|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

WASHINGTON - PBB memandang tindakan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela sebagai hal yang mengkhawatirkan. Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan, serangan itu dapat menciptakan "preseden berbahaya".
"Terlepas dari situasi di Venezuela, sederet perkembangan ini merupakan preseden yang berbahaya. Sekretaris Jenderal terus menekankan pentingnya penghormatan penuh - oleh semua pihak - terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB," kata Dujarric melalui pernyataan, Sabtu (3/1/2026).
Menurutnya, Sekjen Antonio Guterres sangat prihatin bahwa aturan hukum internasional tidak dihormati. Disebutkan bahwa pimpinan PBB itu "sangat prihatin dengan eskalasi baru-baru ini di Venezuela" sekaligus memperingatkan "potensi implikasi yang mengkhawatirkan bagi kawasan tersebut".
Guterres mendesak semua pihak di Venezuela untuk terlibat dalam dialog inklusif, dengan menghormati secara penuh hak asasi manusia (HAM) dan supremasi hukum, demikian menurut pernyataan tersebut.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro terancam hukuman empat kali penjara seumur hidup dalam dakwaan pidana yang diajukan di Amerika Serikat, menurut dokumen pengadilan. Pada Maret 2020, Maduro dan sejumlah pihak yang diduga bersekongkol dengannya didakwa dalam empat perkara.
Dakwaan itu meliputi konspirasi terkait narkoterorisme, penyelundupan kokain ke Amerika Serikat, penggunaan dan kepemilikan senapan mesin dan alat peledak dalam kegiatan narkoterorisme. Selain itu, Maduro juga didakwa bersekongkol memiliki dan menggunakan senjata serta alat peledak tersebut. Masing-masing dakwaan itu memiliki hukuman maksimal penjara seumur hidup.
Sebelumnya pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pasukannya telah melancarkan serangan skala besar ke Venezuela. Trump juga mengumumkan bahwa Maduro dan istrinya telah ditangkap dan dibawa ke luar Venezuela.*