|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

ROHUL – Program pengabdian kepada masyarakat dari perguruan tinggi kini makin terfokus dan terintegrasi secara langsung dalam mendukung agenda strategis pembangunan nasional, terutama isu krusial Ketahanan Pangan dan percepatan Pencegahan Stunting
Melalui Program Kosabangsa (Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat) Tahun 2025, yang merupakan inisiatif pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), sebuah ekosistem Peternakan Cerdas berbasis teknologi Internet of Things (IoT) secara resmi diimplementasikan dan diserahterimakan di Desa Pasir Intan, Kecamatan Bangun Purba, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, pada 18–19 Oktober 2025. Desa Pasir Intan, yang masuk dalam kriteria sasaran Kosabangsa sebagai wilayah yang membutuhkan pengembangan kapasitas, kini diposisikan sebagai pilot project nasional yang diharapkan dapat direplikasi di daerah lain dengan tantangan serupa.
Keberhasilan program mengukir sejarah sebagai satu-satunya yang lolos pendanaan Kosabangsa 2025 di Provinsi Riau, mencerminkan pengakuan Kemdiktisaintek atas urgensi dan kelengkapan inovasi yang ditawarkan. Program Kosabangsa sendiri didirikan untuk meningkatkan manfaat kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat dengan mendorong kolaborasi antarperguruan tinggi dan penerapan ilmu pengetahuan untuk penyelesaian masalah di masyarakat. Hal ini membuat Pasir Intan—wilayah yang memiliki tantangan kerentanan bencana dan stunting—menjadi lokasi yang sangat strategis.
Program adalah manifestasi sinergi multidimensi antara ahli peternakan dari Universitas Rokania dan kompetensi teknologi dari IBT Pelita Indonesia, didukung kuat oleh Pemerintah Daerah, khususnya Dinas Perkebunan dan Peternakan Rokan Hulu, serta pilar masyarakat, yaitu Kelompok Peternak dan BUMDes. Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat menjadi motor penggerak solusi konkret di lapangan, mengubah tantangan lokal menjadi model pembelajaran nasional.
Dr. Desmelati, M.Sc., Rektor Universitas Rokania, menegaskan bahwa ini adalah bukti nyata komitmen kampus dalam mengaplikasikan Tri Dharma untuk mendukung sasaran pembangunan nasional. Program ini secara langsung mendukung upaya pemerintah dalam menjamin ketersediaan protein hewani yang aman dan berkualitas, esensial untuk program gizi, termasuk rencana program makan bergizi.
Hilirisasi dan Mitigasi Bencana Berbasis IoT
Jiyanto, S.Pt., M.Si., Ketua Pelaksana Program Kosabangsa dari Universitas Rokania, menjelaskan secara rinci bahwa intervensi teknologi ini dirancang melampaui sekadar bantuan fisik, namun mencakup seluruh proses produksi dan rantai nilai dari hulu ke hilir. Tujuannya jelas: meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Jiyanto memaparkan, "Kami menyediakan sebuah ekosistem digital untuk menjamin efisiensi, kualitas, dan mitigasi risiko. Alat yang diserahkan meliputi Timbangan Ternak Digital Berbasis IoT untuk pemantauan pertumbuhan yang presisi, memungkinkan peternak mengambil keputusan berbasis data secara akurat dan cepat." Fitur teknologi ini penting untuk menjaga kualitas hidup masyarakat melalui penerapan inovasi.
Lebih lanjut, Jiyanto menyoroti aspek keselamatan dan ekonomi. "Yang krusial bagi daerah rawan adalah instalasi Alat Pendeteksi Kebakaran kandang yang terhubung dengan sistem peringatan dini, sebuah langkah mitigasi yang vital. Sementara aspek hilirisasi diperkuat dengan peralatan pascapanen modern seperti Alat Pasteurisasi Susu Kambing, Mesin Penggiling Daging, dan Alat Pengering Abon untuk diversifikasi produk bernilai jual tinggi. Seluruh rangkaian produk ini disempurnakan dengan platform digitalisasi pasar melalui Aplikasi Web LaKu (E-Commerce)," tutup Jiyanto, didampingi anggota tim pelaksana Detri Amelia Chandra, S.Kom., M.Kom, dan Danang Saputra, S.Pt., M.Si.
Spektakuler: Zero-Waste melalui Expertise Lokal
Momentum kunci dan paling menginspirasi dalam program ini adalah sesi pelatihan dan penyuluhan terintegrasi yang diberikan oleh Beni S. Wijaya, seorang Pakar Pengolahan Pupuk Alami, Peternakan, dan Pertanian Terintegrasi. Kehadiran Beni S. Wijaya menunjukkan kolaborasi Kosabangsa tidak hanya terbatas pada akademisi, tetapi melibatkan ahli praktis yang relevan.
Beni S. Wijaya memimpin demonstrasi penggunaan Mesin Pembuat Kompos, secara spektakuler mengubah limbah peternakan menjadi pupuk organik berkualitas tinggi. Sesi ini menunjukkan bagaimana sistem peternakan cerdas yang baru diinstal dapat menghasilkan nol limbah, menciptakan siklus ekonomi terpadu (zero-waste) yang sangat efisien dan berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan tujuan Kosabangsa untuk mendorong kemandirian masyarakat dan pengembangan ekonomi lokal.
"Ini adalah demonstrasi nyata bahwa teknologi dan alam dapat bersinergi sempurna. Konsep peternakan cerdas ini tidak hanya menghasilkan protein untuk gizi, tetapi juga kesuburan lahan, menguatkan pilar kedaulatan pangan dari tingkat desa," ujar Beni S. Wijaya. Ia menekankan bahwa inovasi Kosabangsa ini berhasil mendorong penerapan ilmu pengetahuan untuk penyelesaian permasalahan lingkungan dan ekonomi di masyarakat.
Transformasi Kompetensi dan Jaminan Keberlanjutan
Keberlanjutan program dijamin melalui pendampingan intensif oleh tim ahli dari IBT Pelita Indonesia. Dr. Ir. Achmad Tavip Junaedi, MM., Ketua Tim Pendamping, menekankan bahwa keberhasilan Kosabangsa akan diukur dari transformasi kompetensi masyarakat di Pasir Intan.
"Inilah bagian yang paling krusial. Kami, bersama anggota tim Dr. Wilda Susanti, M.Kom., dan Dr. Nicholas Renaldo, M.M., hadir bukan sekadar mentransfer teknologi, tetapi juga menanamkan pola pikir data. Kami berkomitmen penuh dalam memastikan setiap peternak menguasai operasionalisasi teknologi IoT, mampu membaca data sensor, hingga fasih dalam manajemen digital Aplikasi LaKu. Proses pendampingan intensif yang didukung IBT Pelita Indonesia ini dirancang untuk mentransformasi petani tradisional menjadi smart farmers yang melek data," tegas Dr. Tavip. Ia menambahkan bahwa upaya ini meningkatkan kualitas pengabdian kepada masyarakat melalui kolaborasi dan pendampingan, salah satu tujuan utama Kosabangsa.
Dr. Tavip melanjutkan, "Kemampuan masyarakat mengelola teknologi secara mandiri adalah pilar utama kemandirian ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan. Kami melihat potensi besar di Pasir Intan, dan kami memastikan bahwa IBT Pelita Indonesia akan terus mendampingi mereka hingga tujuan ini tercapai. Ini adalah investasi jangka panjang kami dalam pembangunan sumber daya manusia di Rokan Hulu."
Dukungan dari Doni, S.Pt., M.Si., dari Dinas Perkebunan dan Peternakan, memastikan model Peternakan Cerdas ini akan diintegrasikan sebagai best practice dalam kebijakan daerah. "Penerapan Peternakan Cerdas ini sangat strategis dan sejalan penuh dengan upaya modernisasi sektor peternakan di Rokan Hulu," kata Doni.
Suara Masyarakat dan Harapan Program 2026
Di akhir seremoni penyerahan, apresiasi mendalam datang dari pilar-pilar ekonomi dan sosial desa. Suwarlan, perwakilan dari BUMDes Intan Makmur, mengatakan, "Bantuan teknologi hilirisasi ini adalah suntikan modal inovasi terbesar bagi BUMDes. Peralatan ini memungkinkan kami mengelola produk turunan dengan standar kualitas yang lebih tinggi, yang pada gilirannya akan mendongkrak omzet dan memperluas jangkauan pasar BUMDes secara substansial."
Senada dengan itu, Bapak Ngateman, Ketua Kelompok Ternak Margo Utomo, menyampaikan rasa syukur, "Alat-alat ini mengubah cara kami beternak dari tradisional menjadi berbasis data. Kami yakin, produksi protein hewani kami akan meningkat tajam untuk mengatasi masalah gizi dan stunting di desa kami. Ini adalah manfaat Kosabangsa yang langsung kami rasakan."
Surahmat, S.H., Kepala Desa Pasir Intan, menutup dengan menyuarakan harapan jangka panjang. "Atas nama seluruh masyarakat, kami berterima kasih yang setinggi-tingginya kepada Kemdiktisaintek atas revolusi teknologi ini. Harapan kami, pendampingan intensif ini dapat terus dilanjutkan, dan Program Kosabangsa dapat terus hadir dan menjangkau lebih banyak desa di tahun 2026, membawa inovasi yang relevan untuk pembangunan daerah dari pinggiran, menjadikan Pasir Intan model rujukan nasional untuk peningkatan volume produksi dan ekonomi masyarakat," pungkas Surahmat, didukung oleh Hendri S. dari Bank Riau Kepri Syariah yang siap memfasilitasi pembiayaan syariah.*