|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Relik merupakan istilah yang dikenal dalam ajaran agama Buddha. Merupakan sisa tubuh dan jasmani dari orang suci atau seseorang telah mencapai tingkatan tertinggi yang sudah meninggal, sehingga sangat dijaga dan dimuliakan para penganut Agama Buddha.
Pertama kalinya di Riau, Tri Ratna Buddhist Centre Pekanbaru bekerja sama dengan Waki Relic Museum Malaysia menampilkan puluhan relik Buddha dan para siswanya. Acara yang dikemas dalam bentuk pameran sangat menyita penganut Agama Buddha di Bumi Lancang Kuning. Umat yang datang memberi penghormatan untuk mengingat kebajikan agung sang Buddha.
Ketua Panitia Pameran Relik, Aniruddha Tan mengatakan, pameran relik Buddha dan para siswanya terbuka untuk umum berlangsung mulai tanggal 8 hingga 15 November mendatang. Pameran diawali dengan pradaksina mengelilingi Tri Ratna Buddhist Centre, Jumat (7/11). "Bukan hanya untuk menunjukkan rasa hormat kepada Sang Buddha, tetapi kesempatan bagi umat untuk mempraktikkan ajaran Sang Buddha," katanya.
Selama pameran, lanjutnya, umat dapat melhat puluhan relik Buddha dan para siswanya yang telah berumur mulai puluhan tahun. Terdapat juga 2000 Buddharupang dan Bodhisatva rupang serta Kitab Prajna Paramita Hridaya Sutra (Sutra Hati). Hridaya merupakan kata Sangkerta yang berarti hati atau inti. Sutra Hati sangat populer di kalangan umat Buddhis Mahayana dan sering dibaca dalam ritual keagamaan, karena dianggap memiliki kekuatan spiritual yang besar. Kitab sering dipelajari dan diinterpretasikan oleh para ahli Buddhisme karena kedalaman ajarannya.
"Prajna Paramita Hridaya Sutra (Sutra Hati) merupakan kitab Mahayana Buddhisme yang sangat terkenal dan dianggap sebagai salah satu teks Buddhis paling penting. Kitab berisi ajaran Buddha tentang konsep kekosongan (sunyata) dan kesempurnaan kebijaksanaan (prajna paramita)," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Riau, Dr. H. Muliardi, M.Pd. dalam kata sambutannya saat pembukaan pameran relik Buddha memberikan apresiasi dan merasa senang dapat melihat langsung pameran relik Buddha dan para siswanya. Menurutnya, relik memberikan pesan moral bagi generasi yang akan datang. Kemudian mengenang sejarah dan nilai-nilai yang ada dalam Agama Budddha.
Ia berpesan kepada umat Buddha untuk terus menjaga kekompakkan dan kerukunan serta mengamalkan ajaran sang Buddha. Menjadi penyuluh agama yang dibutuhkan umat. "Kita patut berbangga, karena indeks kerukunan beragama di Riau sangat meningkat," pungkasnya.
President Waki Relic Museum Malaysia, Dr Teo Choo Guan mengatakan, Museum Relik Waki didirikan pada 9 Juli 2019 di Kuala Lumpur, Malaysia. Disaksikan Yang Mulia Sayadaw U Kittivara yang dikenal sebagai raja relik. Pada saat itu, beliau menunjuk Museum Relik Waki sebagai pusat relik internasonal untuk melestarikan dan mentasbihkan relik Sang Buddha dan para muridnya.
Hingga saat ini, Museum Relik Waki telah mempersembahkan lebih dari 12 ribu stupa relik di lebih 40 negara, termasuk Amerika Serikat, Eropa, Sri Lanka, India, Indonesia dan Tiongkok. "Seperti pernah disabdakan oleh Yang Mulia Sayadaw bahwa setiap stupa relik adalah seperti cahaya Buddha. Ketika 84 ribu stupa relik tersebar di seluruh dunia, cahaya Buddha akan menerangi setiap sudut dunia.
"Lebih 12 ribu cahaya Buddha ini telah menyinari kuil-kuil di seluruh dunia, seperti pelita yang menerangi kegelapan, penghormatan mendalam hati umat Buddha serta memperkuat keyakinan mereka dalam mengikuti ajaran sang Buddha," tegasnya.
Pembukaan relik Buddha dan para siswanya turut dihadiri Pembimas Buddha Riau Wiryanto, Ketua LPTG Riau Sidharta dan Ketua atau perwakilan majelis Agama Buddha di Pekanbaru.*