Jan 2026
11

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Kekecewaan yang Berlarut di Ijen: Kala Kebun Kopi Negara Rusak, Rasa Aman Pekerja Ikut Tercabut
nasional | Selasa, 6 Januari 2026 | 20:34:01 WIB
Editor : wislysusanto | Penulis : rls

BONDOWOSO - Di lereng Ijen yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu penghasil kopi arabika terbaik Indonesia, kegelisahan justru tumbuh subur. Bukan karena cuaca atau harga pasar, melainkan akibat konflik lahan yang tak kunjung selesai. Bagi ribuan pekerja Perkebunan Nusantara, kebun kopi bukan sekadar hamparan tanaman, tetapi sumber penghidupan, ruang hidup, sekaligus masa depan keluarga mereka.

Selasa (6/1), kegelisahan itu memuncak. Ribuan pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja Perkebunan Nusantara XII (SPBUN NXII) mendatangi Kantor Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Dengan aksi damai, mereka menyuarakan kekecewaan atas konflik berkepanjangan di kawasan Kebun Java Coffee Estate (JCE) dan Kebun Blawan, kawasan perkebunan kopi negara di bawah pengelolaan PTPN yang berada di sekitar Ijen.

Aksi tersebut bukan sekadar tuntutan normatif. Ia menjadi potret kelelahan psikologis para pekerja yang sejak September 2023 bekerja dalam bayang-bayang ketidakpastian hukum, intimidasi, dan ancaman keselamatan.

Baca :

“Kami hanya ingin bekerja dengan tenang,” kata Ketua SPBUN NXII, Bramantyo, di hadapan massa. “Konflik ini sudah terlalu lama dibiarkan. Dampaknya kami rasakan setiap hari, bukan hanya pada pekerjaan, tetapi juga pada keluarga kami.”

Kebun Rusak, Rasa Aman Hilang
Data internal perusahaan menunjukkan skala kerusakan yang tidak kecil. Sejak konflik mencuat pada 2023 hingga akhir 2025, tercatat sekitar 237.605 pohon kopi produktif di lahan seluas kurang lebih 170 hektar rusak akibat penebangan dan perusakan ilegal. Total kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp 13,5 miliar.

Angka itu bukan sekadar statistik. Bagi pekerja kebun, setiap pohon kopi yang ditebang berarti berkurangnya jam kerja, ancaman terhadap keberlanjutan produksi, dan pada akhirnya, ketidakpastian pendapatan. Di kawasan Ijen–Blawan, satu keluarga bisa bergantung sepenuhnya pada siklus panen kopi yang berlangsung setahun sekali.

Situasi memburuk sepanjang 2025. Setelah sempat mereda, aksi perusakan kembali terjadi dengan skala lebih masif dan terorganisir. Puluhan ribu pohon kopi ditebang dalam rentang Oktober hingga Desember. Akses menuju sejumlah afdeling ditutup dengan portal kayu, posko-posko ilegal bermunculan, dan mobilitas pekerja semakin terbatas.

“Berangkat kerja sekarang bukan hanya soal target produksi, tapi juga rasa takut,” ujar seorang pekerja yang ikut aksi, enggan disebutkan namanya. Ia mengaku istrinya kerap cemas setiap kali ia berangkat pagi-pagi ke kebun. “Anak-anak kami ikut merasakan. Mereka mendengar cerita ancaman, perusakan rumah dinas. Ini sudah jadi trauma kolektif.”

Konflik Agraria yang Membeku
Kawasan Java Coffee Estate dan Blawan bukan wilayah sembarangan. Selain menjadi tulang punggung ekonomi lokal, kawasan ini juga masuk dalam ekosistem kopi Ijen-Raung yang dikenal secara internasional. Kopi arabika dari wilayah ini diekspor dan menjadi bagian dari reputasi kopi Indonesia di pasar dunia.

Namun, konflik agraria yang berlarut-larut membuat potensi itu tergerus. Pekerja menilai negara absen dalam memastikan penegakan hukum atas lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang dikelola PTPN. Padahal, menurut mereka, konflik telah menjurus pada perusakan aset negara dan ancaman nyata terhadap keselamatan warga.

Dalam tuntutannya, SPBUN NXII meminta Bupati Bondowoso mengambil peran aktif memimpin penegakan hukum yang tegas dan adil. Mereka juga mendorong pembentukan tim investigasi independen untuk mengusut tuntas perusakan kebun, intimidasi, dan ancaman yang terjadi tanpa intervensi kepentingan apa pun.

“Ini bukan soal membela perusahaan semata,” kata Bramantyo. “Ini soal keberlanjutan kerja ribuan keluarga dan wibawa hukum negara.”

Drama Sosial di Balik Hamparan Kopi
Di balik hijau kebun kopi Ijen, drama sosial itu berlangsung senyap. Rumah-rumah dinas yang rusak, jalan kebun yang dipalang, dan rasa waswas yang mengendap di benak pekerja menjadi keseharian baru. Konflik yang dibiarkan membeku tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga merapuhkan tatanan sosial di komunitas perkebunan.

Bagi para pekerja, aksi damai ini adalah seruan terakhir agar negara hadir. Mereka tidak menuntut keistimewaan, melainkan kepastian: bahwa hukum ditegakkan, keamanan dijamin, dan mereka bisa kembali bekerja dengan martabat.

“Yang kami minta sederhana,” ujar seorang pekerja perempuan sambil menggendong anaknya di sela aksi. “Kami ingin kebun ini kembali aman. Supaya suami kami pulang kerja tanpa rasa takut, dan anak-anak kami punya masa depan.”

Di Ijen, kopi memang tumbuh dari tanah vulkanik yang subur. Namun, tanpa kehadiran negara dan kepastian hukum, yang tumbuh hari ini justru kekecewaan—dan luka sosial yang kian dalam.*
 

Terbaru
sportainment
Piala FA, Man City Pesta 10 Gol ke Gawang Exeter City
Minggu, 11 Januari 2026 | 07:50:00 WIB
bengkalis
SDN 2 Bantan Gelar Sosialisasi Sekolah Adiwiyata di SMPN 5
Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:32:39 WIB
dunia
Israel Rutin Bunuh Anak-anak Gaza dan Langgar Gencatan Senjata
Sabtu, 10 Januari 2026 | 14:04:55 WIB
etalase
Kampus Berdampak: FMIPA UNRI Wujudkan SDGs Melalui Kukerta 2026
Jumat, 9 Januari 2026 | 17:12:03 WIB
potensa
Liburan Natal dan Tahun Baru 2026, Trafik Data XLSMART Naik
Jumat, 9 Januari 2026 | 10:53:27 WIB
etalase
Tutup Buku Tahun 2025, Dana Tabungan BRK Syariah Tumbuh 7 Persen
Jumat, 9 Januari 2026 | 08:15:19 WIB
politik
Pilkada Tak Langsung Jadi Ancaman Demokrasi Lokal
Kamis, 8 Januari 2026 | 20:27:09 WIB
华 闻
PSMTI Riau Bantu Korban Bencana di Solok...
Selasa, 30 Desember 2025 | 01:17:57 WIB
Aklamasi, Zainal Arif Terpilih Jadi Ketua PSMTI...
Senin, 29 Desember 2025 | 14:12:33 WIB
Artikel Popular
1
2
3
politik
Pilkada Tak Langsung Jadi Ancaman Demokrasi...
Kamis, 8 Januari 2026 | 20:27:09 WIB
hukum