan,” kata Heru saat dihubungi, Senin (15/9/2025).
EEHv adalah virus herpes yang ditemukan pada gajah Asia maupun Afrika, yang menyebabkan penyakit hemoragik parah dan seringkali berakibat fatal. Salah satu tantangan terbesar penanganan virus ini adalah kecepatan penyebarannya yang luar biasa.
Gajah yang terinfeksi bisa menunjukkan gejala ringan, seperti lesu dan kehilangan nafsu makan, namun kondisinya dapat memburuk drastis dalam waktu singkat.
Hingga kini, belum ditemukan vaksin efektif untuk mencegah penularan virus EEHv. “Sampai saat ini, belum ada vaksin yang bisa menghambat virus ini," kata Heru.
Untuk mengantisipasi ancaman EEHv, Balai TNTN terus melakukan berbagai upaya pencegahan, terutama bagi gajah yang berada dalam pengawasan mereka. Langkah pertama adalah menjaga sanitasi lingkungan agar tetap bersih.
Selain itu, dokter hewan juga rutin mengambil sampel air liur dan darah dari gajah yang menunjukkan tanda-tanda sakit untuk diuji laboratorium.
Namun, Heru mengakui, menjaga kesehatan gajah di hutan yang semi-liar bukan perkara mudah. “Gajah di sini hidup semi-liar di hutan, berbeda dengan gajah di kebun binatang yang lebih mudah diawasi,” jelasnya.
Kunci utama menghadapi virus ini, menurut Heru, adalah menjaga daya tahan tubuh gajah. “Kalau daya tahan tubuhnya kuat, virus mungkin bisa dihadapi. Tapi kalau lemah, virus mudah masuk,” tutur Heru.
Sebagai langkah tambahan, Balai TNTN kini memberikan suplemen vitamin dan mineral guna meningkatkan sistem imun gajah. Saat ini, terdapat tujuh ekor gajah di flying squad TNTN yang mendapat perhatian khusus.
Selain Tari, ada Domang, Imbo, Tesso, dan Harmoni, yang masih berusia di bawah sepuluh tahun dan sangat rentan terhadap virus EEHv.
Tari ditemukan mati mendadak di camp Elephants Flying Squad SPTN Wilayah I Lubuk Kembang Bunga, Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Rabu (10/9/2025).
Gqjah betina yang lahir pada 31 Agustus 2023 itu, genap berumur dua tahun sepuluh hari. Tari adalah hasil perkawinan antara gajah Lisa dengan gajah liar.
Heru menjelaskan, pada Selasa (9/9/2025) sekitar pukul 07.43 WIB, Tari tampak aktif dan bermain seperti biasa dengan nafsu makan normal, feses baik, dan tanpa tanda kelemasan.
Hanya saja, intensitas menyusu Tari sedikit berkurang dari biasanya. Pada sore hari, sekitar pukul 17.00 WIB, kondisi Tari tetap stabil tanpa menunjukkan gejala sakit.
"Namun, pada Rabu pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, mahout yang bertugas mendapati Tari dalam keadaan berbaring tanpa gerakan. Mahout kemudian menghubungi dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan fisik dan Tari dinyatakan mati," jelas Heru.
Kasus matinya Tari menjadi peringatan keras bagi Balai TNTN dan semua pihak terkait mengenai bahaya besar EEHv yang terus mengancam populasi gajah Sumatera, yang kini statusnya terancam punah. *