|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

TELUKKUANTAN – Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) di bawah kepemimpinan Bupati Dr. Suhardiman Ambi, Ak, MM menegaskan komitmennya dalam menata daerah, khususnya dalam memperkuat kerukunan kebangsaan dan memajukan sektor pariwisata melalui tradisi ikonik Pacu Jalur. Hal ini mengemuka saat Bupati Suhardiman menerima kunjungan kerja (Kunker) Tim Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi Riau di Kuansing.
Tim kunker FPK Riau dipimpin langsung Ketua Umum FPK Riau Dr. Ramli Walid (Melayu Inhil), Wakil Ketua FPK Riau Fakhrunnas MA Jabbar (Melayu Kampar), Koordinator Perencanaan T. Iskandar Johan (Aceh,), Wakil Ketua FPK Riau Widodo (Jawa) serta Koordinator Bidang FPK Riau Dowait Panjaitan (Batak).
Selain itu, hadir pengurus FPK Kuansing, di antaranya Waket FPK Kuansing Oop Subhan, dan Sekretaris, Heru AS.
Dalam sambutannya, Bupati Suhardiman Ambi yang bergelar Datuk Panglimo Dalam menyatakan bahwa Kuansing, dengan luas sekitar 537.000 hektare, merupakan rumah bagi berbagai suku seperti Melayu (dominan 67%), Jawa, Batak, Minang, dan Bugis, serta beragam agama. "Kami di sini telah mencapai mufakat untuk hidup rukun. Perda Lokal menjadi urat tunggang (dasar kuat) dari kehidupan harmonis ini," tegas Bupati.
Bupati menyoroti Pacu Jalur sebagai simbol gotong royong dan pemersatu, yang kini menjadi daya tarik wisatawan, apalagi dengan adanya figur baru seperti Rayyan Dhika yang menambah gaung tradisi ini. Ia mengungkapkan optimismenya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan yang kini mencapai 2 juta, dengan harapan dapat diselenggarakan hingga 6 kali setahun, bukan hanya fokus pada acara puncak (24 Agustus) dan eksibisi (21-23 Agustus) seperti yang saat ini diselenggarakan bersamaan dengan MTQ Provinsi.
Bupati juga mengemukakan upaya penataan kota agar lebih rapi, termasuk merubuhkan gedung tua, menata lokasi, dan membatasi penyakit masyarakat, sambil menunggu pengesahan Perda MAA (Masyarakat Adat Melayu).
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kaban Kesbangpol) Kuansing, Muhjelan, melaporkan capaian Kuansing, termasuk tingkat partisipasi Pemilu tertinggi di Sumatera dan peringkat utama Indeks Kerukunan Beragama (IK Beragama) di Riau pada tahun 2024.
Muhjelan menambahkan bahwa untuk mendorong pembauran, pihaknya memberikan dukungan bagi pentas seni paguyuban dengan anggaran 10-15 juta per paguyuban dan subsidi 3-4 juta. Ke depan, Kesbangpol Kuansing akan memfokuskan program pada giat pembauran bagi generasi muda guna membentuk karakter kebersamaan, salah satunya melalui acara di sekolah FPK, serta menjadwalkan Pawai Bhinneka Kuansing.
Ketua Umum FPK Riau, Dr. Ramli Walid, M.Si, menyambut baik situasi Kuansing yang kondusif.
"Kehadiran kami adalah silaturahim. Indonesia beragam suku dan bahasa, ini adalah potensi bila dirawat," ujar Ramli.
Ia menekankan bahwa kerukunan adalah 'Social Capital' yang penting bagi pembangunan, selain SDM, SDA, dan SD Buatan (infrastruktur). Ditambahkan, FPK Riau membawahi 80 paguyuban dan menegaskan Riau sangat terbuka, di mana Melayu tidak menolak pendatang.
Wakil Ketua FPK Kuansing, Oop Subhan menyebutkan FPK Kuansing kini didukung penuh oleh Bupati Suhardiman Ambi dan telah mendapatkan Dana Hibah setelah tiga tahun terakhir berjuang untuk tampil, mencakup 11 paguyuban yang semua etnis akan tampil.
Sekretaris FPK, Heru AS, menambahkan, anggaran akan dialokasikan untuk kegiatan sosial, termasuk rencana pembentukan pengurus FPK di tingkat desa dan kecamatan.
Sementara itu, Asisten I Pemerintah Setkab Kuansing, Rahdiansyah, memastikan tidak ada potensi konflik berarti di Kuansing, bahkan pada tahun politik yang dikategorikan zona merah. Ia menyinggung jajaran pemerintah dan Forkopimda yang juga terdiri dari beragam suku.
Rahdiansyah memberikan masukan penting, yakni perlunya perubahan sirkulasi terkait swasta/perusahaan dan penanganan status gizi kurang baik pada pendatang agar tidak memengaruhi wajah kabupaten, serta perlunya program sosial yang mengayomi.
Rapat berlangsung hangat, penuh silaturahim, dan ditutup dengan komitmen bersama untuk merangkai seluruh kekuatan lintas etnis sebagai percontohan pembauran kebangsaan di Provinsi Riau. Turut berbagi gagasan dan pemikiran dari pihak FPK antara lain Fakhrunnas MA Jabbar yang menjelaskan sekilas perkembangan FPK dan T. Iskandar Johan menceritakan peran paguyuban Aceh di Riau.
Usai acara, Fakhrunnas yang juga sastrawan Riau menyerahkan buku puisi Airmata Batu kepada Bupati Suhardiman.
Sementara Bupati menghadiahkan buku Pacu Jalur kepada Ketum FPK, Dr. Ramli dan seluruh anggota tim Kunker usai dijamu makan siang bersama di sebuah rumah makan.*