|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Jalan Gajah Mada, Kota Pekanbaru, Minggu (11/1/2026), berubah menjadi panggung budaya kolosal. Sebanyak 6.000 penari menampilkan Tari Zapin Massal, sebuah perhelatan budaya yang bukan hanya memukau ribuan pasang mata, tetapi juga resmi ditetapkan sebagai Rekor Dunia, sekaligus mengharumkan nama Provinsi Riau di tingkat internasional.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Riau mengusung tema "Bersatu Dalam Gerak Zapin, Lestarikan Budaya Melayu". Ribuan penari bergerak serempak mengikuti irama marwas dan gambus, menciptakan harmoni yang merepresentasikan kekompakan dan identitas Melayu yang kuat.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya atas suksesnya kegiatan tersebut. Menurutnya, pencapaian ini menjadi bukti bahwa Riau mampu melangkah maju tanpa meninggalkan akar budaya.
"Riau memilih untuk maju tanpa tercerabut dari akar budaya. Berkembang tanpa meninggalkan nilai, dan membangun tanpa mengorbankan jati diri," ujar SF Hariyanto.
Ia menegaskan, Tari Zapin bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan refleksi nilai-nilai luhur masyarakat Melayu seperti disiplin, kebersamaan, adab, dan keharmonisan hidup. Setiap langkah yang ditarikan secara serempak mencerminkan filosofi bahwa kebersamaan lebih utama daripada menonjolkan diri.
Selain gerak tari, perhatian juga tertuju pada busana kebaya labuh kekek yang dikenakan para penari perempuan. Menurut SF Hariyanto, busana tersebut adalah simbol kehormatan dan marwah perempuan Melayu Riau.
"Di saat dunia berlomba-lomba menampilkan kebebasan tanpa batas, perempuan Melayu Riau justru menunjukkan bahwa kehormatan adalah kekuatan, bukan kelemahan," katanya.
Pemerintah Provinsi Riau, lanjutnya, berkomitmen menjadikan budaya Melayu sebagai bagian hidup masyarakat, bukan sekadar tampil dalam acara seremonial. Perempuan Melayu akan terus didorong menjadi garda terdepan dalam menjaga dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Hal menarik lainnya, seluruh rangkaian kegiatan Tari Zapin Massal ini tidak menggunakan dana APBD. SF Hariyanto memberikan apresiasi tinggi kepada BKOW Riau atas dedikasi dan kemandirian dalam menyukseskan acara berskala besar tersebut.
"Ini adalah bentuk pengabdian yang lahir dari kecintaan terhadap budaya, bukan sekadar menjalankan tugas administratif," ujarnya.
Bagi Pemerintah Provinsi Riau, pencapaian rekor dunia ini bukanlah akhir, melainkan awal dari gerakan pelestarian budaya yang lebih luas dan berkelanjutan. Angka 6.000 penari menjadi simbol kuat bahwa Riau menjaga warisan leluhurnya dengan sungguh-sungguh, bermartabat, dan penuh kebersamaan.
SF Hariyanto pun mengajak seluruh masyarakat untuk terus merawat dan menghidupkan tradisi Melayu agar tetap relevan di tengah arus modernisasi.
"Zapin akan terus menari di Bumi Lancang Kuning, mengingatkan kita bahwa di setiap langkah, ada doa dan nilai leluhur yang menuntun masa depan," pungkasnya.*