|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU – Langit Pekanbaru sejak pagi tidak bersahabat. Hujan deras mengguyur tanpa jeda, membasahi halaman Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Pekanbaru, Rabu (6/5/2026).
Namun cuaca buruk itu tidak sepenuhnya mampu menghalau langkah-langkah yang terus berdatangan ke area pengadilan. Di antara derasnya hujan, simpatisan Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid tetap bertahan.
Dengan payung seadanya dan jas hujan yang menempel di tubuh, mereka memenuhi halaman hingga sisi-sisi luar gedung pengadilan. Sebagian lainnya terus bergerak mendekat, seolah hujan justru tidak menjadi penghalang.
Suasana di depan PN Pekanbaru perlahan berubah menjadi ruang ekspresi terbuka. Suara dukungan bersahut-sahutan di antara riuh hujan yang jatuh ke aspal.
“Bebaskan Wahid, Wahid tak salah,” teriak sejumlah simpatisan berulang kali, mengiringi jalannya persidangan yang tengah berlangsung di dalam gedung.
Momen yang paling mencuri perhatian terjadi ketika Abdul Wahid tiba di lokasi. Di tengah kerumunan dan hujan yang belum reda, beberapa simpatisan tampak sigap mendekat, bahkan memayunginya menuju area pengadilan.
Adegan itu berlangsung singkat, namun cukup menjadi penanda kuatnya keterikatan emosional di antara pendukungnya.
Di dalam ruang sidang, suasana tak kalah padat. Kursi pengunjung terisi penuh bahkan sebelum majelis hakim memasuki ruang sidang.
Sejumlah warga terlihat berdiri di sisi ruangan untuk mengikuti jalannya persidangan dari dekat.
Di tengah keramaian itu, seorang simpatisan perempuan paruh baya menyampaikan pandangannya dengan suara mantap.
Ia menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan bagian dari mobilisasi, melainkan bentuk keyakinan pribadi.
“Kami bukan massa bayaran,” ujarnya singkat.
Baginya, kehadiran di PN Pekanbaru adalah bentuk harapan agar proses hukum berjalan adil. Keyakinan itu, katanya, menjadi alasan untuk tetap bertahan di bawah hujan yang tak kunjung reda.
Hingga persidangan berlangsung, hujan masih mengguyur kota. Namun di halaman pengadilan, suara-suara dukungan tetap hidup, bercampur dengan gemuruh air hujan yang seolah menjadi latar dari sebuah loyalitas.*