|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

SELATPANJANG — Kekhawatiran warga Kepulauan Meranti akhirnya terjawab. Dua santri yang sempat diduga terinfeksi cacar monyet (Monkeypox/Mpox), yakni BS (13) dan ZU (17), dipastikan negatif setelah hasil uji laboratorium dari Kementerian Kesehatan keluar.
Kepastian itu disampaikan langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, dalam konferensi pers yang digelar di Ruang Command Center Dinas Kominfotik, Rabu (24/9/2025). Ia turut didampingi oleh Kepala Dinas Kominfotik, Muhlisin, dan Kepala UPT RSUD Kepulauan Meranti, Muhamad Sardi.
“Alhamdulillah, hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan keduanya negatif monkeypox. Ini menjadi kabar baik bagi masyarakat yang sempat resah,” ujar Ade.
Meski demikian, Dinas Kesehatan tetap memperketat pengawasan di wilayah perbatasan, mengingat Kepulauan Meranti merupakan daerah pesisir yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, sehingga rentan terhadap penyebaran penyakit menular.
Salah satu dari dua santri, BS, meninggal dunia usai dirawat intensif. Setelah dilakukan investigasi epidemiologi dan koordinasi dengan pakar dari Kementerian Kesehatan, BS diketahui menderita varisela (cacar air) yang diperparah oleh penyakit penyerta (komorbid).
“Virus varisela menyerang daya tahan tubuh. Dalam kasus BS, ia mengalami kondisi berat karena memiliki komorbid. Ketika dibawa ke RSUD, keadaannya sudah sangat memburuk,” jelas Ade.
Sementara itu, ZU berhasil melalui masa kritis dan telah dipulangkan ke rumah setelah kondisinya membaik. Pihak Dinas Kesehatan menyatakan tetap melakukan pemantauan terhadap santri tersebut untuk memastikan pemulihan total.
Ade menjelaskan bahwa spesimen kedua santri dikirim melalui Dinas Kesehatan Provinsi Riau ke Laboratorium Biologi Kemenkes di Jakarta pada 20 September 2025. Hasil laboratorium diterima secara lisan pada malam 23 September dan secara tertulis pada pagi harinya.
“Kami mohon maaf karena baru bisa menyampaikan hasil ini hari ini. Ada tahapan pelaporan ke pimpinan yang harus kami lakukan terlebih dahulu,” jelasnya.
Dinas Kesehatan juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, baik pemerintah maupun swasta, yang telah membantu penanganan kasus ini.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah berkontribusi menangani kasus ini dengan cepat dan tepat,” ujar Ade.
Kepanikan warga sempat meningkat setelah beredarnya sebuah video viral yang menampilkan salah satu santri dalam kondisi kesakitan sebelum akhirnya meninggal dunia. Video tersebut menyebar luas di media sosial dan menimbulkan keresahan publik.
Pihak Dinas Kesehatan dan Kominfotik menyayangkan penyebaran video tersebut yang dinilai tidak beretika dan dapat berdampak psikologis pada keluarga serta masyarakat luas.
“Kami harap masyarakat bijak dalam bermedia sosial. Jangan menyebarkan informasi atau video tanpa memikirkan dampaknya,” tegas Muhlisin.
Pengalaman ini menjadi evaluasi penting bagi Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti. Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) telah menyiapkan tim gerak cepat yang siaga 24 jam untuk menghadapi potensi penyebaran penyakit menular.
“Ke depan, kami akan memperkuat sistem respon cepat, termasuk koordinasi lintas sektor. Penanganan penyakit menular harus dilakukan seefektif mungkin,” kata Ade.
Kepala UPT RSUD Kepulauan Meranti, Muhamad Sardi, juga mengimbau masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan jika mengalami gejala penyakit yang mencurigakan.
“Jangan tunggu sampai kondisi parah. Segera ke Puskesmas atau RSUD jika mengalami gejala seperti cacar. Dalam kasus BS, ia dibawa ke RSUD dalam keadaan sangat buruk hingga sulit bernapas,” jelas Sardi.
Dinas Kesehatan memastikan tidak ada penyebaran lanjutan dari kasus ini. Dari hasil penelusuran kontak erat terhadap 23 orang, lima orang mengalami demam dan dua di antaranya menunjukkan gejala varisela. Namun seluruhnya kini telah dinyatakan membaik.
“Tidak ditemukan penambahan kasus baru. Kondisi lima orang yang sempat demam juga sudah pulih,” ujar Ade.
Ade kembali mengingatkan pentingnya Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah pencegahan. Menurutnya, penyakit seperti varisela bisa menular melalui kontak langsung maupun benda yang terkontaminasi.
“Antisipasi terbaik adalah menjaga kebersihan, memperhatikan asupan makanan, dan rutin berolahraga. Semua itu memperkuat daya tahan tubuh,” tutup Ade.*